Krisis Energi di Depan Mata, Sektor Pangan Terancam

harianfajar
3 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, MAKASSAR- Krisis ekonomi dampak Perang Iran melawan Israel-AS di Timur Tengah di depan mata. Sektor pangan ikut terancam.

Pakar Ekonomi Unhas Prof Hamid Paddu menjelaskan, situasi ditutupnya Selat Hormuz yang merupakan jalur lalu lintas minyak terbesar dunia membuka pintu krisis dunia. Meskipun ini bukan kali pertama, seperti waktu Perang Teluk terjadi tahun 1970-an sampai 1973. Jika kembali terjadi, maka pertama akan ada dampak shock pada distribusi minyak dunia.

Ia menyebut akan ada krisis energi minyak di negara-negara dunia termasuk Indonesia. Selat Hormuz yang ditutup akan melumpuhkan distribusi minyak yang bersumber dari Timur Tengah dengan kapasitas dominan dibandingkan sumber minyak lainnya.

Maka akan terjadi kekurangan pasokan minyak dunia di beberapa negara yang dapat menyebabkan minyak langka. Sementara Indonesia masih sangat bergantung pada impor minyak.

“Karena campuran minyak yang kita butuhkan untuk BBM dan lain-lain itu kan diimpor. Begitu ditutup ini satu-dua hari setelah stop di masing-masing negara berkurang, maka ingin membeli minyak mungkin ada, tetapi harganya langsung melonjak tinggi. Terjadi yang disebut dengan shock atau supply shock di minyak,” papar Prof Hamid.

Dampak perang terhadap harga minyak menurut ia dapat terlihat sepekan ke depan. Harga minyak per barel bisa naik hingga hampir 50 persen. Kondisi itu akan sangat mengganggu APBN. Berarti terjadi defisit, kemudian fiskal mengalami gangguan, harus tambah utang, dan harga BBM pasti naik. Begitu minyak naik, ongkos produksi bagi industri barang-barang lainnya yang menggunakan minyak akan menangis.

Berikutnya adalah akan terjadi inflasi, harga barang-barang pasti akan bergerak naik.
“Jadi itu dampaknya, tinggal kita menunggu mengkalkulasi satu hari ini, kira-kira lonjakan minyak, harga minyak dunia, minyak mentah, itu naik sampai berapa dolar per barel. Karena itu kalau lintas ya, itu lintas minyaknya,” bebernya.

Inflasi harga minyak otomatis akan berdampak ke sektor pangan, biaya distribusi, dan jasa transportasi. Otomatis semua yang menggunakan komponen minyak akan mengalami pembengkakan cost. Kemudian pabrik-pabrik industri yang menggunakan minyak pengeluarannya meningkat, harga-harga juga akan naik. Jadi, harga yang akan naik adalah harga yang terdampak dengan impor minyak mentah yang ada.

“Kondisi bisa semakin parah bagi negara-negara yang bergantung pada minyak. Kalau perang berlangsung lama, maka suatu saat akan terjadi kekosongan stok, akhirnya bukan hanya harga tinggi tetapi ada kelangkaan,” terangnya.

Situasi ini akan menyebabkan berbagai gangguan di sektor ekonomi pasar, di swasta, dan ekonomi di pemerintah dan sektor publik. Mak keduanya, baik sektor usaha bisnis dan pemerintah akan melakukan kalkulasi untuk langkah mitigasi. Mitigasi risiko kalau harga minyak naik, bagaimana industri harus melakukan penyesuaian produksi setidaknya setahun ke depan.

“Pemerintah sekarang sedang menghitung, mengkalkulasi efeknya nanti kenaikan harga minyak mentah seperti apa, kemudian kalau kita hedging ya berapa harganya, dan stok yang kita punya berapa, dan alternatif kira-kira kalau kita tidak lewat di Timur Tengah, di negara mana,” tukasnya.

Terpenting kata Prof Hamid adalah pemerintah akan mengeluarkan kebijakan penghematan energi dan pengetatan distribusi.(uca)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemilik Lapor ke Suara Surabaya, Pendengar Bergerak: Truk Hilang di Mojokerto Ditemukan 1 Jam Kemudian di Surabaya
• 6 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
AS-Israel vs Iran, Rusia: Siap-siap Perang Dunia 3!
• 15 jam lalubisnis.com
thumb
144 Juta Orang Diprediksi Mudik Lebaran 2026, Bus AKAP Mulai Disiapkan
• 23 jam laludetik.com
thumb
Muhammadiyah sebut Serangan AS-Israel ke Iran Langgar HAM dan Hukum Internasional
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
Kepala BPS RI Pimpin Governing Board International Comparison Program untuk Tiga Tahun
• 20 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.