Meraba Cahaya Ramadhan di SLB Negeri Semarang

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Ujung jari itu bergerak pelan menyusuri deret titik-titik timbul di atas kertas tebal. Berada di sebuah ruang kelas yang disulap menjadi tempat mengaji, sejumlah siswa tunanetra larut membaca Al Quran berhuruf Braille pada kegiatan pesantren kilat di SLB Negeri Semarang, Jawa Tengah.

Selama Ramadhan, sekolah tak hanya menjadi ruang belajar akademik, tetapi juga tempat penguatan rohani. Setiap pagi, para siswa mengisi hari dengan tadarus, doa bersama, dan pelajaran agama yang dirancang sesuai kebutuhan mereka. Pesantren kilat bukan sekadar pengisi waktu menjelang berbuka, melainkan turut menghadirkan pengalaman spiritual di tengah keterbatasan fisik.

Pagi itu, Selasa (3/3/2026), Kanza (11) duduk berdampingan dengan dua temannya. Tangannya meraba lembar demi lembar Al Quran Braille. Mereka saling menyimak dan membetulkan bacaan. Penuh kesabaran ia menekuni setiap huruf, kemudian melafalkannya perlahan.

 

Di ruang kelas lainnya, sejumlah siswa tuna daksa berkumpul bersama guru mereka. Di antara kursi roda yang berjajar, mereka menggelar alas permainan dan menyusun teka-teki kata bernuansa keislaman. Tawa sesekali pecah, menghadirkan keceriaan yang menyatu dengan proses belajar.

Kepala SLB Negeri Semarang Sri Sugiarti menjelaskan, kegiatan ini dirancang berkelompok, disesuaikan dengan karakteristik anak-anak. Baik yang beragama Islam maupun non-Islam tetap mendapatkan pembinaan sesuai keyakinannya.

Kegiatan yang berlangsung selama 12 hari itu memberi pengalaman keagamaan tersendiri bagi siswa berkebutuhan khusus. Seluruh aktivitas disesuaikan dengan kemampuan setiap anak agar materi dapat diterima tanpa beban. Praktik wudu, pelaksanaan shalat, hingga pemahaman dasar tentang nilai-nilai Islam diajarkan melalui pendekatan sederhana dan dekat dengan keseharian.

 

Guru agama membimbing mereka lewat contoh konkret dari rutinitas bangun pagi hingga menjelang tidur. Selain sesi keagamaan, siswa berkebutuhan khusus ini juga diajak melatih kemandirian dan membangun rasa percaya diri. Kelas tak lagi sekadar tempat belajar, tetapi ruang tumbuh dan merasakan kebersamaan saat Ramadhan.

Baca JugaSemangat Siswa Tunanetra Belajar Membaca Al-Quran Braille
Baca JugaPesantren Darul Ashom, Tempat Difabel Rungu Menimba Ilmu
Baca JugaHijrah dari Rajah


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Di Balik Eskalasi Iran dan Rapuhnya Kedaulatan Negeri-Negeri Muslim
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Terjaring OTT KPK Terkait Dugaan Korupsi | KOMPAS PETANG
• 8 menit lalukompas.tv
thumb
[FULL] Presiden Prabowo Pimpin Upacara Pemakaman Wapres ke-6 RI Try Sutrisno di TMP Kalibata
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
Bupati Pekalongan dan Dua Orang Terjaring OTT KPK di Semarang
• 3 jam laluokezone.com
thumb
Imbas Perang Iran-AS, Bebi Romeo dan Meisya Siregar Tertahan di Arab Saudi
• 21 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.