SITUASI keamanan di Timur Tengah kian mencekam setelah rentetan ledakan besar mengguncang kawasan diplomatik di Riyadh, Arab Saudi, pada Selasa pagi waktu setempat. Kawasan tersebut merupakan pusat kedutaan besar asing serta rumah dinas bagi para diplomat mancanegara.
Empat saksi mata melaporkan kepada AFP bahwa kepulan asap terlihat membubung tinggi dari area tersebut. "Saya mendengar dua ledakan yang diikuti oleh asap yang membubung di atas kawasan itu," ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan karena sensitivitas situasi.
Ledakan ini terjadi di tengah gencarnya kampanye serangan Iran yang menyasar negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi, dengan gelombang rudal dan drone. Serangan tersebut merupakan aksi balasan Iran atas gempuran udara Amerika Serikat dan Israel ke wilayah mereka.
Baca juga : Eks Presiden Iran Ahmadinejad Disebut Tewas dalam Serangan AS-Israel
Qatar Cegat Rudal BalistikKetegangan juga merembet ke Qatar. Kementerian Pertahanan Qatar mengonfirmasi bahwa militer mereka berhasil mencegat dua rudal balistik pada Selasa pagi setelah ledakan keras terdengar di seluruh penjuru Doha.
Dalam pernyataan resminya, kementerian menyebutkan Qatar mampu "mencegat dan menetralkan dua rudal balistik yang menargetkan beberapa wilayah di dalam negeri." Pihak berwenang menambahkan ancaman tersebut segera ditangani begitu terdeteksi oleh sistem pertahanan.
Gempuran ke Jantung Komunikasi TeheranSementara itu di Teheran, lembaga penyiaran negara Iran, IRIB, melaporkan adanya dua ledakan di dekat kantor pusat mereka. Meski demikian, pihak IRIB menyatakan operasional siaran tetap berjalan normal.
Baca juga : Ayatullah Khamenei Gugur, Tiongkok Kutuk Serangan Militer AS-Israel ke Iran
Namun, pihak militer Israel mengklaim telah "menyerang dan membongkar" markas besar IRIB di distrik Evin, Teheran Utara. Israel menggambarkan lokasi tersebut sebagai "pusat komunikasi rezim teroris Iran." Sebelumnya, tentara Israel telah mendesak warga di distrik tersebut untuk segera melakukan evakuasi.
Peringatan Donald TrumpPresiden AS Donald Trump memberikan peringatan keras pada Senin malam bahwa operasi militer terhadap Iran bisa berlangsung lebih lama dari satu bulan. Saat ini, medan perang telah meluas dengan Israel membombardir Lebanon, sementara Teheran membalas dengan mengincar fasilitas minyak di negara-negara Teluk.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di berbagai ibu kota negara Teluk dan Iran masih dalam status siaga tinggi seiring dengan intensitas serangan udara yang terus meningkat dari kedua belah pihak. (AFP/Z-2)





