Kemenkeu Sebut Permintaan Manufaktur Indonesia Capai Level Tertinggi dalam Dua Tahun

idxchannel.com
5 jam lalu
Cover Berita

Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia melonjak ke angka 53,8, naik signifikan dibandingkan posisi Januari 2026 yang sebesar 52,6.

Kemenkeu Sebut Permintaan Manufaktur Indonesia Capai Level Tertinggi dalam Dua Tahun

IDXChannel – Sektor manufaktur Indonesia mencatatkan performa gemilang pada Februari 2026 dengan menembus level ekspansi tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir.

Berdasarkan data terbaru, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia melonjak ke angka 53,8, naik signifikan dibandingkan posisi Januari 2026 yang sebesar 52,6.

Baca Juga:
Kemenperin Dorong 342 Galangan Kapal Dukung Logistik, Manufaktur Tumbuh 5,30 Persen di 2025

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu menjelaskan bahwa penguatan ini dipicu oleh tingginya permintaan baru yang diiringi dengan pertumbuhan produksi yang pesat.

"Resiliensi ekonomi domestik menjadi modal penting di tengah situasi global yang dinamis," kata Febrio dalam keterangan resminya, dikutip Selasa (3/3/2026).

Baca Juga:
Kemendag Targetkan RI Jadi Simpul Perdagangan Dunia, Suplai Produk Manufaktur hingga Teknologi

Sisi konsumsi rumah tangga turut memberikan kontribusi besar terhadap roda ekonomi nasional. Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Januari 2026 tercatat tumbuh 7,9 persen secara tahunan (yoy).

Pertumbuhan ini terlihat jelas pada peningkatan penjualan sektor makanan, minuman, dan sandang, serta didukung oleh mobilitas masyarakat yang semakin tinggi.

Baca Juga:
Industri Manufaktur hingga Perdagangan Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi 2025

"Penguatan konsumsi juga terlihat dari penjualan kendaraan bermotor yang positif, dengan penjualan sepeda motor naik 3,1 persen dan penjualan mobil tumbuh 7,0 persen," tambahnya.

Baca Juga:
PMI Manufaktur Indonesia Menguat 2 Bulan Beruntun pada Awal 2026

Optimisme masyarakat juga tetap berada di zona kuat, tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang naik ke level 127 dari sebelumnya 123,5.

Di sektor eksternal, Indonesia berhasil mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar USD0,95 miliar.

Capaian ini ditopang oleh ekspor non-migas, khususnya dari industri pengolahan yang tumbuh 8,19 persen (yoy), mencakup komoditas utama seperti minyak sawit, nikel, besi baja, serta produk bernilai tambah seperti otomotif dan elektronik.

Sementara itu, impor tercatat sebesar USD21,20 miliar atau naik 18,21 persen (yoy). Kenaikan impor ini dinilai positif karena didominasi oleh bahan baku dan barang modal, yang menandakan aktivitas investasi dan produksi di dalam negeri tengah bergeliat.

Meskipun indikator ekonomi domestik menunjukkan tren positif, pemerintah tetap memberikan perhatian khusus pada eskalasi konflik di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026 yang berujung pada penutupan Selat Hormuz menjadi risiko utama bagi rantai pasok energi global.

Febrio menekankan bahwa gangguan pada pasokan minyak bumi dan volatilitas pasar keuangan global dapat menekan kinerja ekonomi melalui peningkatan biaya logistik.

"Pemerintah terus memantau secara cermat dinamika geopolitik global serta berbagai risiko yang berpotensi memengaruhi perekonomian nasional," kata Febrio.

(Nur Ichsan Yuniarto)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Keamanan Atlet di Zona Konflik: Belajar dari Kasus Medvedev di Dubai
• 2 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Usia Senja Bukan Halangan, Puluhan Lansia Indramayu Tekun Belajar Mengaji di Bulan Ramadhan
• 9 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kuliner Timur Tengah Modern Jadi Favorit Berbuka Puasa di Bandung | KOMPAS PETANG
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Terbongkar! Wajah Asli ‘Gus Muda’ di Series Jangan Panggil Aku Gus
• 19 jam lalutabloidbintang.com
thumb
APUEC 2026 Digelar di Jakarta, Ursulin Asia Pasifik Siap Perkuat Jejaring Pendidikan Global
• 23 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.