JAKARTA, DISWAY.ID-- Niat Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (Wamen HAM) RI, Mugiyanto, untuk menyuarakan isu kemanusiaan di panggung dunia terpaksa terhenti sementara.
Alih-alih mendarat di Jenewa, Swiss, Mugiyanto justru tertahan selama tiga hari di Doha, Qatar, akibat eskalasi konflik militer yang melumpuhkan ruang udara di kawasan Timur Tengah.
BACA JUGA:Meskipun Kehilangan Istri, Bos Rokok HS Minta Maaf ke Korban Kecelakaan di Kulon Progo: Kita Jalin Silaturahmi
BACA JUGA:1.255 Personel Gabungan Amankan Laga Persija vs Borneo FC di JIS
Sedianya, kehadiran Wamen HAM di Jenewa adalah untuk menghadiri sidang penting Dewan HAM PBB.
Namun, situasi keamanan yang memburuk membuat perjalanan diplomatik tersebut terjebak dalam ketidakpastian.
Memasuki hari ketiga di Doha, Mugiyanto mengungkapkan bahwa kondisi di lapangan masih jauh dari kata kondusif.
Penutupan wilayah udara di Qatar dan negara-negara tetangga membuat jadwal penerbangan internasional lumpuh total.
BACA JUGA:Pantau Eskalasi di Timur Tengah, Wamenhaj Pastikan Persiapan Haji Sesuai Rencana
BACA JUGA:Ketegangan Timur Tengah Bayangi Ramadan, Bahlil Pastikan Stok BBM di Atas Batas Aman
"Ini adalah hari ketiga kami terdampar di Doha, dalam perjalanan yang seharusnya menghadiri sidang Dewan HAM PBB di Jenewa. Sampai sekarang situasinya belum kondusif," ujar Mugiyanto dalam keterangannya, Selasa 3 Maret 2026.
Ia menambahkan, belum ada titik terang kapan konflik bersenjata ini akan mereda atau kapan ruang udara akan kembali dibuka untuk penerbangan sipil.
"Kami hanya bisa berharap mudah-mudahan wilayah udara segera dipulihkan dan perdamaian bisa segera terwujud," tuturnya.
Mugiyanto tidak sendirian. Berdasarkan koordinasi langsung dengan Duta Besar Indonesia untuk Qatar, Ridwan Hassan, tercatat ada lebih dari 100 warga negara Indonesia (WNI) yang kini nasibnya terkatung-katung di Bandara Hamad, Doha.
BACA JUGA:Sambut Fasilitas Modern KNMP di Banyuwangi, Nelayan UcapkanTerima Kasih ke Presiden
- 1
- 2
- »





