Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN 2026 tetap terjaga meski harga minyak mentah menembus angka US$92 per barel.
Hal tersebut disampaikan Purbaya saat memberikan keterangan pers jelang agenda santap malam Presiden Prabowo Subianto bersama para mantan Presiden dan Wakil Presiden di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/3/2026).
“Kan channel-nya melalui ekspor ataupun harga minyak. Harga minyak sudah ke US$80 (dolar AS), saya hitung sampai US$92 pun kita masih bisa kendalikan anggarannya, jadi tidak masalah,” ujarnya.
Saat ditanya apakah ada kekhawatiran terhadap kondisi tersebut, ia menegaskan pemerintah tidak cemas.
“Enggak. Kita bisa adjust, kita bisa atur,” katanya.
Tekanan ke Defisit Bisa DiredamPurbaya mengakui, apabila kondisi global memburuk dan harga impor energi melonjak tajam, tekanan terhadap defisit anggaran bisa meningkat. Namun, pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif.
“Kalau impor makin parah kan, harganya mahal, mungkin akan menekan defisit. Kita pastikan aja pertama tax collection kita, pengumpulan pajak kita dan cukai nggak ada yang bocor. Jadi bisa kurangi tekanan ke defisit,” jelasnya.
Menurutnya, setelah kondisi penerimaan negara terjaga, pemerintah akan menghitung kembali dampak lanjutan sebelum mengambil kebijakan tambahan.
“Kalau sudah bagus nanti kita lihat dampaknya seperti apa baru kita hitung langkah-langkah yang perlu kita lakukan,” tambahnya.
Soal Stok BBM dan LPGTerkait pernyataan mengenai cadangan BBM dan gas LPG, Purbaya menjelaskan bahwa kontrak pembelian energi umumnya dilakukan dalam skema tahunan.
“Kan itu harga setahun kan, kalau kita belinya setahun. Yang 20 hari itu kalau nggak ada supply sama sekali, berantakan. Tapi biasanya nggak seperti itu. Kita pasti dapat suplai. Mungkin harganya lebih tinggi,” katanya.
Lebih lanjut, dia menegaskan, selama asumsi harga masih dalam rentang perhitungan pemerintah, defisit tetap dapat dikendalikan. "Saya bisa hitung dengan asumsi tadi, kita masih bisa kendalikan defisit kita. Kita masih bisa atur, nggak masalah,” ujarnya optimistis.
Andalkan Permintaan DomestikLebih lanjut, Purbaya menekankan bahwa struktur ekonomi Indonesia yang ditopang oleh permintaan domestik menjadi bantalan utama menghadapi gejolak global.
“Kalaupun globalnya di atas, selama kita bisa jaga domestic demand yang 90 persen kontribusinya ke ekonomi kita, juga masih bisa survive,” pungkasnya.





