ALFI: Konflik Iran–AS Bisa Dongkrak Biaya Logistik Global Lebih dari 30%

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) memprediksi lonjakan biaya logistik global hingga 30% imbas konflik Iran dengan AS yang menyebabkan penutupan Selat Hormuz.

Sekretaris Jenderal ALFI Trismawan Sanjaya mengungkapkan, kondisi harga minyak dunia yang sudah meningkat signifikan sebesar 8%—13% segera berdampak pada biaya logistik global.

Eskalasi konflik telah membuat banyak jalur pelayaran utama ditutup dan membuat kapal mencari rute alternatif dan memerlukan waktu hingga 20 hari lebih lama. Belum lagi biaya asuransi kargo dan war risk surcharge meningkat tajam.

“Kalau konflik berkepanjangan, biaya logistik global dapat mengalami kenaikan signifikan secara kumulatif, kemungkinan lebih dari 30% total biaya dibandingkan periode sebelum konflik,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (2/3/2026). 

Biaya logistik berpotensi melonjak lebih tinggi lagi, tergantung durasi, rute pengalihan, dan harga energi.

Secara umum, logistik global terganggu secara signifikan akibat penutupan Selat Hormuz—yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Terlebih, sebagian besar distribusi minyak mentah melalui selat tersebut.

Baca Juga

  • Krisis Selat Hormuz: Saham Emiten Logistik-Energi Siap Melaju
  • Efek Perang Iran vs AS-Israel: Sektor Logistik & Perdagangan RI Terancam
  • Jusuf Kalla: Harga Minyak Naik dan Logistik Bisa Terganggu akibat Perang AS-Israel vs Iran

Menimbang kondisi terganggunya jalur distribusi ekspor minyak mentah dari Iran dan Timur Tengah tersebut, Trismawan memprediksi hal tersebut akan menimbulkan kenaikan harga yang diakibatkan terganggunya distribusi minyak mentah.

Dengan demikian, dapat memicu inflasi global yang berdampak terhadap keseimbangan supply/demand pada perdagangan komoditas global maupun pasokan bahan baku industri manufaktur di negara berkembang, seperti Indonesia.

“Hal ini dapat menjadikan pemicu inflasi tinggi jika tidak segera diantisipasi oleh kebijakan pemerintah yang tepat,” tambahnya.

Meski dampak global mulai terasa, kondisi di dalam negeri dinilai masih relatif aman. Ketua Umum DPP Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Carmelita Hartoto melihat saat ini belum ada dampak terhadap pelayaran domestik. Begitu pula dengan kapal para anggota INSA yang melakukan pengiriman ke luar negeri.

Dirinya terus mengikuti perkembangan yang terjadi di Selat Hormuz sebagai dampak perang AS-Israel vs Iran.

“Untuk pelayaran global tentu akan berdampak cukup besar, tapi untuk pelayaran domestik sejauh belum ada,” tuturnya.

Adapun dalam kondisi terkini, menurutnya masih terlalu dini untuk menghitung potensi kerugian.

Selain kenaikan harga bahan bakar dan pembatalan asuransi perang, pelayaran global yang belum masuk wilayah teluk, akan mengalihkan jalur pelayarannya agar tidak melewati atau mendekat ke Selat Hormuz. Alhasil, biaya logistik global tersebut berpotensi naik. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jokowi Berduka Atas Wafatnya Try Sutrisno: Kita Kehilangan Putra Terbaik Bangsa
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Pemerintah Menghadirkan Parade Imlek Nusantara 2026 untuk Dorong Toleransi dan Ekonomi Kreatif
• 18 jam lalupantau.com
thumb
Video: Mau Swasembada Daging, Jakarta Bangun Penggemukan Sapi Mandiri
• 13 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Lima Kandidat Kuat Calon Pemimpin Tertinggi Iran Usai Tewasnya Ali Khamenei
• 21 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Drone Iran Hantam Pangkalan Militer Inggris di Siprus
• 7 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.