Bulan ”Merah Darah” Temani Saat Buka Puasa

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Bulan yang terbit di ufuk timur pada Selasa, 3 Maret 2026, petang di seluruh wilayah Indonesia akan berbeda dari biasanya. Bulan akan muncul dalam kondisi sudah tergerhanai.

Warna bulan purnama yang biasanya kuning cerah akan berubah menjadi merah tembaga. Posisi Bulan yang berada di dekat ufuk juga akan membuat Bulan terlihat lebih besar.

Gerhana bulan total akan berlangsung pada Selasa (3/3/2026). Gerhana bulan ini bisa disaksikan di Amerika Utara, Australia, dan Asia Pasifik.

Bedanya, di Amerika Utara, gerhana bulan terjadi pada Senin (2/3) dini hari saat Bulan akan terbenam. Sementara di Asia, termasuk Indonesia, gerhana bulan terjadi pada Rabu petang, saat Bulan baru terbit.

”Yang istimewa, gerhana bulan (moon) ini terjadi pada bulan (month) Ramadhan saat umat Islam sedang menjalankan berbagai ibadah Ramadhan,” kata dosen Kelompok Keahlian Astronomi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung, Endang Soegiartini, pada Senin (2/3/2026).

Gerhana bulan 3 Maret 2026 ini merupakan satu dari 20 gerhana yang terjadi selama Ramadhan di Indonesia antara tahun 2000 hingga 2100.

Baca JugaGerhana Bulan Total 7-8 September 2025, ”Bulan Merah Darah” di Tengah Malam

Tidak ada satu pun wilayah di Indonesia yang bisa menyaksikan seluruh fase gerhana bulan kali ini. Artinya, saat Bulan terbit dari Merauke hingga Sabang, Bulan sudah dalam kondisi tergerhanai.

Karena itu, di Indonesia, gerhana bulan ini akan berlangsung di waktu buka puasa dan shalat Tarawih hingga menambah syahdunya suasana ibadah.

Perhitungan selama 100 tahun yang dilakukan Ketua Pusat Unggulan Sains Data Astronomi dan Polusi Cahaya Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Judhistira Aria Utama menemukan gerhana bulan pada 3 Maret 2026 ini merupakan satu dari 20 gerhana yang terjadi selama Ramadhan di Indonesia antara tahun 2000 hingga 2100.

Sebanyak 20 gerhana yang terjadi itu terdiri dari lima gerhana matahari dan 15 gerhana bulan. Namun, perlu diingat, lima gerhana matahari yang terjadi itu tidak semuanya berupa gerhana matahari total. Ada juga gerhana matahari sebagian dan gerhana matahari cincin.

Demikian pula gerhana bulannya, tidak semuanya gerhana bulan total, tetapi ada gerhana bulan penumbra dan gerhana bulan sebagian.

Sebelumnya, gerhana yang terjadi selama Ramadhan di Indonesia itu antara lain gerhana bulan total pada 14 Maret 2025 yang hanya bisa disaksikan di wilayah Indonesia timur dan tengah serta gerhana bulan penumbra pada 25 Maret 2024.

Selain itu, ada gerhana matahari hibrida pada 20 April 2023 yang bisa diamati di sebagian kecil wilayah di Indonesia timur. ”Ini adalah bukti bahwa alam semesta bekerja berdasarkan hukum yang teratur dan dapat dipahami,” tambahnya.

Fase gerhana

Gerhana bulan adalah peristiwa terhalangnya cahaya Matahari yang menuju Bulan oleh Bumi. Fenomena ini lahir dari dinamika pergerakan Matahari, Bumi, dan Bulan yang membuat ketiganya berada sejajar dengan posisi Bumi berada di antara Matahari dan Bulan.

Dalam perputaran Bulan mengelilingi Bumi, gerhana bulan bakal terjadi jika Bulan memasuki daerah bayang-bayang Bumi.

Baca JugaBulan Memerah di Ufuk Timur

Dalam perputaran Bulan mengelilingi Bumi, gerhana Bulan bakal terjadi jika Bulan memasuki daerah bayang-bayang Bumi. Kondisi inilah yang membuat gerhana bulan hanya akan terjadi pada fase bulan purnama, ketika Bulan tampak sebagai lingkaran penuh dengan cahaya kuning cerah.

Namun, tidak setiap bulan purnama akan terjadi gerhana bulan. ”Kondisi ini terjadi karena bidang orbit Bulan mengelilingi Bumi miring 5 derajat terhadap bidang edar Bumi memutari Matahari,” kata Ketua Kelompok Keahlian Sains Keplanetan dan Antariksa Program Studi Sains Atmosfer dan Keplanetan Fakultas Sains Institut Teknologi Sumatera, Lampung, Robiatul Muztaba.

