Konflik Timur Tengah Diprediksi Picu Lonjakan Harga Energi dan Inflasi di Eropa

pantau.com
2 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Kepala Ekonom Swedbank di Latvia Liva Zorgenfreija menyatakan konflik di Timur Tengah akan menyebabkan peningkatan harga bahan bakar dan gas di seluruh Eropa yang berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya.

Dalam wawancara pada Senin 2 Maret yang diberitakan Xinhua dari Riga, Zorgenfreija mengatakan kepada kantor berita LETA bahwa berbagai peristiwa di Timur Tengah kembali menyoroti risiko klasik ekonomi global berupa gangguan rantai pasokan sumber daya energi.

Ia menjelaskan eskalasi konflik termasuk serangan terhadap Iran dan infrastruktur minyak negara tersebut serta penghentian sementara pelayaran yang melintasi Selat Hormuz.

Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia mengalir melalui Selat Hormuz sehingga gangguan di jalur tersebut memicu reaksi harga tajam di pasar.

Media Iran melaporkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) telah menutup selat tersebut untuk pelayaran karena jalur air itu dinyatakan tidak aman akibat serangan Amerika Serikat dan Israel.

Seiring meningkatnya ketegangan regional, lalu lintas kapal melalui selat tersebut menurun signifikan sejak Sabtu 28 Februari berdasarkan sumber pemantau data pelacakan kapal.

Zorgenfreija menguraikan bahwa konflik menyebabkan harga energi lebih tinggi di seluruh dunia termasuk di Latvia.

Dalam skenario terburuk, harga minyak Brent dapat menembus 100 dolar AS per barel dengan kurs 1 dolar AS setara Rp16.779.

Harga gas juga berpotensi meningkat dua kali lipat.

Ia menekankan bahwa kenaikan harga energi sangat bergantung pada durasi konflik, lamanya penghentian sementara pelayaran di Selat Hormuz, serta sejauh mana produksi minyak dan gas terganggu atau infrastruktur mengalami kerusakan.

Menurut dia, dampak langsung bagi Eropa dan Latvia adalah kenaikan cepat harga sumber daya energi yang memberi tekanan pada pengeluaran rumah tangga dan biaya bisnis.

Dampak sekunder akan terasa melalui kenaikan harga barang dan jasa lainnya sehingga berpotensi mengakibatkan inflasi lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Perang AS-Israel Vs Iran Meluas, Negara Teluk Terjebak di Persimpangan
• 10 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
BMKG Prediksi Hujan Lebat Hingga Petir di Sejumlah Wilayah Indonesia
• 7 jam lalutvrinews.com
thumb
DKI kelompokkan pangan strategis untuk tentukan prioritas kebijakan
• 6 jam laluantaranews.com
thumb
BMKG Deteksi 3 Bibit Siklon Awal Maret 2026, Waspadai Cuaca Ekstrem di Sejumlah Wilayah Ini
• 11 menit lalukompas.tv
thumb
Timur Tengah Memanas Pasca AS-Israel Serang Iran, Kemenhaj: 6.047 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Indonesia
• 16 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.