JAKARTA, KOMPAS.com - Berenang di laut tercemar sampah merupakan hal yang lumrah untuk sebagian besar anak-anak di Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara.
Terlahir di kawasan pesisir, membuat anak-anak Cilincing lebih senang memanfaatkan laut sebagai ruang bermain, dibandingkan harus pergi ke Ruang Terbuka Hijau (RTH).
Setiap sore hari, di bibir laut Kalibaru, Cilincing, belasan anak berkumpul untuk berlarian, duduk bersantai, bahkan berenang.
Salah satu anak bernama Rafa (8), mengaku sudah terbiasa berenang di laut lepas, meski harus menyatu dengan banyaknya sampah kiriman.
"Iya sering berenang di sini enak, cuma banyak sampah," ungkap Rafa ketika diwawancarai Kompas.com di lokasi, Jumat (27/2/2026).
Baca juga: Anak Cilincing Berenang di Laut Tercemar: Mama Tak Punya Uang Bayar Tiket Kolam Renang
Rafa bilang, selain sampah, laut di Kalibaru juga terdapat banyak benda tajam seperti, paku, pecahan kaca, kulit kerang, yang sering membuat kakinya terluka.
KOMPAS.com/ SHINTA DWI AYU Anak-anak di Cilincing, Jakarta Utara, manfaatkan laut tercemar sampah sebagai ruang bermain. Juma, (27/2/2026).
Meski begitu, ia dan teman-temannya sama sekali tak kapok untuk berenang di laut, meski selalu tercemar limbah.
Bentuk adaptasi di lingkungan tercemar
Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat, memandang fenomena anak-anak berenang di laut tercemar merupakan salah satu bentuk adaptasi mereka terhadap lingkungan tempat tinggalnya yang sudah lama tercemar.
Saking sudah terbiasanya, mereka menilai laut yang tercemar bukan merupakan masalah, sehingga aman saja jika digunakan untuk berenang.
"Tentu mereka tidak menyadari potensi bahayanya karena faktor sosial, struktural yang membentuk cara pandang mereka terhadap lingkungan ya mungkin sudah terbiasa sejak kecil, karena turun temurun tinggal di situ," kata Rakhmat ketika dihubungi Kompas.com, Jumat.
Baca juga: Di Cilincing, Laut Tercemar Berubah Menjadi Arena Bermain Anak-anak
Rakhmat bilang, ketika lingkungan tercemar dianggap menjadi hal yang normal, maka risiko kesehatan dan keselamatan juga dinilai sebagai sesuatu yang tak bisa dihindari dan harus diterima.
Normalisasi terhadap lingkungan tercemar terjadi karena anak-anak kurang memahami bahayanya atau tidak ada pilihan lain untuk menghindarinya.
Jika normalisasi ini terus terjadi, maka pola pikir anak-anak akan terbentuk, bahwa lingkungan tercemar aman, sehingga tidak perlu melakukan perubahan.
Ke depannya, anak-anak yang hidup dengan penuh menormalisasikan pencemaran akan abai terhadap lingkungan.