Bagaimana Lanskap Ekonomi dan Pola Konsumsi Masyarakat pada Ramadhan 2026?

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Bulan Ramadhan semestinya membuat pengeluaran rumah tangga menurun. Pasalnya, frekuensi makan berkurang, aktivitas nongkrong siang hari menurun, bahkan sebagian orang mengurangi perjalanan dan hiburan.

Namun, realitas menunjukkan hal yang berbeda. Pengeluaran selama bulan puasa justru meningkat, terutama menjelang hari raya Idul Fitri. Ramadhan bahkan selalu menjadi salah satu momen puncak konsumsi bagi masyarakat Indonesia dan juga identik sebagai momentum musiman untuk mendorong ekonomi.

Fenomena tersebut bukan sekadar persepsi. Setiap tahun, pengeluaran rumah tangga meningkat drastis menjelang dan selama bulan suci, terutama untuk kebutuhan pangan, pakaian, dan biaya mudik. Gelombang pergerakan masyarakat lewat arus mudik dan peningkatan belanja masyarakat membuat uang triliunan rupiah berputar menggerakkan roda perekonomian saat Lebaran. Tahun ini pun diperkirakan demikian.

Data Badan Pusat Statistik secara konsisten mencatat adanya inflasi musiman pada periode Ramadhan dan Lebaran, terutama pada kelompok makanan, minuman, dan transportasi. Dalam rilis pertumbuhan ekonomi, pada periode yang bertepatan dengan Ramadhan dan Idul Fitri, hampir selalu terjadi lonjakan konsumsi rumah tangga sebagai faktor musiman.

Bagaimana dengan Ramadhan-Lebaran tahun ini? Akankah perputaran uang menguat lagi sehingga bisa mendongkrak ekonomi? Bagaimana pula dengan pola konsumsi masyarakat selama Ramadhan tahun ini?

Baca JugaLebaran, Saat Bengkel Mobil Menuai Cuan
Konsumsi diprediksi melonjak

Sejumlah indikator menunjukkan Ramadhan dan Lebaran tahun ini diperkirakan akan kembali menjadi momen puncak aktivitas ekonomi di Tanah Air. Aktivitas ekonomi nasional menjelang Ramadhan diperkirakan akan menjadi mesin pertumbuhan nasional. Sebab, peningkatan konsumsi rumah tangga dan mobilitas masyarakat di berbagai sektor, mulai dari transportasi hingga industri makanan, akan menciptakan efek pengganda yang memperkuat produksi dan distribusi nasional.

Momen Ramadhan dan Lebaran tahun ini juga berada dalam kondisi makroekonomi yang relatif solid. Sepanjang tahun 2025 lalu, ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,11 persen, melampaui capaian tahun 2024 yang berada di angka 5,03 persen. Dengan nilai produk domestik bruto (PDB) Rp 23.821,1 triliun, angka ini mencerminkan permintaan domestik yang tetap terjaga kuat pada tahun 2026.

Selain itu, konsumsi selama bulan Ramadhan diperkirakan akan melonjak seiring pencairan tunjangan hari raya (THR) yang dilakukan dalam dua gelombang, yakni aparatur sipil negara (ASN) pada Februari dan sektor swasta pada Maret. Tidak hanya meningkatkan konsumsi secara instan, gelombang pencairan THR tersebut juga akan memperpanjang periode belanja masyarakat.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan bahwa THR untuk ASN dicairkan pada Kamis, 26 Februari 2026. Untuk kebutuhan THR 2026, pemerintah telah mengalokasikan anggaran Rp 55 triliun. Angka tersebut naik 10,22 persen dibandingkan dengan 2025 yang bernilai Rp 49 triliun.

Sementara itu, untuk pekerja swasta, Kementerian Ketenagakerjaan membuka peluang agar pembayaran THR  dilakukan paling lambat 14 hari sebelum Idul Fitri. Selama ini, aturan pembayaran THR dilakukan paling lambat H-7 Lebaran. Namun, pemerintah mempertimbangkan skema H-14 seiring kebijakan work from anywhere (WFA) menjelang libur Lebaran.

Baca JugaMeski Pemudik Diprediksi Turun, Bisnis Perhotelan Optimistis Menyambut Libur Lebaran 2026

Dana tersebut diharapkan tidak hanya mempertebal kantong para ASN ataupun karyawan, tetapi juga memutar roda ekonomi nasional selama masa Ramadhan hingga Lebaran tahun ini. Selain itu, kondisi tersebut juga bisa menciptakan fenomena yang disebut extended spending window, yakni periode konsumsi yang lebih panjang sehingga aliran likuiditas ke sektor ritel, distribusi, dan jasa menjadi lebih stabil.