Selanjutnya, dalam perjalanan Bulan mengorbit Bumi tersebut, Bulan akan memasuki daerah bayang-bayang luar Bumi atau disebut penumbra hingga terjadi gerhana bulan penumbra (GBP). Pada fase ini, Bulan hanya akan terlihat meredup, belum ada perubahan warna Bulan yang bisa diamati dengan mata telanjang.

Berikutnya, Bulan akan terus bergerak dan memasuki daerah bayang-bayang utama Bumi atau umbra dan terjadilah gerhana bulan sebagian (GBS). Di fase ini, permukaan Bulan mulai berubah dengan munculnya lengkungan hitam yang pelan-pelan menutupi permukaan Bulan.  

Bulan akan terus bergerak hingga seluruh bagian Bulan memasuki umbra Bumi. Saat itulah akan terjadi gerhana bulan total (GBT) yang dramatis. Warna bulan purnama yang sebelumnya kuning cerah akan berubah memerah tua.

Tak berhenti di situ, perjalanan Bulan mengorbit Bumi akan berlanjut hingga Bulan kembali memasuki umbra dan penumbra Bumi di sisi yang berbeda sehingga terjadi kembali GBS dan GBP. Saat Bulan keluar dari penumbra Bumi, maka berakhirlah seluruh fase gerhana bulan ini.

Baca JugaGerhana Bulan Penumbra 5 Mei 2023 Tidak Terkait Perbedaan Idul Fitri 1444 Hijriah

Dalam gerhana bulan pada 3 Maret 2026 ini, semua tahap gerhana bulan, mulai dari Bulan memasuki penumbra Bumi hingga keluar dari penumbra Bumi lagi, akan berlangsung selama 5 jam 38 menit. Namun, fase GBT-nya hanya terjadi dalam 58 menit 13 detik.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, gerhana bulan kali ini dimulai pada pukul 15.43 WIB atau 17.43 WIT dengan dimulainya fase GBP. Di seluruh wilayah Indonesia, fase GBP awal ini tidak akan bisa dilihat karena Bulan masih di bawah ufuk. Bulan yang terbit di Papua dan Maluku pada Selasa petang sudah akan mengalami GBP.

Selanjutnya, fase GBS akan dimulai pukul 16.50 WIB atau 17.50 Wita. Di sebagian besar Sulawesi, Nusa Tenggara, Kalimantan, serta Jawa Tengah dan Jawa Timur, Bulan akan terbit saat fase GBS sedang berlangsung.

Sementara fase GBT akan berlangsung pukul 18.04 WIB. Masyarakat yang berada di sisi barat Jawa, termasuk Jakarta, hingga Sumatera Barat dan Riau akan melihat Bulan terbit dalam fase totalitas gerhana sehingga Bulan akan terlihat merah tembaga.

Namun, mereka yang tinggal di Sumatera Utara dan Aceh hanya bisa menyaksikan fase akhir GBT. Mereka tidak dapat menikmati puncak gerhana bulan kali ini karena di wilayah tersebut, saat puncak gerhana terjadi, Bulan belum terbit.

Fase akhir GBT itu pun hanya bisa dinikmati selama beberapa menit karena pukul 19.03 WIB, GBT sudah berakhir dan dimulailah GBS kedua hingga pukul 20.18 WIB. Seluruh proses gerhana bulan kali ini akan selesai pukul 21.25 WIB.

Dramatis

Karena fase GBT sudah terjadi saat Bulan terbit di barat Jawa dan sebagian besar Sumatera, maka Bulan yang muncul akan tampil dalam warna yang dramatis, merah tembaga atau masyarakat Barat menyebutnya ”merah darah”.

Baca JugaGerhana Bulan Total ”Super Flower Blood Moon Terjadi Rabu Petang

Bulan bukanlah bintang yang memancarkan cahayanya sendiri. Bulan hanyalah satelit Bumi yang tampak bercahaya karena memantulkan cahaya Matahari. Saat terjadi GBT, Bumi akan menghalangi cahaya Matahari yang menuju Bulan sehingga seharusnya Bulan akan jadi gelap total, seperti Bulan mati.

Nyatanya, selama GBT, Bulan menjadi tampak berwarna merah tua atau merah darah. Masih adanya cahaya Matahari yang sampai ke permukaan Bulan itu terjadi  karena atmosfer Bumi masih meneruskan sinar Matahari.

Namun, atmosfer Bumi akan menepis sinar Matahari dalam panjang gelombang ungu dan biru dan meneruskan cahaya Matahari dalam panjang gelombang merah dan jingga alias oranye.

