Kawasan perbukitan Patiayam di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, pernah ditemukan fosil manusia purba. Bukti riil berupa fosil tengkorak manusia purba beserta artefak, sebagiannya masih disimpan di Museum Situs Purbakala Patiayam.
Dalam buku berjudul "Merangkai Kekayaan Situs Patiayam" yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dijelaskan tentang manusia purba di kawasan perbukitan Patiayam.
Dijelaskan dalam buku tersebut, penelitian dalam rangka mencari jejak peninggalan manusia purba di Patiayam sudah dimulai sejak tahun 1978. Hal itu diawali dengan Proyek Penelitian dan Penggalian Purbakala Daerah Istimewa Yogyakarta.
Penelitian tahun 1978 berjudul "Penelitian Paleoantropologi Sekitar Gunung Patiayam Kudus-Pati, Jawa Tengah" (Moelyadi dan Sutarno, 1978). Penelitian itu berfokus untuk mencari data paleoantropologi dan geologi di sekitar Pegunungan Patiayam.
Meskipun dalam penelitian tersebut belum ditemukan fosil hominid, peneliti dapat mengumpulkan data lapisan tanah dan fosil vertebrata lain yang berguna untuk penelitian selanjutnya.
Pada tahun yang sama, Sartono dan beberapa peneliti dari Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional (sekarang Pusat Penelitian Arkeologi Nasional) melakukan penelitian untuk mengetahui sedimentasi di daerah Patiayam.
Dalam penelitian tersebut dilaporkan adanya temuan premolar (geraham) di sekitar Desa Kancilan (Sartono dkk., 1978: 6). Beberapa fragmen tengkorak Homo erectus juga dilaporkan ditemukan oleh Yahdi Zaim di lapisan lanau tufaan di Formasi Slumprit pada tahun 1977 dan 1978 (Zaim, 2010).
Ari Mustaqim, edukator Museum Situs Purbakala Patiayam, menyampaikan bahwa dahulu pernah ada kehidupan manusia purba di kawasan Patiayam. Jumlahnya diperkirakan tidak terlalu banyak, yakni sekitar lima sampai sepuluh individu.
Kehidupan manusia purba itu disinyalir terjadi antara 700 ribu hingga 1,5 juta tahun lalu. Fakta itu diperkuat dengan adanya temuan pecahan tengkorak manusia purba yang terbagi menjadi empat bagian pada tahun 1978. Selain itu, ditemukan pula gigi geraham manusia purba.
Lokasi temuannya berada di Bukit Slumprit, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Lokasi tersebut berjarak 1,5 kilometer dari Museum Situs Purbakala Patiayam.
"Temuan itu diteliti oleh Profesor Sartono dan Profesor Zaim. Saat ini fosil tengkorak manusia purba yang pecah menjadi empat bagian disimpan di Institut Teknologi Bandung sejak 1979," katanya saat ditemui kumparan di museum, Senin (2/3).
Sementara itu, artefak manusia purba masih disimpan di Museum Situs Purbakala Patiayam. Koleksi tersebut berupa artefak dari batu dan tulang yang digunakan untuk berburu dan mengolah makanan.
"Temuan artefak itu juga memperkuat fakta bahwa manusia purba pernah ada di Patiayam," sambungnya.
Artefak tersebut berupa kapak penetak, kapak perimbas, dan bola batu. Alat-alat itu digunakan untuk menguliti binatang buruan, sedangkan bola batu digunakan untuk melempari hewan. Artefak dari tulang digunakan untuk menusuk daging hewan buruan dan menggali umbi-umbian.
"Selama hidup, manusia purba menghabiskan waktunya untuk berburu. Terkait kematian mereka di Patiayam, bisa jadi diakibatkan oleh letusan Gunung Muria dan Gunung Patiayam. Selain itu, bisa juga akibat kecelakaan saat berburu," terangnya.
Koleksi Gajah PurbaSelain memiliki koleksi artefak manusia purba, Museum Situs Purbakala Patiayam juga memiliki koleksi fosil gajah purba. Fosil ini menjadi yang paling banyak di museum.
