CELEBESMEDIA.ID, Makassar – Kinerja perhotelan di Sulawesi Selatan pada awal tahun 2026 menunjukkan perlambatan. Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel merilis, Senin (2/3), tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang pada Januari 2026 tercatat sebesar 44,76 persen, turun 8,57 poin dibandingkan Desember 2025 yang mencapai 53,33 persen.
Secara tahunan, angka ini juga sedikit melemah. Jika dibandingkan Januari 2025 yang sebesar 45,93 persen, TPK hotel bintang turun 1,17 poin.
Secara tahunan (year-on-year), penurunan okupansi terjadi pada hotel bintang 1 serta bintang 4 dan 5. Penurunan terdalam dialami hotel bintang 4 dan 5 yang turun 8,62 poin, disusul hotel bintang 1 sebesar 4,54 poin.
Sementara secara bulanan (month-to-month), penurunan terjadi di seluruh kelas hotel bintang. Hotel bintang 4 dan 5 kembali mencatat penurunan paling tinggi yakni 17,33 poin. Diikuti hotel bintang 3 sebesar 5,31 poin dan hotel bintang 1 sebesar 3,71 poin.
Kondisi ini menunjukkan segmen hotel kelas atas cukup terdampak pada awal tahun, kemungkinan dipengaruhi berakhirnya musim liburan dan kegiatan akhir tahun.
Berbeda dengan hotel berbintang, TPK hotel non bintang dan akomodasi lainnya pada Januari 2026 mencapai 19,15 persen. Angka ini turun tipis 0,62 poin dibandingkan Desember 2025 yang sebesar 19,78 persen.
Namun secara tahunan, hotel non bintang justru menunjukkan perbaikan. Dibandingkan Januari 2025 yang sebesar 18,37 persen, terjadi kenaikan 0,78 poin pada Januari 2026.
Ini menandakan segmen akomodasi non bintang relatif lebih stabil dan masih diminati, terutama oleh wisatawan domestik dengan anggaran terbatas.
Rata-rata lama menginap (RLM) tamu di hotel bintang Sulawesi Selatan pada Januari 2026 tercatat 1,47 malam, turun 0,07 poin dibandingkan Januari 2025.
Jika dilihat lebih rinci, rata-rata lama menginap tamu asing 2,32 malam, turun 0,84 poin dibandingkan Desember 2025 (3,16 malam).
Rata-rata lama menginap tamu domestik 1,46 malam, naik tipis 0,02 poin dibandingkan Desember 2025 (1,44 malam).
Penurunan durasi menginap tamu asing menjadi salah satu faktor yang ikut menekan kinerja hotel berbintang, khususnya di kelas menengah atas.




