AMERIKA Serikat mencatatkan korban jiwa pertama dalam konflik terbuka melawan Iran. Sebanyak enam tentara AS dikonfirmasi tewas menyusul serangan langsung pasukan Iran terhadap pusat operasional sementara di pelabuhan sipil Shuaiba, Kuwait, pada Minggu pagi waktu setempat.
Komando Pusat AS (CENTCOM) pada Senin sore mengumumkan bahwa jumlah korban tewas meningkat menjadi enam orang setelah jenazah dua tentara yang sebelumnya dinyatakan hilang berhasil ditemukan di reruntuhan bangunan.
Detik-Detik Serangan Tanpa PeringatanSerangan yang diduga menggunakan drone tersebut menghantam gedung operasional taktis sekitar pukul 09.00 pagi waktu setempat. Menurut sumber yang memahami situasi tersebut, hantaman proyektil terjadi secara langsung tepat di tengah bangunan yang berfungsi sebagai ruang kantor darurat.
Baca juga : Pantang Mundur, Iran Tegaskan tak Akan Bernegosiasi dengan AS, GCC dan Sekutu Arab Kutuk Serangan
Laporan menyebutkan serangan berlangsung sangat cepat tanpa ada peringatan atau sirene yang memberikan kesempatan bagi pasukan untuk mengevakuasi diri ke bunker. Citra satelit menunjukkan kepulan asap hitam pekat membubung dari bangunan yang terbakar hebat, dengan dinding-dinding yang hancur akibat ledakan dahsyat.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyatakan proyektil tersebut berhasil menembus sistem pertahanan udara. "Serangan itu menghantam pusat operasi taktis yang telah diperkuat, namun ada satu proyektil yang berhasil lolos," jelas Hegseth.
Korban Pertama Operasi Epic FuryKeenam prajurit ini menjadi personel militer pertama yang gugur dalam operasi militer melawan Iran yang dimulai sejak Sabtu dini hari, dengan nama sandi Operasi Epic Fury. Selain korban tewas, juru bicara CENTCOM melaporkan 18 tentara lainnya mengalami luka berat selama operasi berlangsung.
Baca juga : Kedutaan Besar AS di Kuwait Beri Peringatan Terkait Ancaman Rudal dan Drone
Hingga saat ini, identitas para prajurit yang gugur belum dirilis karena pihak militer masih dalam proses memberikan notifikasi kepada pihak keluarga. Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, memberikan penghormatan terakhir kepada para prajurit tersebut.
"Mereka adalah putra-putri terbaik yang dimiliki bangsa kita dan contoh nyata dari arti pengabdian tanpa pamrih," ujar Jenderal Caine. "Belasungkawa terdalam dan tulus kami sampaikan kepada keluarga, teman, dan unit mereka. Kami berduka bersama Anda dan kami tidak akan pernah melupakan Anda."
Presiden Donald Trump dan Menhan Hegseth secara terbuka telah memperingatkan bahwa jumlah korban kemungkinan masih akan bertambah seiring berlanjutnya operasi militer di kawasan tersebut. (CNN/Z-2)





