Survei: CEO Indonesia Agresif Diversifikasi, 75% Incar Sektor di Luar Bisnis Inti

medcom.id
2 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Menurut PwC’s 29th Global CEO Survey para CEO semakin meningkatkan fokus mereka untuk mentransformasi bisnis, meskipun tekanan jangka pendek terus menguji ketahanan perusahaan. Survei ini didasarkan pada tanggapan 4.454 CEO di seluruh dunia, termasuk dari Indonesia.
 
Lebih dari setengah CEO global (53%) berencana berekspansi di luar industri tradisional mereka dalam tiga tahun ke depan menunjukkan dorongan kuat untuk mencari sumber pertumbuhan baru di tengah lingkungan yang semakin kompleks. 
  Baca juga: Optimasi Workflow Cerdas Dongkrak Pendapatan Manufaktur Global
Di kawasan Asia Pasifik, rencana tersebut sedikit lebih hati‐hati, dengan 37% perusahaan berencana masuk ke sektor baru. Namun di Indonesia, rencana tersebut jauh lebih tinggi, dengan 75% CEO berencana memperluas usaha di luar industri inti mereka.
 
Ekspansi di Indonesia diperkirakan akan berfokus pada industri yang berkembang pesat dan berdekatan, seperti teknologi (22%), listrik dan utilitas (17%), perhotelan dan rekreasi (16%), transportasi dan logistik (15%), serta teknik dan konstruksi (14%).

Para CEO yang telah melakukan ekspansi ke sektor baru dalam lima tahun terakhir mulai melihat hasil yang nyata. Indonesia muncul sebagai negara yang paling aktif melakukan diversifikasi, dengan 56% 
 
CEO menyatakan mereka telah masuk ke industri yang sebelumnya tidak mereka geluti, naik dari 45% pada tahun sebelumnya. Angka ini melampaui rata‐rata global yang berada di 42% dan Asia Pasifik di 29%.
 
Hasilnya pun terlihat signifikan: perusahaan yang berkompetisi di sektor baru dalam lima tahun terakhir menghasilkan rata‐rata 20% pendapatan dari area tersebut. Secara global, angkanya 20%, Asia Pasifik 19%, dan Indonesia mencatat kontribusi tertinggi, yaitu 22%.
 
Sentimen para CEO menunjukkan tanda‐tanda pelemahan dalam jangka pendek. Secara global, 61% CEO memperkirakan kondisi ekonomi akan bergerak ke arah yang lebih baik dalam 12 bulan ke depan, sementara di Asia Pasifik proporsinya sedikit lebih rendah, yaitu 59%.
 
Sikap yang lebih berhati‐hati ini juga terlihat pada ekspektasi pendapatan. Secara global, hanya 30% CEO yang memperkirakan prospek pendapatan mereka akan meningkat dalam satu tahun ke depan turun dari 38% pada 2025. Di Asia Pasifik, tingkat ekspektasi tersebut menurun lebih tajam, dari 34% pada 2025 menjadi 21% pada 2026.
 
Para CEO di Indonesia mengambil pandangan jangka pendek yang lebih berhati‐hati. Hanya 51% yang memperkirakan kondisi ekonomi global akan membaik, dan ekspektasi terhadap prospek pendapatan mereka juga turun dari 35% tahun lalu menjadi 32% tahun ini. Hal ini menunjukkan sikap yang lebih terukur ketika para pemimpin menyeimbangkan ketidakpastian dengan kebutuhan untuk menjaga transformasi jangka panjang.
 
Apa yang mendorong pandangan yang lebih berhati‐hati ini?
 
Di tingkat global, Asia Pasifik, dan Indonesia, volatilitas makroekonomi muncul sebagai kekhawatiran bersama, disebutkan oleh para CEO masing‐masing 31%, 33%, dan 27%. 
Ancaman siber juga menjadi perhatian utama, terutama bagi para pemimpin global dan Asia Pasifik (masing‐masing 31% dan 39%), dan terus menjadi area yang semakin mendapat perhatian di Indonesia (21%).
 
