Ketika Sekolah di Jateng Ramai-ramai Kembalikan MBG Ramadhan

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Sejumlah sekolah di Jawa Tengah memilih untuk mengembalikan semua paket Makan Bergizi Gratis atau MBG Ramadhan kepada pihak satuan pelayanan pemenuhan gizi, pekan lalu. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Ternyata, keputusan itu diambil setelah pihak sekolah berulang kali mendapatkan protes dari para orangtua siswa mengenai kualitas MBG yang diterima anak-anaknya.

Salah satu sekolah yang mengembalikan paket MBG kering yang disalurkan saat Ramadhan adalah SD Negeri Dukuh 05 Salatiga. Pengembalian paket MBG itu dilakukan pada Selasa (24/2/2026). Kala itu, jumlah MBG yang dikembalikan kepada pihak satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) sebanyak 158 paket.

Kepala SDN Dukuh 05 Salatiga Jumarti mengatakan, isi paket MBG hari itu adalah roti, telur ikan, jeruk, dan kurma. Roti yang kala itu disalurkan berukuran terlalu kecil dan sebagian jeruknya busuk. Harga paket MBG yang dibagikan juga dinilai tidak sampai Rp 10.000, sebagaimana ketentuan Badan Gizi Nasional (BGN).

Baca JugaPosting di Medsos hingga Turun ke Jalan, Orangtua Protes Kualitas MBG Ramadhan

Setelah mengetahui kondisi tersebut, Jumarti menyampaikan protes kepada para petugas SPPG yang datang mengantar MBG ke sekolah itu. Aksi protes itu divideokan dengan tujuan awal sebagai dokumentasi internal sekolah. Namun, video itu akhirnya diunggah oleh seseorang hingga akhirnya viral di media sosial.

”Tujuan saya video itu semata-mata untuk dasar perbaikan kualitas MBG, sebagai dasar kenapa kok saya komplain dan MBG waktu itu harus dikembalikan. Tujuan saya supaya SPPG berbenah, membuat yang terbaik untuk anak-anak, terkhusus di bulan puasa ini, anak-anak ya diberi yang baguslah,” kata Jumarti saat dihubungi, Senin (2/3/2026) petang.

Ia mengungkapkan, protes yang dilakukan kala itu bukan yang pertama. Sebelumnya, pihak sekolah telah beberapa kali menyampaikan protes kepada pihak SPPG seusai mendapatkan laporan dari orangtua siswa. Para orangtua pernah mengeluh, anaknya merasa tidak puas dengan MBG yang mereka terima karena kondisinya kurang baik, misalnya ada yang sudah basi atau berbau.

”Setiap hari, setelah MBG datang itu saya koreksi dulu, saya lihat dulu, saya buka, saya pegang, kalau perlu saya cicipi. Karena saya bertanggung jawab untuk anak-anak saya, keselamatan anak-anak saya. Dengan adanya kabar keracunan di sana-sini, saya tidak mau hal itu terjadi di sekolah saya. Jadi, saya teliti sekali, tidak mau sembarangan,” ucapnya.

Jumarti bersyukur, setelah protes yang dilakukan dengan cara pengembalian MBG, pihak SPPG berbenah. Sejak Rabu (25/2/2026) atau sehari setelah diprotes, menu MBG Ramadhan yang dibagikan kepada anak-anak di sekolahnya sudah jauh lebih baik.

Di Kabupaten Pati, ada juga sekolah yang mengembalikan semua paket MBG Ramadhan kepada pihak SPPG. Peristiwa itu terjadi pada Jumat (27/2/2026) di SMP Negeri 1 Tayu. Dalam kesempatan itu, pihak sekolah mengembalikan dua jenis paket MBG untuk dua hari bagi 900 siswa mereka.

Kepala SMPN 1 Tayu, Sri Wahyuni mengatakan, dua jenis paket untuk MBG Ramadhan dua hari itu terdiri dari ketan kukus, jeruk, dan kurma serta belimbing, roti, jeruk, dan kacang. Saat diterima, ketan kukusnya dalam kondisi kurang baik. Sebagai bentuk protes, paket-paket itu pun dikembalikan.

Sebelumnya, Sri juga sudah lebih dari 10 kali menyampaikan komplain kepada pihak SPPG. Meski pihak SPPG telah meminta maaf dan berjanji bakal melakukan perbaikan, hal itu dinilai pihak sekolah tak kunjung dilakukan.

”Selama Ramadhan, pernah dijumpai menu masakan sudah berbau dan tidak layak makan. Pernah juga kacang rebus sebelum dibagikan ke anak-anak sudah berlendir dan basi. Kemudian, anggur dan jambu yang sudah tidak layak masih dimasukkan. Lalu, ada kue kukusan yang sudah basi saat dimakan untuk berbuka puasa,” kata Sri.

