Perang Iran Lawan Israel-AS Diprediksi Panjang, Indonesia Perlu Diversifikasi Sumber Energi

harianfajar
5 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, MAKASSAR — Rencana penutupan Selat Hormuz berpotensi mengguncang pasokan energi global dan menekan ketahanan energi Indonesia. Pakar Energi Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Muhammad Bachtiar Nappu, menegaskan bahwa gangguan di jalur strategis tersebut dapat memicu lonjakan harga minyak dunia, kelangkaan gas, hingga risiko pemadaman listrik di dalam negeri.

Menurut Bachtiar, Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi dunia yang menghubungkan Teluk Oman dan Teluk Persia. Pada bagian tersempitnya, lebarnya hanya sekitar 2 mil laut atau sekitar 3,2 kilometer dan berada dalam pengaruh Iran.

“Sekitar 21 juta barel minyak per hari atau kurang lebih 20 persen kebutuhan minyak dunia melewati jalur itu. Bukan hanya minyak, sekitar 20 persen pasokan LNG dunia juga melintas di sana,” ujarnya.

Jika terjadi pembatasan atau larangan pelayaran, kapal-kapal pengangkut energi enggan melintas karena risiko tinggi. Premi asuransi melonjak dan biaya distribusi meningkat. Dalam kondisi pasokan turun sementara permintaan tetap, harga energi global hampir pasti terdorong naik.

Bachtiar menjelaskan, Indonesia saat ini masih menjadi net importir minyak. Dari kebutuhan sekitar 1,4 juta barel per hari, produksi domestik hanya sekitar 600 ribu barel per hari. Sisanya dipenuhi melalui impor, yang sebagian jalurnya melewati kawasan tersebut.

Jika harga minyak dunia melonjak dari kisaran USD 70 per barel menjadi USD 100, bahkan berpotensi menembus USD 150 bila krisis berlangsung lebih dari sebulan, dampaknya akan sangat besar.

“Harga BBM dunia naik. Kalau pemerintah menahan harga dalam negeri, berarti subsidi harus ditambah. Pertanyaannya, apakah fiskal kita cukup kuat?” katanya.

Kenaikan harga minyak mentah dalam dolar juga berisiko memperlebar defisit anggaran dan defisit transaksi berjalan. Sementara itu, cadangan energi nasional dinilai masih terbatas untuk menahan gejolak berkepanjangan.

Selain minyak, jalur tersebut juga menjadi lintasan utama pasokan LNG dan LPG global. Indonesia sendiri masih mengimpor sekitar 70 persen kebutuhan LPG.

“Kalau jalur ini terganggu, ketahanan energi rumah tangga dan UMKM ikut terancam. Bisa terjadi kelangkaan dan lonjakan harga,” jelasnya.

Tak hanya energi, distribusi pupuk dunia juga berpotensi terganggu. Sekitar 43 persen ekspor urea global berasal dari kawasan Teluk. Jika pasokan tersendat, biaya produksi pertanian meningkat dan harga pangan ikut terdorong naik.

Negara-negara Asia Timur seperti Jepang, Korea Selatan, dan China disebut sangat rentan karena sekitar 80 persen impor energinya melewati Selat Hormuz. Dampaknya bisa meluas pada perlambatan ekonomi global.

Bachtiar juga menyoroti dampak lanjutan terhadap sistem kelistrikan nasional. Selain berbasis minyak, pembangkit listrik Indonesia masih didominasi batubara. Jika harga batubara ikut melonjak dan subsidi tak mampu menutup kenaikan biaya, kapasitas pembangkitan bisa terganggu.

“Kalau beban listrik 1.000 MW sementara kemampuan pembangkit hanya 800 MW, maka beban harus dikurangi. Itu yang disebut manajemen beban atau dalam istilah sosial pemadaman bergilir,” ujarnya.

Ia mengingatkan pengalaman beberapa tahun lalu saat konflik Rusia-Ukraina dan kemarau panjang menekan pasokan energi, sehingga terjadi pemadaman bergilir di sejumlah daerah.

Untuk mengantisipasi dampak krisis, Bachtiar mendorong sejumlah langkah strategis. Pertama, harus ada diversifikasi sumber impor. Indonesia perlu mencari alternatif pasokan selain Timur Tengah, seperti dari Amerika Serikat, Kazakhstan, atau Australia, guna mengurangi ketergantungan pada satu kawasan.

Kedua, optimalisasi produksi domestik. Proyek refinery seperti RDMP perlu dipercepat. Sumur-sumur tua dan blok migas eksisting juga harus dimaksimalkan untuk meningkatkan lifting minyak nasional.

Substitusi LPG ke kompor listrik induksi serta pengembangan DME (dimethyl ether) dari batubara dinilai sebagai solusi jangka pendek. Dalam jangka panjang, pengembangan energi terbarukan seperti surya, angin, hidro, dan panas bumi harus dipacu.

Subsidi energi sebaiknya lebih diarahkan pada program berkelanjutan, seperti pemasangan panel surya atap bagi masyarakat, guna mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

“Kalau tidak mulai dari sekarang, kapan lagi? Kita harus melakukan diversifikasi dan transisi secara bertahap agar lebih mandiri dan berkelanjutan,” tegasnya.

Bachtiar menilai, krisis di Selat Hormuz bukan sekadar isu geopolitik regional, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi global dan ketahanan energi nasional. Tanpa mitigasi yang tepat, dampaknya bisa menjalar dari sektor energi ke listrik, pupuk, hingga harga pangan dan inflasi secara luas.(uca)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Konflik Timur Tengah Memanas, Biro Travel di Blora Tetap Berangkatkan 33 Jemaah Umroh
• 13 menit lalutvonenews.com
thumb
Inggris Pinjamkan Pangkalan Militer ke AS Meski Enggan Ikut Serang Iran
• 21 jam lalukatadata.co.id
thumb
Konflik Iran, IRGC Ancam Bakar Kapal-Kapal yang Melintasi Selat Hormuz
• 7 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Dubes Boroujerdi: Iran Negara Kuat, Tak Tumbang Meski Khamenei Syahid
• 20 jam laluviva.co.id
thumb
Iran Tergaskan Tak Bakal Tumbang Meski Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei Wafat
• 23 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.