Dongeng untuk Para Tua Bangka

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Usai membaca Don Quixote yang masyhur itu, saya menemukan satu hal yang rasanya seperti sebuah sengatan: orang yang sudah memasuki usia tua, juga memerlukan dongeng. Tentu bukan dongeng seperti puteri yang mencari pangeran. Lebih dari itu, para tua itu memerlukan dongeng dengan sedikit modifikasi. Dan saya mencoba menyusun dongeng-dongeng tersebut agar lebih cocok untuk mereka.

Si Duyung Kecil

Di kedalaman air. Lebih dalam dari sebuah kutukan untuk sedang bekerja menghancurkan sebuah negeri, hidup duyung kecil yang selalu mendambakan dunia dengan indah. Ia menyukai tempat tinggalnya, namun harus merantau untuk bisa menghidupi dirinya dan keluarganya.

Di suatu waktu yang begitu gelap dan temaram, ia mengambang di permukaan air. Ia terpukau dengan gemerlap bintang dan kapal-kapal yang hilir-mudik. Ketika merambat mengikuti satu arus ke arus lainnya, wajahnya terbentur dengan keras dan ia mengaduh. “Sebuah pagar laut!” begitu katanya.

Datanglah duyung kecil itu ke penyihir laut. Ia ingin memiliki kaki dan menuntut si perusak laut, laut miliknya, laut milik pencipta alam semesta. “Kau tahu konsekuensinya, kan?” kata si penyihir laut.

“Ya. Aku tak bisa bernyanyi lagi,” jawab duyung kecil dengan berani.

Penyihir laut menggelengkan kepalanya. “Ketika kau sudah punya kaki, menjadi manusia, kau bukan hanya tak bisa bernyanyi, tapi kau juga akan dibungkam tak bisa bersuara lagi.”

Bebek Buruk Rupa

Di sebuah kolam penuh dengan eceng gondok dan capung-capung yang berkerumun, terdapat seekor itik yang terdiam dan melihat saudara-saudaranya dari jauh. Tubuhnya bongsor, bulunya abu, tak seperti saudaranya yang berbulu putih dengan badan semampai dan langsing. Ia bersedih karena perlakuan terhadapnya berbeda dari saudara-saudaranya.

Si induk turut memandang sedih. Dari jauh, kawan si induk berkata padanya, “Walau buruk rupa dan kelihatan lebih tua, sayangi dia apa adanya.”

Si induk berkata dengan lirih, “Oh, Tuhan, tentu saja. Dengan segala jiwa dan raga.”

“Lalu kenapa kau bersedih?”

“Ini tentang masa depan anakku yang kelabu itu. Di sebuah negeri yang katanya sedang menyongsong masa keemasan, mereka yang buruk rupa dan melewati usia dua lima akan sulit mendapatkan pekerjaan.”

Gadis Korek Api

Dalam sebuah perjalanan pulang ketika salju mulai membadai, seorang gadis kecil meringkuk di pinggir jalan. Ia hanya terhalang sebuah bangunan lapuk yang sudah ditinggalkan. Ia tak kuat untuk meneruskan perjalanan pulang karena perutnya lapar dan ia kedinginan.

Ia merogoh kantongnya, hanya dijumpai sebuah korek api. Ia buka pelan-pelan dengan tangan yang bergetar, pandangan matanya mulai nanar, dan penciumannya mulai tak peka. Dengan sisa kekuatan ia jentikkan sisa korek api dan api mulai menyala.

Dalam sebuah cahaya kecil itu, imajinasinya mulai berkelana. Ia membayangkan rumah yang hangat, peluk keluarga, dengan makanan hangat di antara mereka. Ketika gadis itu mulai menutup mata, ia meninggal bersama dengan imajinasinya tentang sebuah hal-hal baik yang tak bisa lagi ia wujudkan.

Pangeran yang Manja

Seorang pangeran congkak mendatangi pemukiman warga dengan marah-marah. Ia ingin dibuatkan lukisan bergambar dirinya dan diletakkan di alun-alun. Rakyat tak terima. Mereka menganggap bahwa alun-alun itu milik publik. “Semua tak bisa kau dapatkan walau kau anak seorang Raja,” kata salah satu rakyat.

Suatu pagi, rakyat melongok ke alun-alun dan mereka terkejut. Pangeran senang karena melihat wajah kaget para rakyatnya. Di tengah alun-alun, terpampang wajah pangeran. Masalahnya, lukisan itu jelek sekali. “Apakah dia tidak malu bahwa hasil AI itu jelek sekali?” tanya warga.

“Sudahlah. Lupakan saja. Uang dan kuasa tidak bisa membeli malu, Bung,” jawab yang lainnya dengan berbisik.

