Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup berbalik menguat atau rebound pada Senin (2/3), setelah sempat melemah pada pagi hari. Hal itu berbarengan dengan pasar global yang bergejolak menyusul serangan udara AS-Israel ke Iran, membuat sebagian besar bursa utama di luar negeri ditutup di zona merah.
Mengutip Reuters, pada pukul 14.30 waktu setempat, indeks Dow Jones Industrial Average naik 50,36 poin atau 0,10 persen ke 49.028,28. Sementara S&P 500 menguat 18,54 poin atau 0,27 persen ke 6.897,13, dan Nasdaq Composite naik 118,73 poin atau 0,52 persen ke 22.786,94.
Investor AS memanfaatkan pelemahan harga atau buy on dip setelah aksi jual awal, mencerminkan ekspektasi bahwa dampak gangguan akibat konflik ini akan terbatas.
“Pelaku pasar menilai ini hanya sementara dan persoalan di sektor minyak akan mereda,” ujar ketua Smead Capital Management, Bill Smead
Indeks utama bergerak naik tipis setelah sebelumnya konflik mendorong saham pertahanan dan harga energi menguat, sementara sektor perjalanan dan saham yang sensitif terhadap suku bunga tertekan.
Seiring waktu, investor kembali memburu saham teknologi dan mempertimbangkan berapa lama konflik Timur Tengah akan berlangsung serta dampaknya terhadap inflasi dan kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed.
Menurut Smead, investor kembali ke saham-saham unggulan yang sudah familiar dan berkinerja tinggi seperti Nvidia, kelompok saham teknologi “Magnificent Seven”, serta sektor pertahanan. “Ketika orang takut, mereka kembali ke sesuatu yang terasa nyaman,” katanya.
Di sisi lain, ketahanan pasar AS ini berbanding terbalik dengan kondisi di Eropa dan Asia, di mana bursa melemah akibat lonjakan harga minyak dan ketidakpastian yang dipicu perang. Pasar saham Prancis dan Jerman turun lebih dari 1 persen. Di Asia, indeks Nikkei 225 Jepang merosot 1,73 persen setelah sempat anjlok hingga 2 persen saat pembukaan perdagangan.
Saham perusahaan energi, yang diuntungkan oleh kenaikan harga minyak, mengungguli pasar, sementara saham perjalanan dan maskapai turun karena pembatalan penerbangan, kenaikan biaya bahan bakar jet, serta penutupan wilayah udara di Timur Tengah.
Sejumlah maskapai membatalkan penerbangan dan beberapa fasilitas minyak serta gas di Timur Tengah menghentikan produksi. Harga minyak mentah AS naik 6 persen setelah sebelumnya sempat melonjak dua kali lipat lebih tinggi dalam sesi perdagangan.
Saham Delta Air Lines turun lebih dari 2 persen dan United Airlines merosot lebih dari 4 persen. Sementara itu, saham kapal pesiar yang sensitif terhadap harga minyak seperti Carnival Corporation turun 6 persen dan Norwegian Cruise Line anjlok lebih dari 10 persen.
Mengimbangi pelemahan tersebut, Nvidia melonjak 2,8 persen dan Microsoft naik 1,5 persen, pulih dari penurunan tajam bulan lalu. Kenaikan ini membantu S&P 500 dan Nasdaq memangkas kerugian setelah sempat menyentuh level terendah dalam dua pekan di awal sesi.
Saham sektor pertahanan juga terdongkrak, dengan Lockheed Martin naik 2,5 persen dan Palantir Technologies melonjak 5,9 persen, di tengah sorotan geopolitik setelah serangan terkoordinasi AS dan Israel ke Iran pada akhir pekan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran.
Presiden AS Donald Trump juga mengatakan kepada CNN bahwa “gelombang besar” masih akan terjadi, meskipun sejumlah negara Timur Tengah melobi sekutu AS untuk mendorong diakhirinya perang secara cepat.
Indikator ketakutan pasar Wall Street, CBOE Volatility Index (VIX), turun dari level tertinggi tiga bulan yang dicapai sebelumnya pada hari itu, dan terakhir tercatat naik 1,55 poin ke 21,41.
Analis Wells Fargo, Ohsung Kwon, memperingatkan S&P 500 bisa turun ke level 6.000 poin, sekitar 13 persen di bawah penutupan terakhir, jika harga minyak mentah melampaui USD 100 per barel, dengan potensi penurunan laba perusahaan sekitar 1,3 persen. Dari sisi kinerja emiten, Norwegian Cruise memperkirakan laba tahunan di bawah ekspektasi Wall Street.
Sementara itu, saham AES Corporation anjlok 17,3 persen setelah konsorsium yang dipimpin oleh Global Infrastructure Partners, milik BlackRock, dan firma ekuitas EQT AB sepakat mengakuisisi perusahaan utilitas tersebut senilai USD 33,4 miliar dengan harga diskon dari penutupan terakhirnya. Sedangkan saham kripto seperti Coinbase dan Strategy masing-masing naik lebih dari 5 persen seiring penguatan harga bitcoin.





