BCA (BBCA) Respons Eskalasi Konflik Timur Tengah, Jaga Likuiditas & Risiko Pasar

bisnis.com
14 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) atau BCA memastikan tetap menjaga ketahanan likuiditas dan kualitas aset di tengah meningkatnya eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.

Executive Vice President BCA Hera F. Haryn mengatakan perseroan terus mencermati perkembangan kondisi makroekonomi global maupun domestik, termasuk potensi dampak konflik terhadap stabilitas sistem keuangan nasional.

“BCA senantiasa mencermati dinamika makroekonomi, baik domestik maupun global, termasuk dampak eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah,” ujar Hera kepada Bisnis, Senin (2/3/2026).

Menurutnya, di tengah ketidakpastian global, BCA tetap berfokus pada fundamental bisnis serta menjalankan prinsip kehati-hatian guna menjaga stabilitas kinerja perseroan.

“BCA berfokus pada fundamental bisnis perseroan, serta tetap mengambil langkah yang pruden dalam menghadapi dinamika saat ini. BCA juga senantiasa mempertahankan posisi permodalan dan likuiditas yang solid guna menghadapi ketidakpastian global,” tegas Hera.

Dalam mengantisipasi risiko fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap valuta asing, kata Hera, BCA menjaga rasio Posisi Devisa Neto (PDN) secara konservatif sebagai bagian dari mitigasi risiko pasar. Perseroan juga melakukan penetapan serta kontrol limit risiko pasar untuk mengantisipasi volatilitas nilai tukar maupun suku bunga.

Baca Juga

  • Induk BCA Dwimuria Investama Raih Laba Rp31,6 Triliun, Terkerek Kinerja BBCA
  • Mereka Kompak Getol Serok Saham BBCA
  • Daftar Lengkap Calon Dewan Komisaris dan Direksi Baru BBCA

Dari sisi pembiayaan, BCA terus melakukan monitoring terhadap risiko konsentrasi kredit, termasuk evaluasi kualitas portofolio serta penyesuaian limit pembiayaan pada sektor-sektor yang dinilai memiliki potensi risiko lebih tinggi akibat dinamika global.

BCA juga menjaga komunikasi dan koordinasi dengan debitur yang berpotensi terdampak serta menerapkan Early Warning System guna mendeteksi potensi penurunan kualitas kredit sejak dini.

Adapun dari sisi bantalan risiko, rasio pencadangan loan at risk (LAR) BCA tercatat sebesar 71,6% sepanjang 2025, sementara rasio pencadangan non-performing loan (NPL) mencapai 183,8%, yang dinilai berada pada level memadai untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi dan bisnis debitur.

Sementara itu, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede menilai dampak konflik geopolitik terhadap industri perbankan Indonesia terutama akan ditransmisikan melalui kenaikan harga energi dan perubahan sentimen pasar global.

“Dampak terbesar ke industri perbankan Indonesia umumnya datang dari kanal harga energi dan kanal sentimen pasar yang memicu pergeseran arus modal,” ujar Josua kepada Bisnis.

Menurutnya, ketika eskalasi meningkat, pasar biasanya langsung memusatkan perhatian pada risiko gangguan pasokan dan logistik energi, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan minyak dunia. Pada saat yang sama, investor global cenderung mengalihkan dana ke aset aman sehingga dolar AS menguat dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, tertekan.

Harga minyak Brent bahkan sempat melonjak sekitar 13% hingga menyentuh US$82 per barel sebelum bergerak di kisaran US$77 per barel, mencerminkan besarnya premi risiko yang dipasang pasar. Jika ketegangan membuat lalu lintas kapal di sekitar Teluk Persia melambat atau memicu penghindaran rute pelayaran, dampaknya dapat cepat merembet ke kenaikan biaya angkut dan premi asuransi, sehingga tekanan inflasi dan nilai tukar bertahan lebih lama.