Data yang dihimpun kumparan menyebutkan, Museum Situs Purbakala Patiayam memiliki 10.600 fragmen atau bagian anatomi tubuh hewan. Dari total tersebut, sebanyak 5.000 di antaranya merupakan fragmen fosil gajah purba.
Jumlah fosil yang dapat dipajang sebanyak 300 fragmen. Sebanyak 300 fragmen tersebut menyesuaikan kapasitas area lantai 1 museum.
Sementara itu, Museum Situs Purbakala Patiayam memiliki koleksi 17 spesies, yakni gajah, banteng, kerbau, sapi, rusa, badak, dan kuda nil.
Selain itu, terdapat spesies hewan laut seperti keong, buaya muara, buaya rawa, dan kura-kura. Ada pula serigala, landak, kerang, bulus, santeng (rusa berkepala banteng), dan kelinci.
"Fosil terbanyak berupa gajah. Ada yang berjenis Stegodon trigonocephalus dan gajah Elephas. Temuan terbanyak ada di Desa Terban. Sisanya di Desa Tanjungrejo, Klaling, dan Gondoharum," terangnya.
Ari Mustaqim menjelaskan bahwa dahulu kawasan Patiayam merupakan Selat Muria. Namun, karena aktivitas letusan Gunung Api Muria dan Gunung Patiayam, material lumpur hasil letusan membentuk rawa-rawa dan savana hingga akhirnya menjadi daratan.
"Gajah purba akhirnya bermigrasi melalui daratan tersebut, dari Benua Afrika ke Benua Asia, hingga akhirnya sampai di Patiayam. Pada akhirnya, mereka juga terdampak letusan Gunung Api Muria dan Gunung Patiayam hingga tertimbun di kawasan ini," ujarnya.
Gading Gajah Ditawar Kolektor Rp 1 MiliarMenjadi edukator di Museum Situs Purbakala Patiayam yang mengurus puluhan ribu fosil, diakui Ari Mustaqim, tidak lepas dari godaan. Ia pernah diiming-imingi kolektor uang senilai Rp 1 miliar untuk menjual gading gajah Stegodon sepanjang tiga meter pada tahun 2010.
"Saya dan teman-teman yang peduli dengan fosil menolak permintaan kolektor dari Jawa Timur itu. Alasannya, nanti anak cucu tidak bisa melihat lagi gading gajah Stegodon tersebut. Selain itu, uangnya juga tidak berkah," tegasnya.
Kini, ia dan rekan-rekannya masih terus merawat fosil di museum. Ia berharap ke depannya masyarakat bisa mendapatkan banyak informasi seputar fosil dengan mengunjungi Museum Situs Purbakala Patiayam.
Diketahui, Museum Situs Purbakala Patiayam kini memiliki dua bangunan, yakni gedung utara dan gedung selatan. Lantai 1 digunakan untuk memajang fosil, sedangkan lantai 2 merupakan ruang konservasi.
Jumlah pengunjung museum dalam sebulan rata-rata berkisar 1.700 hingga 2.000 orang. Pada momen Ramadan, museum buka setiap hari pukul 08.00 WIB sampai 14.00 WIB.
"Kalau bukan momen Ramadan, museum buka pukul 08.00 WIB sampai 15.00 WIB," imbuhnya.
Sementara itu, salah seorang pengunjung asal Kabupaten Pati, Marzah, mengagumi koleksi yang terdapat di Museum Situs Purbakala Patiayam. Ia sudah berkunjung beberapa kali ke museum yang berada di Desa Terban tersebut.
"Banyak koleksi menarik, terutama fosil-fosil gajah yang besar," ucapnya.
Apresiasi juga datang dari pengunjung asal Kabupaten Pati, Mega. Ia kagum dengan banyaknya koleksi hewan purba.
"Koleksinya banyak, terutama fosil gajah. Selain itu, museumnya juga bersih dan rapi," imbuhnya.