Menurut Sri, pihak sekolah langsung menginstruksikan kepada anak-anak yang mendapatkan MBG Ramadhan dalam kondisi-kondisi tersebut untuk membuangnya. Pihak sekolah khawatir, jika dikonsumsi, makanan itu akan memicu gangguan kesehatan.

Tak hanya selama Ramadhan, sebelumnya, pihak sekolah juga sering menemui menu-menu makanan yang sudah basi. Pihak sekolah pun memilih untuk tidak membagikan paket MBG itu kepada para siswanya. Supaya tidak terbuang sia-sia, makanan itu pun dibawa pulang oleh guru dan anggota staf tata usaha sekolah sebagai pakan ternak.

Selain pihak sekolah, sejumlah orangtua siswa di sejumlah wilayah di Jateng juga melakukan protes terkait MBG Ramadhan yang dinilai kurang layak. Protes para orangtua siswa beragam, mulai dari mengunggah menu MBG yang diperoleh anaknya disertai kritik hingga demonstrasi di SPPG.

Demonstrasi para orangtua siswa dilakukan di Kabupaten Pati pada Jumat pekan lalu. Hal itu dilakukan setelah protes yang mereka lakukan melalui media sosial ataupun pihak sekolah tidak kunjung didengar pihak SPPG Tlogowungu 1. Puncaknya, pada Kamis, (26/2/2026), para orangtua marah setelah anak-anak mereka menerima MBG yang di dalamnya terdapat jeruk busuk.

Selain itu, para orangtua juga marah karena harga paket MBG yang diterima anak-anak mereka diduga tidak sesuai dengan yang ditetapkan. Untuk MBG yang diterima pada Kamis, misalnya, satu buah jeruk, satu bungkus roti, dan empat butir telur puyuh menurut harga pasaran total sekitar Rp 5.000.

”Kami melakukan perhitungan berdasarkan harga di pasaran, rata-rata MBG yang didapatkan anak-anak kami itu cuma Rp 5.000. Lalu, yang Rp 3.000 lagi ke mana? Kami meminta penjelasan SPPG soal ini,” kata Muhammad Ali Sobbri (31), salah satu orangtua siswa, saat dihubungi, Minggu (1/3/2026).

Seusai demo, SPPG Tlogowungu 1 yang menyuplai makanan untuk sejumlah sekolah di kawasan itu pun berhenti beroperasi selama sepekan. Hal itu dilakukan untuk evaluasi dan perbaikan ke depan.

Tak hanya SPPG Tlogowungu, BGN tercatat menghentikan sementara operasional 47 SPPG di sejumlah daerah. Hal itu karena dari puluhan SPPG itu terdapat temuan meliputi roti berjamur, buah busuk dan berbelatung, lauk basi, telur mentah atau busuk, hingga menu yang dinilai tidak sesuai standar kualitas. 

Wakil Kepala BGN Nanik S Deyang mengatakan, langkah penghentian sementara dilakukan sebagai bagian dari mekanisme pengendalian mutu. ”Kami tidak menoleransi penyimpangan standar pangan dalam program ini. Setiap temuan langsung ditindak dengan penghentian operasional sementara untuk evaluasi menyeluruh,” ujar Nanik dalam keterangannya.

Menurut Nanik, keputusan berupa penghentian operasional sementara diambil setelah proses verifikasi lapangan dan laporan berjenjang dari tim pengawasan wilayah. Evaluasi dilakukan tidak hanya pada produk makanan, tetapi juga pada manajemen dapur, rantai distribusi, dan prosedur kontrol kualitas.

Baca JugaDidemo Terkait Kualitas MBG Ramadhan, SPPG di Pati Stop Beroperasi

Dalam beberapa kasus, makanan yang terindikasi tidak layak telah ditarik sebelum dikonsumsi siswa. Namun, BGN tetap menjatuhkan sanksi administratif sebagai bentuk penegakan standar dan pembelajaran sistemik bagi seluruh penyelenggara.

”SPPG yang di-suspend dapat kembali beroperasi setelah seluruh rekomendasi perbaikan dipenuhi dan dinyatakan lolos verifikasi ulang. Kami ingin memastikan kualitas benar-benar terjaga sebelum layanan dibuka kembali,” katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sopir Truk Tewas Kecelakaan Kerja di Pelabuhan Ciwandan, Pelindo Pastikan Penanganan Cepat Sesuai SOP
• 4 jam lalurctiplus.com
thumb
Kementan Jamin Stok Minyak Goreng Aman hingga Lebaran
• 22 jam laluidxchannel.com
thumb
Andre Rosiade Bagikan 5.000 Paket Sembako untuk Warga Dharmasraya
• 12 jam laludetik.com
thumb
Iran Lumpuhkan Produksi Migas Israel, Qatar, dan Saudi
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
IHSG Melemah 2,66 Persen di Tengah Ketegangan Timur Tengah dan Kenaikan Harga Minyak
• 19 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.