Selain itu, kesenjangan kapabilitas, termasuk talenta dan keterampilan, tetap menjadi tantangan bagi organisasi di Indonesia, dengan 24% CEO menyoroti kekurangan keterampilan sebagai hambatan utama dalam kesiapan menghadapi masa depan.
 
Terkait tarif, isu yang banyak dibahas tahun lalu, tingkat kekhawatiran di kalangan CEO global (20%) lebih rendah dibandingkan CEO Asia Pasifik (24%) dan Indonesia (23%). 
 
Namun bagi CEO Indonesia, dampaknya tampak terbatas: lebih dari setengahnya (56%) memperkirakan bahwa tarif tidak akan membawa perubahan signifikan pada margin laba bersih perusahaan mereka dalam 12 bulan ke depan.
 
Sri Nair, PwC Asia Pasifik Chairman, menyampaikan 2025 menguji ketahanan global dengan pertumbuhan yang lambat, inflasi yang masih bertahan, serta ketidakpastian geopolitik dan perdagangan yang berlanjut.
 
Meskipun Asia Pasifik tetap menjadi pendorong ekonomi global, berbagai risiko, mulai dari meningkatnya tarif hingga kerentanan rantai pasok, terus membayangi kinerja korporasi dalam jangka pendek. Risiko-risiko ini dapat menyita perhatian manajemen atas, sehingga mengalihkan fokus dari perubahan struktural yang lebih mendasar dan tengah membentuk kembali ekonomi global.
 
Dalam lanskap yang terus berkembang ini, CEO yang mampu bertahan dan berhasil adalah mereka yang bertindak dengan tujuan yang jelas, melihat peluang di luar industri tradisional, menghubungkan kapabilitas dengan cara-cara baru, dan lebih awal memposisikan diri untuk sumber pertumbuhan berikutnya.
 
Di tengah tekanan eksternal tersebut, para CEO juga melihat lebih dalam untuk menilai apakah organisasi mereka memiliki kesiapan yang memadai untuk mengikuti skala dan kecepatan perubahan yang terjadi. Isu Jangka Pendek  Survei menunjukkan isu‐isu jangka pendek masih mendominasi agenda para CEO, dengan 84% secara global, 79% di Asia Pasifik, dan 84% di Indonesia berfokus pada prioritas jangka pendek hingga menengah (0–5 tahun). Hal ini menimbulkan pertanyaan penting tentang seberapa besar kapasitas yang tersisa untuk mendorong transformasi jangka panjang yang mereka anggap krusial.
 
Fokus jangka pendek ini tercermin dalam keputusan alokasi modal para CEO:
 
Dalam 12 bulan ke depan, 64% CEO Indonesia dan 60% CEO Asia Pasifik tidak berencana melakukan investasi internasional, dibandingkan dengan 46% secara global. Di antara mereka yang berencana berinvestasi di luar negeri, CEO Indonesia memprioritaskan Singapura, Malaysia, dan Tiongkok, sementara CEO Asia Pasifik lebih cenderung melihat peluang di Amerika Serikat, Vietnam, dan Tiongkok.
 
Secara global dan di Indonesia, 41% CEO lebih berpeluang melakukan setidaknya satu akuisisi besar dalam tiga tahun ke depan, melampaui angka regional yang berada di 28%. 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tambah Pasokan, Pertamina Pastikan LPG 3 Kg Aman Selama Ramadan
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
Bupati Pekalongan Ditangkap KPK
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
KPK Bawa Bupati Pekalongan Fadia Arafiq ke Jakarta Usai OTT di Jateng
• 2 jam lalukompas.com
thumb
Tips Memilih Makanan Instan yang Sehat Selama Ramadan
• 17 jam lalumedcom.id
thumb
HMI Cabang Pekanbaru Apresiasi PT Musim Mas
• 12 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.