Iran mengakui salah satu fasilitas nuklirnya terkena serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Minggu (1/3) waktu setempat. Belum diketahui seberapa besar kerusakan akibat serangan itu dan apakah ada dampak bahaya untuk masyarakat.
Hal tersebut, seperti dilansir Reuters dan Al Jazeera, Senin (2/3/2/2026), disampaikan oleh Duta Besar Iran untuk badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Reza Najafi, dalam pertemuan dewan gubernur IAEA yang beranggotakan 35 negara.
"Mereka kembali menyerang fasilitas nuklir Iran yang damai dan dilindungi kemarin," kata Najafi kepada wartawan yang hadir dalam forum IAEA tersebut.
Ketika ditanya oleh wartawan soal fasilitas nuklir yang mana yang terkena serangan, Najafi menjawab: "Natanz."
Namun, tidak dijelaskan lebih lanjut oleh Najafi soal kerusakan akibat serangan terbaru AS dan Israel tersebut.
Ini menjadi kedua kalinya Natanz dihantam serangan udara. Selama perang 12 hari pada Juni tahun lalu, Natanz merupakan salah satu dari tiga fasilitas nuklir Iran -- selain Fordow dan Isfahan -- yang dihantam pengeboman AS dan Israel.
Fasilitas nuklir Natanz terletak sekitar 250 kilometer di selatan Teheran dan dikenal sebagai kompleks pengayaan uranium terbesar di Iran.
Menurut para analis, Natanz digunakan untuk merakit dan mengembangkan sentrifugal yang berfungsi mengubah uranium menjadi bahan bakar nuklir.
(nvc/ita)