Indikator lain akan terjadinya peningkatan pengeluaran konsumsi di masyarakat Indonesia terlihat dari jumlah penukaran uang baru atau uang lebaran yang meningkat. Menghadapi Lebaran tahun ini, Bank Indonesia (BI) menyiapkan dana Rp 185,6 triliun untuk kebutuhan penukaran uang di seluruh Indonesia. Uang tunai tersebut akan disalurkan melalui semua kantor perwakilan BI yang bekerja sama dengan kantor-kantor perbankan.

Jumlah ini mengalami peningkatan Rp 5 triliun dibandingkan tahun 2025. Pada periode tahun lalu, BI menyiapkan uang lebaran senilai Rp 180,9 triliun. Tak hanya itu, jumlah paket penukaran juga mengalami peningkatan.

Lanskap ekonomi Ramadhan

Lantas, bagaimana dengan pola konsumsi dan belanja masyarakat selama bulan Ramadhan hingga Lebaran nanti? Sejumlah proyeksi dan riset dari beberapa perusahaan menunjukkan adanya perubahan dan pergeseran masyarakat Indonesia dalam berbelanja selama bulan Ramadhan-Lebaran tahun ini.

Salah satu proyeksinya dikemukakan oleh Visa, perusahaan sistem pembayaran global. Lanskap ekonomi Ramadhan di Indonesia pada 2026 diprediksi akan mengalami transformasi digital yang masif.

Pengeluaran konsumen sepanjang Ramadhan dan periode Idul Fitri diperkirakan meningkat karena didorong adopsi pembayaran digital yang semakin luas, aktivitas belanja yang lebih kuat pada akhir bulan, dan meningkatnya permintaan dari sektor perjalanan (travel).

Baca JugaHiruk-pikuk Pasar Tanah Abang Berhenti Kala Azan Berkumandang

Laporan tersebut menegaskan bahwa total belanja menggunakan kartu (debit/kredit) pada Ramadhan 2026 diperkirakan melampaui capaian tahun sebelumnya. Fenomena ini didorong oleh kuatnya konsumsi domestik serta penetrasi teknologi pembayaran nirsentuh (contactless), e-commerce, dan transaksi di dalam aplikasi (in-app) yang merata di seluruh Indonesia.

Salah satu temuan kunci dalam laporan ini adalah terbentuknya perilaku konsumen yang semakin hybrid. Saat ini, 62 persen masyarakat Indonesia telah terbiasa berbelanja daring dua hingga tiga kali per bulan. Hal ini menegaskan perilaku konsumen yang semakin gencar menggabungkan belanja daring dan luring (offline). Integrasi antara pencarian produk secara online dan eksekusi pembelian secara offline kini telah menjadi standar baru bagi konsumen Tanah Air.

Visa memproyeksikan aktivitas belanja digital akan semakin intensif pada paruh kedua bulan Ramadhan. Puncak transaksi diperkirakan terjadi pada pekan ketiga seiring dengan meningkatnya pembelian tiket perjalanan (mudik), pengiriman hadiah (parsel), serta persiapan kebutuhan hari raya yang dilakukan melalui platform digital.

Pemanfaatan AI

Sementara itu, studi global yang dirilis IBM bersama National Retail Federation (NRF) mengungkap, momen Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini tidak hanya menjadi peningkatan aktivitas  belanja di toko fisik, tetapi juga meningkatnya pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam mendukung belanja konsumen.

Dalam laporannya, studi global itu menyebut, 45 persen konsumen kini memanfaatkan AI dalam pengambilan keputusan berbelanja mereka. AI digunakan untuk meriset produk, menafsirkan ulasan, hingga mencari promosi terbaik.

Toko fisik tetap ramai, tetapi keputusan pembelian banyak ditentukan di ponsel. Sebelum membeli, konsumen kebanyakan melakukan perbandingan harga, mengecek ulasan, hingga menyaring promo yang tersedia sebelum akhirnya masuk ke pusat perbelanjaan.

