Qatar untuk pertama kalinya dalam 30 tahun menghentikan produksi gas alam cair (LNG) di fasilitas ekspor terbesarnya pada Senin (2/3), menyusul serangan drone di tengah eskalasi perang Israel-Iran. Fasilitas LNG Ras Laffan milik QatarEnergy menyumbang sekitar seperlima pasokan LNG dunia.
QatarEnergy telah menyatakan force majeure atau keadaan kahar, klausul yang memungkinkan perusahaan menunda pengiriman LNG tanpa penalti akibat kejadian di luar kendali.
Penghentian total produksi di kompleks tersebut menjadi yang pertama dalam sejarah operasionalnya dan langsung menggangu pasokan gas alam dunia.
Sejauh ini belum ada laporan kerusakan fisik besar di fasilitas tersebut. Namun, ketidakpastian durasi penghentian produksi menjadi perhatian utama pasar.
"Ini belum pernah terjadi dalam sejarah LNG. Kapasitas penyimpanan LNG global jauh lebih kecil dibanding minyak, sehingga lonjakan harga spot hampir tak terhindarkan. Rantai pasok LNG hampir tidak punya ruang cadangan," kata Richard Pratt dari Precision LNG Consulting dikutip dari Bloomberg, Selasa (3/3).
Imbas gangguan pasokan itu, harga gas acuan Eropa melonjak hingga 39 persen dalam sehari, kenaikan terbesar dalam empat tahun, dan sempat menyentuh level tertinggi dalam setahun. Kontrak berjangka gas front-month Belanda (TTF) ditutup di €44,51 per megawatt-jam, tertinggi sejak Maret 2025.
Lonjakan ini terjadi di tengah kondisi persediaan gas Eropa yang relatif rendah. Kawasan tersebut membutuhkan impor LNG dalam jumlah besar pada musim panas untuk mengisi kembali cadangan sebelum musim dingin.
Pengiriman LNG dari Timur Tengah juga terganggu karena kapal tanker banyak yang menghentikan pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi global.
Jika gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz berlangsung selama sebulan, analis memperkirakan harga gas Eropa bisa melonjak lebih dari dua kali lipat.
Efek Domino ke Batu BaraKenaikan harga gas turut memicu lonjakan harga batu bara karena pembangkit listrik beralih bahan bakar (fuel switching) untuk menjaga pasokan listrik.
Kontrak batu bara Newcastle yang menjadi acuan Asia melonjak 8,6 persen menjadi USD 128,70 per ton. Ini merupakan kenaikan terbesar dalam tiga tahun dan tertinggi untuk kontrak bulan terdepan sejak Desember 2024.
Di Asia, sejumlah negara yang bergantung pada LNG Qatar mulai menyiapkan langkah antisipasi. Taiwan menyatakan akan meningkatkan penggunaan pembangkit listrik tenaga batu bara jika gangguan pasokan gas berlangsung lama.
Saham produsen batu bara Australia pun terdongkrak. Whitehaven Coal Ltd. dan New Hope Corp. sempat melonjak lebih dari 5 persen di Sydney dan menjadi salah satu penguat utama di indeks S&P/ASX 200.
Selain Qatar, Israel juga sempat menutup sementara beberapa ladang gasnya, termasuk Leviathan, sehingga memperketat pasokan regional dan mendorong negara-negara importir seperti Mesir mencari tambahan kargo LNG.
Meski Amerika Serikat berpotensi meningkatkan ekspor LNG, tambahan pasokan tersebut dinilai belum cukup untuk menggantikan volume besar dari Qatar dalam jangka pendek.
Eskalasi konflik Israel, Iran yang terus berlangsung kini membuka babak baru krisis energi global, dengan pasar gas dan batu bara menjadi yang paling merasakan dampaknya.