Josua menjelaskan, risiko rambatan menjadi lebih nyata ketika lonjakan harga minyak dan biaya logistik mengubah ekspektasi inflasi dan arah kebijakan suku bunga, sekaligus menguji ketahanan neraca eksternal melalui kenaikan tagihan impor energi.

“Risiko rambatan ke perbankan Indonesia menjadi lebih nyata saat harga minyak melonjak dan biaya logistik ikut naik, karena ini mengubah ekspektasi inflasi dan arah kebijakan suku bunga,” jelasnya.

Dalam konteks nilai tukar, tekanan terhadap rupiah dinilai dapat berdampak pada likuiditas dan biaya dana perbankan melalui peningkatan kebutuhan valuta asing korporasi untuk pembayaran impor, cicilan, maupun lindung nilai. Permintaan likuiditas valas cenderung naik bersamaan dengan meningkatnya kehati-hatian bank dalam mengelola posisi likuiditas.

Di sisi lain, bank sentral cenderung menjaga stabilitas rupiah dan ekspektasi inflasi sehingga ruang pelonggaran suku bunga menjadi lebih terbatas. Akibatnya, suku bunga pasar uang dan suku bunga simpanan lebih sulit turun, dan biaya dana perbankan berisiko tetap tinggi atau bahkan meningkat apabila lonjakan minyak memicu ekspektasi inflasi yang lebih kuat.

Dari sisi profitabilitas, tekanan berpotensi muncul pada margin bunga bersih (net interest margin/NIM). Suku bunga dana pihak ketiga biasanya menyesuaikan lebih cepat karena persaingan dana dan kebutuhan menjaga stabilitas likuiditas, sementara penyesuaian bunga kredit berlangsung lebih bertahap sehingga margin berpotensi tertekan pada fase awal gejolak.

Di sisi lain, bank sentral cenderung menjaga stabilitas rupiah dan ekspektasi inflasi sehingga ruang pelonggaran suku bunga menjadi lebih terbatas. Akibatnya, suku bunga pasar uang dan suku bunga simpanan lebih sulit turun, dan biaya dana perbankan berisiko tetap tinggi atau bahkan meningkat apabila lonjakan minyak memicu ekspektasi inflasi yang lebih kuat.

Dari sisi profitabilitas, tekanan berpotensi muncul pada margin bunga bersih (net interest margin/NIM). Suku bunga dana pihak ketiga biasanya menyesuaikan lebih cepat karena persaingan dana dan kebutuhan menjaga stabilitas likuiditas, sementara penyesuaian bunga kredit berlangsung lebih bertahap sehingga margin berpotensi tertekan pada fase awal gejolak.

Risiko kredit juga meningkat pada sektor-sektor yang sensitif terhadap kenaikan biaya energi dan gangguan logistik, seperti transportasi dan penerbangan, industri yang boros energi, serta perusahaan yang bergantung pada impor bahan baku.

Di sisi lain, sektor ekspor dapat memperoleh manfaat dari pelemahan rupiah, tetap ada risiko jika biaya pengiriman, premi asuransi, dan perlambatan permintaan global menekan arus kas debitur.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
20 Negara dengan Utang Segunung, Ada Tetangga RI
• 43 menit lalucnbcindonesia.com
thumb
UNSCEAR 2024 Ungkap Paparan Radiasi Alam di Mamuju Capai Sembilan Kali Rata-Rata Global
• 20 jam lalupantau.com
thumb
BRI Super League: Jelang Hadapi Borneo FC di JIS, Pelatih Persija Bicara Peluang Juara
• 15 jam lalubola.com
thumb
Dubes Iran: Penutupan Selat Hormuz Dipicu Serangan Kapal Induk AS!
• 19 jam laluokezone.com
thumb
Puncak Festival Cap Go Meh Singkawang 2026 Meriah, 727 Peserta Ramaikan Pawai | KOMPAS SIANG
• 2 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.