Rapuhnya Fondasi Pertumbuhan

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Narasi tentang kuatnya ekonomi Indonesia memang bukanlah klaim kosong. Pemerintah berulang kali menekankan bahwa struktur pertumbuhan kita ditopang oleh konsumsi domestik yang besar, membuat ekonomi relatif lebih tahan terhadap gejolak eksternal. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa mayoritas aktivitas ekonomi nasional digerakkan oleh permintaan dalam negeri. Ketidakpastian global seperti perlambatan industri Tiongkok, fragmentasi geopolitik, volatilitas harga komoditas tidak serta merta mempengaruhi perekonomian Indonesia secara masif. Indonesia tidak sepenuhnya bergantung pada ekspor karena denyut ekonominya berada di pasar domestik.

Optimisme ini diperkuat oleh data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV 2025 mencapai 5,39% secara year-on-year, ataupun 5,11% sepanjang tahun 2025, dengan konsumsi rumah tangga sebagai penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Ketimpangan Struktur

Namun di balik optimisme makro tersebut, terdapat pertanyaan yang perlu diajukan secara serius, yaitu apakah struktur industrinya sudah cukup sehat untuk menopang fondasi yang disebut kuat itu? Di sinilah persoalannya. Fondasi memang kokoh dalam angka agregat, tetapi struktur di dalamnya masih timpang.

Ketika kita menggali lebih dalam struktur pasar tenaga kerja dan struktur industri, gambaran yang muncul jauh lebih kompleks. Publikasi BPS menunjukkan bahwa sekitar 59,4% dari total tenaga kerja Indonesia masih bekerja di sektor informal pada Februari 2025. Bahkan dalam skala regional, persentase pekerja informal di Sulawesi Barat di tahun 2025 mencapai lebih dari 70% dari total angkatan kerja. Ini berarti mayoritas pekerja berada di posisi yang rentan dari sisi perlindungan sosial, kontrak kerja, dan akses terhadap kesempatan yang produktif.

Sektor informal atau gig economy menjadi cerminan jelas kontradiksi. Di atas kertas, sektor ini mencerminkan fleksibilitas dan adaptasi digital. Platform mempertemukan penawaran dan permintaan dengan cepat, membuka peluang kerja tanpa birokrasi berbelit. Tetapi dalam praktiknya, banyak pekerja berada dalam relasi yang asimetris di mana pendapatan bersifat fluktuatif, proteksi sosial minim, dan posisi tawar lemah. Fleksibilitas sering kali berarti ketiadaan jaminan. Produktivitas individu memang bergerak, tetapi tanpa kepastian akumulasi kesejahteraan jangka panjang.

Jika konsumsi domestik adalah mesin utama ekonomi, maka kualitas konsumsi itu sangat ditentukan oleh kualitas pendapatan rumah tangga. Ketika sebagian besar tenaga kerja terserap dalam sektor dengan produktivitas rendah dan perlindungan terbatas, daya beli menjadi rapuh. Konsumsi tetap terjadi, tetapi bersifat survival, bukan akumulatif. Ia menjaga mesin tetap hidup, tetapi tidak mendorong lompatan struktural.

Cara Pandang Harus Berubah

Masalahnya bukan pada narasi bahwa fondasi domestik kuat, melainkan pada asumsi implisit bahwa kekuatan permintaan otomatis berarti kesehatan struktur produksi. Struktur industri Indonesia masih ditandai oleh dualisme di mana sektor formal yang relatif efisien dan terkonsolidasi berjalan tidak seimbang dengan sebagian besar pelaku usaha bergerak di ruang semiformal atau informal. Rantai nilai sering pendek, hilirisasi belum merata, dan mobilitas naik kelas dari mikro ke kecil atau dari kecil ke menengah masih terhambat akses pembiayaan, kepastian regulasi, serta kapasitas manajerial.

Dalam kondisi seperti ini, ketahanan makro bisa menutupi kerentanan mikro. Statistik pertumbuhan tetap stabil, defisit terkendali, konsumsi bergerak. Namun di tingkat rumah tangga, risiko tetap tinggi. Ketika terjadi guncangan karena kenaikan biaya hidup, penurunan pesanan, perubahan algoritma platform, pekerja informal tidak memiliki shock absorber yang memadai. Fondasi makro tidak otomatis menjadi jaring pengaman mikro.

Reformasi Formal, Pembiayaan Murah Terarah, dan Pembagian Risiko Bersama

Karena itu, pembenahan tidak bisa berhenti pada retorika formalitas atau sekadar perluasan basis pajak. Reformasi harus menyentuh desain institusional yang konkret. Formalisasi perlu dibangun berbasis insentif, bukan hukuman di mana registrasi usaha mikro dan pekerja platform dibuat otomatis, sederhana, dan langsung terhubung dengan akses pembiayaan. Dengan begitu, ketika seseorang mendaftar, ia otomatis memperoleh perlindungan kesehatan dan skema tabungan hari tua berbasis kontribusi ringan. Formalitas menjadi pintu masuk manfaat, bukan beban administratif.

Di sisi industri, fokus kebijakan harus bergeser dari sekadar penciptaan lapangan kerja numerik menuju peningkatan produktivitas. Insentif fiskal dan pembiayaan murah perlu diarahkan pada sektor yang memperpanjang rantai nilai domestik seperti manufaktur berbasis komponen lokal, pengolahan pangan terintegrasi, dan jasa bernilai tambah tinggi agar usaha kecil dapat naik kelas menjadi bagian dari rantai pasok formal. Inilah mobilitas struktural yang mengubah konsumsi berbasis survival menjadi akumulatif.

Relasi antara platform digital dan pekerja juga harus dibenahi melalui skema pembagian risiko yang lebih seimbang. Model kontribusi bersama antara platform, pekerja, dan negara dapat mendanai perlindungan dasar seperti asuransi kecelakaan tanpa memaksakan status pegawai tetap. Struktur yang kuat bukan sekadar besar, melainkan efisien dan inklusif.

Menuju Struktur yang Merata

Optimisme perlu, tetapi ia harus dibarengi evaluasi struktural yang jujur. Fondasi ekonomi Indonesia mungkin kuat dalam arti makroekonomi. Namun selama sebagian besar pelakunya masih bergerak di wilayah informal yang rentan, kekuatan itu belum sepenuhnya solid. Tantangan kita bukan membuktikan bahwa ekonomi baik-baik saja, melainkan memastikan bahwa struktur industrinya cukup kokoh untuk membuat pertumbuhan terasa aman, produktif, dan berkelanjutan bagi mayoritas pekerja.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gunung Lewotobi Laki-Laki Meletus 2 Kali Siang Ini, Kolom Abu Capai 1.500 Meter
• 7 detik lalurctiplus.com
thumb
Jadwal Imsakiah Ramadan di Kupang Hari Ini 2 Maret 2026, Lengkap Niat Puasa
• 10 jam lalurctiplus.com
thumb
SBY Mengenang Try Sutrisno: di Atas Segalanya, Beliau Negarawan
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
Ada Fitur Simulasi Biaya di PLN Mobile, Estimasi Makin Transparan Tanpa Perantara
• 17 jam laluterkini.id
thumb
Intip Strategi Menangguk Cuan Saham Emas ANTM, ARCI Cs Saat Perang Memanas
• 19 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.