Celengan Babi

Di antara mainan di sebuah kamar milik bocah cengeng, Celengan Babi merupakan yang paling sombong. Ia merasa bisa untuk membeli segala hal, tidak seperti mainan lain yang hanya digerakkan oleh si anak cengeng itu. “Kita beda kasta. Kita beda jauh dalam berbagai hal,” kata si Celengan.

Pada suatu hari, para mainan itu bermain peran. Mereka memikirkan tentang masa depan, apa-apa yang terjadi pada diri mereka bertahun-tahun setelahnya. Mainan mobil itu mengatakan, ia akan diserahkan pada panti asuhan. Ia senang karena di sana akan banyak anak-anak yang akan memainkannya. Begitu juga dengan mainan lain, mereka bergembira akan kemungkinan tentang masa depan.

Sedang Celengan itu murung. Boneka Beruang bertanya, kenapa ia begitu murung usai bermain bersama. Celengan Babi itu mengatakan, “Aku akan dipecah oleh si bocah cengeng itu dan uang di dalam tubuhku akan diambil.”

Bonek Beruang menjawab, “Setidaknya saat kau dipecah, kau benar-benar berguna untuk pertama kalinya.”

Puteri Salju

Seorang penyihir sedang memandang wajahnya di depan cermin ajaib. Katanya, “Wahai Cermin Ajaib, siapa manusia paling cantik di kerajaan ini?” Dengan memejamkan mata dan merentangkan tangan, berharap Cermin Ajaib merapalkan namanya seperti yang sudah-sudah, justru nama Putri Salju yang cermin itu katakan sebagai jawaban.

Ketika mencoba untuk membunuh Putri Salju dengan menculik dan mengasingkan ke pulau penuh malaria, para kurcaci yang ketakutan itu menyarankan agar Penyihir melakukan pemilihan umum saja. “Ajak masyarakat mencoblos, siapa yang paling cantik.”

Selama masa kampanye, Putri Salju mengajak berdiskusi tentang masalah kecantikan kepada para rakyat kerajaan. “Bukan tentang masalah cantik, namun ini semua tentang berdaya. Setiap manusia memiliki kekuatan sendiri-sendiri untuk menjadi berdaya,” begitu kata Putri Salju.

Sedangkan Penyihir melakukan kampanye dengan cara yang lain. Ia menyihir kerajaan agar mendukung kampanyenya. Ia menggelontorkan banyak dana yang agar memikat hati para warga. Pesta dan tarian diadakan siang dan malam hanya untuk menggoda rakyat kerajaan agar memilih dirinya sebagai manusia paling cantik seantero kerajaan.

Penghitungan suara usai dan penyihir itu menang telak. Putri Salju memberikan selamat sedangkan Penyihir tertawa terbahak-bahak. Penyihir itu terbang dengan sapu miliknya, kembali ke huniannya yang mewah di sebuah pedesaan luas.

Penyihir itu lantas mendatangi cermin, memandang wajahnya yang mulai tua. Iseng ia bertanya, “Wahai Cermin Ajaib, siapa manusia paling cantik di kerajaan ini?”

Sedikit menelan ludah, tersenyum dengan terpaksa, Cermin Ajaib berkata, “Te… Tentu saja kau, Penyihir.” Penyihir itu tertawa dan bahagia. Sedang Cermin Ajaib kembali sibuk menghitung uang yang ia terima.

*

Maka begitulah dongeng-dongeng untuk orang tua. Dongeng itu diciptakan sebagai pengantar tidur agar nyenyak. Namun sebagian dari mereka akan menganggap bahwa dongeng-dongeng itu, jika menyesuaikan usia dan kondisi mereka, maka bukan lagi sekadar hiburan, melainkan sesuatu yang menakutkan. Sesuatu yang akan mengingatkan mereka pada banyak hal. Sialnya, kita, yang muda-muda, akan terus mengingatkan dengan berbagai cara.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menjelajahi Bali Lebih Dalam lewat Program Eksplorasi Budaya
• 16 jam lalumediaindonesia.com
thumb
20 Lagu Pengakuan Dosa untuk Memohon Pengampunan
• 12 jam lalutheasianparent.com
thumb
92.390 Tiket Mudik KA Jarak Jauh untuk Keberangkatan dari Kota Bandung Terjual
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Bubah Alfian & Raisa Ternyata Hampir Tertahan di Bandara Dubai Imbas Serangan di Iran
• 4 jam lalucumicumi.com
thumb
Video Nizam Sakit di Dalam Rumah Beredar, Ketua RW Ungkap Warga Sempat Dengar Keributan
• 15 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.