Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak mentah dunia terpantau masih mengalami kenaikan meski tipis di tengah peningkatan intensitas perang Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran serta ancaman penutupan Selat Hormuz.
Dilansir Bloomberg, Selasa (3/3/2026), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) hanya berubah sedikit ke level di atas US$71 per barel usai reli lebih dari 6% pada perdagangan kemarin, sedangkan minyak Brent ditutup pada level dekat US$78 per barel.
Harga minyak WTI untuk pengiriman April naik 0,2% ke level US$71,37 per barel pada pukul 7.01 pagi waktu Singapura. Adapun, minyak Brent untuk kontrak Mei ditutup naik 6,7% ke level US$77,74 per barel kemarin.
Presiden Donald Trump sebelumnya mengatakan bahwa AS akan melakukan apa pun yang diperlukan dalam konflik tersebut, dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan kepada wartawan bahwa kampanye tersebut akan semakin intensif.
Di Iran, Ebrahim Jabbari, penasihat komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran, mengatakan kepada televisi pemerintah bahwa pasukan akan membakar kapal apa pun yang mencoba melewati selat tersebut. Jabbari digambarkan oleh media lokal sebagai penasihat senior untuk komandan tertinggi IRGC, bukan komandan aktif.
Pasar energi global telah terguncang oleh perang yang meletus pada Sabtu pekan lalu dan kemudian menyebar ke seluruh Timur Tengah yang kaya minyak ketika Iran berupaya membalas dendam terhadap Israel dan negara-negara yang menampung pasukan AS. Harga minyak telah melonjak, bersama dengan gas alam dan produk minyak bumi seperti solar, yang berpotensi memicu gelombang inflasi di seluruh dunia.
Baca Juga
- Reza Pahlavi Disokong AS Pimpin Rezim Baru, Dubes Iran Buka Suara
- Pemimpin Baru Iran Pilihan Donald Trump usai Bunuh Khamenei
- AS-Israel vs Iran, Rusia: Siap-siap Perang Dunia 3!
Infrastruktur energi telah menjadi sasaran. Pada hari Senin kemarin, Saudi Aramco menghentikan operasi di kilang Ras Tanura setelah serangan pesawat tak berawak di daerah tersebut. Di tempat lain, Qatar menutup produksi gas alam cair di fasilitas ekspor terbesar di dunia setelah menjadi sasaran serangan Iran.
Lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz yang sangat penting hampir sepenuhnya terhenti mengingat risikonya. Titik rawan ini, tepat di lepas pantai Iran, menangani seperlima minyak dunia dan sebagian gas alam cair.
Pengiriman yang melewati jalur air ini biasanya berasal dari Iran, serta produsen lain di kawasan tersebut, termasuk Arab Saudi dan Irak, dalam perjalanan menuju pasar global.
Berbicara di televisi nasional, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Teheran tidak memiliki perselisihan dengan negara-negara tetangga, tetapi sedang menghadapi tentara Amerika yang ditempatkan di sana. AS telah menyatakan akan menyambut perubahan rezim di Teheran dan mendorong penduduk setempat untuk menggulingkan pemerintah.
Pasukan Israel melanjutkan serangan terhadap Teheran, setelah melakukan serangan udara di Lebanon pada hari Senin yang menargetkan proksi Iran, Hizbullah. Di bidang infrastruktur energi, proyek gas alam Leviathan telah diminta untuk menangguhkan produksi.
Dalam pernyataannya, Menteri Luar Negeri Rubio mengatakan fokusnya adalah untuk menghancurkan Angkatan Laut dan drone Iran, serta program rudal balistiknya, yang digunakan sebagai tameng untuk membiayai ambisi nuklirnya. Rencana AS untuk mengurangi biaya energi akan mulai diterapkan pada hari Selasa, tambahnya.





