Madiun, VIVA – Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas menilai penguatan ekonomi syariah yang inklusif dan berkeadilan menjadi kunci dalam mendorong kesejahteraan masyarakat dari tingkat akar rumput.
Hal tersebut ditegaskan Ibas saat menghadiri audiensi bertema Ekonomi Syariah Inklusif, Berkeadilan, Indonesia Maju Sejahtera, pada Minggu, 1 Maret 2026.
Ia mengatakan bahwa ekonomi syariah tidak hanya berbicara mengenai sistem keuangan berbasis prinsip Islam, tetapi juga menjadi instrumen pemerataan ekonomi yang mampu memperkuat masyarakat kecil dan pelaku usaha daerah.
“Ekonomi syariah harus mampu memberdayakan masyarakat dari bawah. Jika UMKM dan ekonomi rakyat kuat, maka keluarga kuat, daerah kuat, dan pada akhirnya bangsa kita juga semakin kuat,” ujar Ibas dalam keterangannya, Senin, 2 Maret 2026.
Ia menjelaskan bahwa tantangan utama pengembangan ekonomi syariah saat ini masih berkaitan dengan rendahnya literasi keuangan, keterbatasan akses pembiayaan, serta belum optimalnya integrasi antara dunia pendidikan, lembaga keuangan, dan pelaku usaha.
Karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi faktor penting agar ekonomi syariah benar-benar inklusif.
Dalam kesempatan tersebut, Ibas juga menyoroti pentingnya kemudahan akses modal bagi UMKM melalui skema pembiayaan syariah maupun Kredit Usaha Rakyat.
Ia menegaskan bahwa negara terus mendorong kebijakan pembiayaan dengan bunga rendah serta prosedur yang lebih sederhana agar pelaku usaha kecil dapat berkembang secara berkelanjutan.
“Permodalan harus mudah diakses, tidak dipersulit, namun tetap produktif dan bertanggung jawab. Pembiayaan yang tepat akan membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi lokal,” jelasnya.
Menanggapi berbagai aspirasi, ia menekankan pentingnya peningkatan literasi keuangan, pendampingan usaha, serta pembentukan komunitas pendamping bagi masyarakat yang ingin mengakses pembiayaan perbankan.
Ia juga mendorong kampus dan lembaga pendidikan untuk tidak hanya menghasilkan lulusan akademis, tetapi juga generasi yang siap menciptakan lapangan kerja melalui kewirausahaan berbasis nilai syariah.
“Kampus, dosen, dan pelaku usaha harus menjadi motor edukasi ekonomi syariah. Anak muda jangan hanya mencari pekerjaan, tetapi juga berani menciptakan usaha yang memberi manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.





