Konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah mulai memunculkan kekhawatiran, termasuk bagi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Hingga kini, belum ada dampak langsung terhadap sektor perindustrian dan perdagangan di DIY. Namun, potensi gangguan terhadap arus ekspor tetap menjadi perhatian pemerintah daerah.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, Yuna Pancawati, menegaskan kondisi di DIY saat ini masih relatif aman. Meski begitu, ia menyebut kekhawatiran tetap ada jika konflik berkepanjangan dan berdampak pada jalur distribusi internasional.
“Kalau mulai berdampak saat ini di DIY belum ada, namun kekhawatiran pasti ada dampaknya efek konflik di Timur Tengah terutama ekspor,” kata Yuna dihubungi Pandangan Jogja, Senin (2/3).
Menurut Yuna, sebagian besar pengiriman ekspor DIY ke Eropa dilakukan melalui jalur laut yang melintasi Terusan Suez dan transit di kawasan Timur Tengah. Jalur tersebut menjadi rute utama pengiriman dari Indonesia menuju pasar Eropa.
“Rata-rata ekspor kita yang ke Eropa, yang kalau melalui jalur laut melalui Terusan Suez akan transit dulu ke Timur Tengah. Tentu ini akan mengganggu kelancaran perdagangan,” kata Yuna.
Mengantisipasi kemungkinan konflik yang berkepanjangan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY mendorong pelaku usaha untuk tidak bergantung pada satu negara tujuan ekspor. Diversifikasi pasar dinilai penting untuk meminimalkan risiko gangguan perdagangan global.
“Diversifikasi pasar selalu menjadi himbauan kami karena tidak mungkin hanya mengandalkan satu negara tujuan ekspor,” kata Yuna.
Ia juga berharap konflik di kawasan tersebut tidak berlangsung lama agar stabilitas perdagangan internasional tetap terjaga.
“Harapannya konflik ini jangan sampai terlalu lama,” ujarnya.





