Iran, VIVA – Iran mengumumkan dibentuknya dewan transisi tiga anggota untuk menangani urusan negara setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei. Dia adalah Ayatollah Alireza Arafi yang juga anggota lembaga pengawas konstitusi berpengaruh di Iran menjadi pemimpin tertinggi sementara Iran. Sementara itu, dua anggota lainnya adalah Presiden Masoud Pezeshkian dan Ketua Mahkamah Agung Gholam-Hossein Mohseni-Ejei.
“Dewan penentu kebijakan telah memilih Ayatollah Alireza Arafi sebagai anggota dewan kepemimpinan sementara,” kata juru bicara dewan penentu kebijakan, Mohsen Dehnavi dikutip dari laman Al Jazeerah, Selasa 3 Maret 2026.
Ulama 67 tahun ini, yang juga anggota Dewan Pengawas (Guardian Council) yang nantinya akan memilih pemimpin tertinggi baru, disahkan oleh Dewan Kepentingan Nasional (Expediency Council), sebuah badan arbitrase yang berpengaruh.
Berdasarkan Pasal 111 Konstitusi Iran, dewan transisi ini akan memimpin negara hingga panel beranggotakan 88 orang yang disebut Majelis Ahli (Assembly of Experts) memilih pemimpin tertinggi baru, setelah hampir 37 tahun Iran dipimpin oleh Khamenei.
Kematian Khamenei pada Sabtu akibat serangan gabungan AS dan Israel menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan Iran.
Meski dewan kepemimpinan akan menjalankan pemerintahan sementara, Konstitusi Iran menegaskan bahwa Majelis Ahli harus segera memilih pemimpin tertinggi baru.
Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) dan kepala keamanan Iran, Ali Larijani, diperkirakan juga akan memegang peran penting dalam dewan transisi ini. Namun, belum jelas bagaimana keseimbangan kekuatan di antara mereka akan berjalan.
Komandan IRGC juga tewas dalam serangan AS-Israel pada Sabtu menjadi kematian kedua seperti ini dalam waktu kurang dari setahun dan pemimpin baru pasukan militer dan ekonomi elite ini belum diumumkan.
Beberapa kanal Telegram yang terkait IRGC menyebut wakil kepala Ahmad Vahidi, yang dua bulan lalu ditunjuk Khamenei, sebagai kandidat yang kemungkinan akan memimpin.
Sebelumnya pada Minggu, Larijani menuding AS dan Israel berusaha menjarah dan memecah-belah Iran, serta memperingatkan kelompok separatis di dalam negeri bahwa tindakan mereka akan mendapat respons keras, menurut media negara.
“Para prajurit pemberani dan bangsa besar Iran akan memberi pelajaran yang tak terlupakan bagi penindas internasional,” ujarnya.