Baca JugaSaatnya Berburu Busana Muslim di Bazar Mal

Laporan IBM mengungkap, 41 persen menggunakan AI untuk mencari informasi produk. Lalu, 33 persen memakainya untuk menafsirkan ulasan, dan 31 persen untuk berburu penawaran terbaik. Laporan IBM juga menyebut, 35 persen responden masih ingin berbelanja di toko dengan tampilan menarik dan belanja tanpa antrean.

Satu dari tiga konsumen mengincar super app yang mengintegrasikan belanja dengan layanan lain. Sekitar 30 persen berharap ada ekosistem rumah pintar dengan personal shopper berbasis AI dan pengiriman otonom. Lalu, 29 persen ingin proses belanja makin mudah lewat platform sosial.

Temuan ini menegaskan, konsumen kini datang ke toko dengan preferensi lebih terarah dan tujuan pembelian yang semakin jelas berkat dukungan perangkat digital. Perubahan ini mencerminkan ekspektasi konsumen yang terus berkembang. Mereka kini semakin terintegrasi dalam memanfaatkan kanal ritel fisik dan digital. Konsumen tetap ingin melihat dan mencoba produk secara langsung, tetapi pengambilan keputusan semakin dipengaruhi teknologi.

Produk yang banyak dibeli

Glance dan InMobi Advertising, bekerja sama dengan WPP Media, juga mengungkap momen belanja terbesar di Indonesia pada Ramadhan 2026 dalam laporannya, ”Glance into the Future: Win Indonesian Consumers in the Age of AI during Ramadan and Beyond”.

Hasil riset InMobi mencatat, 74 persen konsumen diperkirakan akan meningkatkan alokasi dana belanja Ramadhan dibandingkan tahun lalu. Meski daya beli dinilai belum sepenuhnya pulih, Ramadhan tahun ini tetap menjadi momentum belanja utama untuk kebutuhan fungsional.

Jika mengutip data tahun lalu, satu dari dua konsumen di Indonesia akan membelanjakan lebih dari Rp 3 juta pada bulan Ramadhan 2025, dengan 22 persen di antaranya akan membelanjakan lebih dari Rp 5 juta. Laporan Glance juga memaparkan, 58 persen pembeli di Indonesia mulai melakukan belanja kebutuhan Ramadhan sejak empat minggu sebelum memasuki bulan suci.

Data internal Sirclo menunjukkan, lonjakan aktivitas belanja online terjadi dalam dua minggu sebelum puasa. Kategori yang paling banyak dicari didominasi produk kecantikan dan perawatan tubuh, perawatan kesehatan (healthcare), dan mode.

Baca JugaKenaikan Tertinggi Harga Bahan Pokok Diprediksi Terjadi di Pekan Ketiga Ramadhan

Produk kecantikan dan perawatan tubuh menjadi salah satu primadona lantaran kebutuhan perawatan diri meningkat seiring persiapan Idul Fitri. Promo bundling dan diskon awal Ramadhan juga mendorong kenaikan transaksi pada produk ini.

Kategori perawatan kesehatan juga mencatatkan pertumbuhan. Vitamin, suplemen, dan produk kesehatan lain diminati untuk menjaga stamina selama puasa. Tren ini memperlihatkan kesadaran konsumen terhadap aspek kesehatan.

Sementara itu, mode tetap menjadi magnet belanja. Pakaian muslim, sepatu, dan aksesori untuk hari raya mengalami kenaikan permintaan. Konsumen mulai berbelanja lebih awal untuk menghindari lonjakan harga mendekati Lebaran.

Selain tiga kategori utama tersebut, segmen fast-moving consumer goods juga menunjukkan peningkatan nilai transaksi. Konsumen cenderung membeli kebutuhan pokok dalam jumlah lebih besar. Strategi ini dilakukan untuk efisiensi pengeluaran selama sebulan penuh. (LITBANG KOMPAS)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jadwal Imsak Puasa Ramadhan 2026 Jogja, Hari Ini 3 Maret 2026 dan Waktu Subuh
• 9 jam lalurctiplus.com
thumb
“Cukup Aku Aja yang WNI”: Dari Bahasa Flexing ke Sanksi Sosial
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Insanul Fahmi Berjuang Pertahankan Rumah Tangga di Tengah Gugatan Wardatina Mawa, Minta Situasi Diredam
• 18 jam lalugrid.id
thumb
Festival Ramadan Bareng Tring! by Pegadaian Hadir di 10 Kota Besar Indonesia
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Saham MEDC, BNBR dan BUMI Ramai Diburu tatkala IHSG Kembali Anjlok 2,65%
• 11 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.