FAJAR, SURABAYA — Stadion Gelora Bung Tomo bersiap menyambut salah satu laga paling emosional bagi Bernardo Tavares. Pertandingan melawan Persib Bandung bukan sekadar duel perebutan poin, melainkan juga pertemuan dengan bayangan masa lalu yang belum sepenuhnya ia taklukkan.
Saat masih menukangi PSM Makassar, Tavares beberapa kali berhadapan dengan Bojan Hodak. Hasilnya tidak pernah benar-benar berpihak kepadanya. Kini, sebagai pelatih Persebaya Surabaya, ia mendapat kesempatan baru untuk menulis ulang cerita yang sama—dengan warna berbeda.
Namun momentum itu datang di tengah situasi yang tidak ideal.
Persebaya menjalani jadwal padat dalam beberapa pekan terakhir. Setelah menghadapi Bhayangkara FC dan Persijap Jepara, Green Force langsung dihadapkan pada duel berat melawan PSM Makassar sebelum kini menjamu Persib Bandung. Ritme pertandingan yang rapat memaksa tim pelatih bekerja lebih keras menjaga kondisi fisik sekaligus stabilitas mental pemain.
Bagi Tavares, tantangan terbesar bukan sekadar taktik, melainkan bagaimana mempertahankan intensitas permainan.
“Tidak mudah menjaga intensitas selama 90 menit penuh. Tapi kami percaya bisa mempertahankannya setidaknya 40 sampai 45 menit dengan konsistensi dan fokus,” ujarnya, mencoba realistis membaca kondisi timnya.
Pernyataan itu menggambarkan pendekatan khas pelatih asal Portugal tersebut: pragmatis, tetapi tetap berorientasi pada kontrol permainan.
Ia menekankan keseimbangan sebagai fondasi utama. Persebaya tidak boleh terlalu terbuka saat menyerang, tetapi juga tidak boleh kehilangan keberanian untuk menekan. Dalam sepak bola modern, menurutnya, pertandingan besar sering kali ditentukan oleh detail kecil—satu kesalahan posisi, satu momen kehilangan konsentrasi, atau satu keputusan terlambat.
Dan melawan Persib, kesalahan kecil hampir selalu berujung hukuman.
Tavares menyadari betul kualitas lawan yang akan dihadapinya. Persib datang sebagai tim dengan struktur permainan matang dan kedalaman skuad yang merata. Mereka mampu bertahan dengan disiplin sekaligus menyerang secara efisien—kombinasi yang membuat banyak tim kesulitan.
“Jika kami melakukan kesalahan, mereka bisa menghukum,” katanya singkat, seolah merangkum ancaman terbesar dari tim tamu.
Karena itu, sesi latihan terakhir Persebaya lebih banyak difokuskan pada transisi permainan: bagaimana bereaksi cepat saat kehilangan bola dan bagaimana kembali ke bentuk pertahanan tanpa panik. Bagi Tavares, kebugaran fisik tidak cukup jika pemain kehilangan kejernihan berpikir di bawah tekanan pertandingan.
Di sinilah peran Stadion Gelora Bung Tomo menjadi penting.
Atmosfer tribun yang dipenuhi Bonek dan Bonita kerap menjadi energi tambahan bagi Persebaya. Dukungan suporter bukan hanya elemen emosional, tetapi juga faktor psikologis yang dapat mengangkat intensitas permainan ketika stamina mulai menurun.
“Ini laga besar melawan tim juara. Kami berharap stadion penuh,” kata Tavares.
Harapan itu bukan tanpa alasan. Dalam pertandingan dengan tensi tinggi, energi kolektif stadion sering kali mampu mengubah arah pertandingan yang tampak buntu.
Duel melawan Persib pada akhirnya bukan hanya soal strategi dua pelatih dengan filosofi berbeda. Ini juga tentang kesiapan mental menghadapi tekanan—tentang siapa yang mampu tetap tenang ketika ritme pertandingan meningkat dan ruang semakin sempit.
Bagi Bernardo Tavares, laga ini menyimpan makna pribadi: kesempatan mematahkan catatan yang selama ini belum berpihak kepadanya saat berhadapan dengan Bojan Hodak.
Sementara bagi Persebaya, pertandingan ini adalah ujian kedewasaan tim yang sedang berusaha menemukan identitas baru di bawah pelatih baru.
Ketika peluit awal berbunyi, statistik masa lalu tidak lagi menentukan. Yang tersisa hanyalah keberanian mengambil risiko, disiplin menjaga detail, dan kemampuan bertahan hingga menit terakhir.
Dan di stadion yang dikenal bising serta emosional itu, kejutan selalu memiliki peluang untuk lahir.