”Fenomena yang disebut hamburan Rayleigh itulah yang membuat warna Bulan selama GBT menjadi merah tembaga,” kata Robiatul.

GBT yang terlihat di barat Jawa dan sebagian besar Sumatera nanti tidak hanya berwarna ”merah darah”, tetapi ukurannya akan terlihat jauh lebih besar dibandingan jika posisi Bulan sudah jauh lebih tinggi di atas horizon.

Warna merah yang terlihat akan semakin pekat atau hitam jika kondisi atmosfer di lokasi pengamatan GBT memiliki tingkat pencemaran udara tinggi.

Kawasan industri, perkotaan dengan jumlah kendaraan yang besar, hingga daerah dengan sebaran debu yang tinggi akan membuat atmosfer di wilayah tersebut mengandung banyak polutan. Akibatnya, GBT yang muncul akan terlihat merah kehitaman.

Hal lain yang membuat tampilan GBT 3 Maret 2026 dramatis adalah posisi Bulan yang masih berada di sekitar ufuk. Posisi Bulan di dekat cakrawala itu akan memunculkan ilusi optik dalam otak manusia yang secara tidak sadar akan membandingkan ukuran Bulan dengan obyek-obyek latar depan Bulan, seperti gunung, gedung, pohon, atau apa pun. Akibatnya, Bulan akan terlihat sangat besar meski sejatinya sama saja dengan biasanya.

Karena itu, GBT yang terlihat di barat Jawa dan sebagian besar Sumatera nanti tidak hanya berwarna merah darah, tetapi ukurannya juga akan terlihat jauh lebih besar dibandingkan jika posisi Bulan sudah jauh lebih tinggi di atas horizon, apalagi di atas zenith atau di atas kepala manusia.

Namun, karena GBT terjadi saat Bulan terbit, maka untuk mengamati GBT ini dibutuhkan medan pandang ke arah timur yang bebas dari halangan apa pun. Pengamatan di pantai atau padang rumput luas lebih disarankan, terutama bagi mereka yang berada di barat Jawa dan Sumatera karena keterbatasan waktu pengamatan yang tersedia.

Di Jakarta, Bulan pada Selasa (3/3/2026) akan terbit pukul 18.07 WIB atau saat GBT sudah dimulai tiga menit sebelumnya.

Selain itu, GBT akan berakhir pada pukul 19.03 WIB, yang berarti warga Ibu Kota hanya punya waktu 56 menit untuk melihat GBT. Dalam waktu sekitar sejam sejak Bulan terbit itu, ketinggian Bulan masih akan sangat rendah sehingga dibutuhkan tempat pengamatan dengan medan pandang ke arah timur yang memadai.

Masyarakat di Sumatera akan memiliki waktu lebih sedikit lagi untuk mengamati GBT, yaitu warga Banda Aceh hanya 15 menit dan warga Medan 28 menit. Warga di kedua kota ini tidak bisa menyaksikan puncak GBT, hanya akhir dari fase GBT.

Namun, Endang mengingatkan, cuaca akan menjadi tantangan terbesar dalam pengamatan GBT kali ini. Prediksi cuaca di sejumlah kota menunjukkan cuaca pada Selasa petang akan berawan. Selain itu, beberapa hari terakhir, termasuk di Jakarta, hujan akan turun menjelang waktu berbuka puasa.

Meski demikian, Robiatul mengajak masyarakat untuk tidak melewatkan kesempatan mengamati GBT pada Selasa, 3 Maret 2026, petang. Jangan lupa untuk berharap agar cuaca mendukung, tidak mendung, apalagi hujan. Jika tidak mengamati GBT pada Selasa petang, maka masyarakat Indonesia baru akan bisa menyaksikan GBT selanjutnya pada 31 Desember 2028-1 Januari 2029 atau sekitar tiga tahun lagi.

Sampai jumpa dalam pertemuan menatap Bulan yang sama pada Selasa petang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Iran Klaim Hantam Kapal Induk AS Abraham Lincoln dengan Empat Rudal Balistik
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Perlunya Galang Kekuatan Internasional untuk Hentikan Konflik Timur Tengah
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Profil 2 Anak Try Sutrisno yang Berkarier di Militer, Eks Kakorlantas Polri hingga Perwira Tinggi TNI AD
• 23 jam laludisway.id
thumb
Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN IV Regional V Mutasikan TBM-3 ke TM-1 Seluas 1.119 Hektare pada Awal 2026
• 1 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Super League: Sempat Tertinggal 2 Gol, Persita Comeback & Hajar PSM Makassar
• 13 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.