Rupiah Menguat di Tengah Penguatan PMI Manufaktur & Memanasnya Timur Tengah

viva.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.848 per Senin, 2 Maret 2026. Posisi rupiah itu melemah 69 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 16.779 pada perdagangan Jumat, 27 Februari 2026.

Baca Juga :
IHSG Menguat Berpotensi Rebound serupa Wall Street saat Bursa Asia-Pasifik Anjlok
BI Tekan Risiko terhadap Rupiah seiring Ekskalasi Konflik di Timur Tengah, Simak Strateginya

Sementara perdagangan di pasar spot pada Selasa, 3 Maret 2026 hingga pukul 09.01 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 16.863 per dolar AS. Posisi itu menguat 5 poin atau 0,03 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.868 per dolar AS.

Ilustrasi mata uang Rupiah.
Photo :
  • Pixabay/IqbalStock

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur Indonesia melanjutkan penguatan ke level 53,8 pada Februari 2026, dari bulan sebelumnya yang berada di angka 52,6. 

S&P Global melaporkan bahwa indeks yang menggambarkan aktivitas manufaktur nasional itu menunjukkan adanya ekspansi solid pada kondisi pengoperasian manufaktur, yang merupakan ekspansi terbesar sejak Maret 2024.

Peningkatan PMI manufaktur utamanya didorong oleh percepatan pertumbuhan permintaan terhadap produk manufaktur Indonesia. Permintaan baru naik selama 7 bulan berturut-turut, dengan tingkat pertumbuhan di posisi paling kuat sejak November 2025. 

Berdasarkan laporan peserta survei, jumlah pelanggan naik dan kepercayaan diri membaik. Data menunjukkan bahwa pertumbuhan total permintaan baru terjadi secara luas, seiring produsen manufaktur Indonesia mencatat kembali peningkatan pesanan ekspor baru untuk pertama kali dalam 6 bulan. Kenaikan pada permintaan ekspor baru merupakan yang paling tajam sejak Mei 2022.

S&P Global mencatat, meningkatnya penjualan telah mendorong perusahaan menaikkan ketenagakerjaan enam kali dalam 7 bulan pada tingkat tertinggi sejak November 2025. Kenaikan jumlah karyawan membantu manufaktur Indonesia meningkatkan produksi pada Februari 2026. Output mengalami ekspansi pada laju tercepat sejak April 2024. 

Ketika terjadi peningkatan, perusahaan mengaitkan hal ini dengan kenaikan permintaan baru. Perusahaan juga mencatat bahwa produksi tambahan digunakan untuk membangun stok untuk bersiap menghadapi kenaikan permintaan mendatang sehingga inventaris pascaproduksi naik selama 4 bulan berjalan.

"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.860- Rp 16.910," ujarnya.

Baca Juga :
Rupiah Melemah dan Berpotensi Tembus Rp 17.000 Imbas Eskalasi Timur Tengah
Rupiah Melemah usai Pemerintah Respons Cepat Pembatalan Tarif Trump oleh MA AS
Dibuka Melemah, IHSG Coba Rebound Imbangi Mayoritas Bursa Asia-Pasifik yang Naik

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dubes Iran : Serangan yang Diluncurkan Iran untuk Membela Diri
• 18 jam lalutvrinews.com
thumb
Perang Bisa Picu Kelangkaan dan Kenaikan Harga Energi, Adopsi EBT Makin Ngebut?
• 22 jam lalukatadata.co.id
thumb
Preview La Liga: Real Madrid vs Getafe , Perburuan Takhta di Tengah Badai Cedera
• 16 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Ariana Ivy Curi Perhatian di Peluncuran Soundtrack Timun Mas in Wonderland
• 5 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Jadwal Salat Hari Ini, Selasa 3 Maret 2026 Untuk Wilayah DKI Jakarta
• 11 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.