Jakarta, VIVA – Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan, PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI), menyampaikan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) terjaga di bawah 1 persen dalam lima tahun terakhir. Konsistensi ini merupakan hasil berbagai upaya manajemen risiko yang diterapkan perseroan dalam membiayai proyek-proyek infrastruktur nasional.
Sebagai lembaga pembiayaan infrastruktur di bawah Kementerian Keuangan, PT SMI memikul mandat sebagai agen pembangunan berkelanjutan. Perseroan tidak hanya mengejar pertumbuhan portofolio, tetapi juga memastikan kualitas aset tetap sehat yang tercermin dari kualitas kredit sehat atau bermasalah.
“Kita berusaha untuk lebih melakukan mitigasi resiko ya untuk proyek-proyek tersebut. Namun angka NPL kami masih relatif sangat terjaga,” ucap Direktur Utama PT SMI, Reynaldi Hermansjah, saat Konferensi Pers Media Briefing di Jakarta pada Selasa, 3 Maret 2026.
Berdasarkan kinerja keuangan yang tidak diaudit hingga 31 Desember 2025, SMI mencatat NPL net sebesar 0,45 persen. Angka ini melanjutkan tren terjaga di bawah 1 persen sejak tahun 2020 bahkan saat sektor pembiayaan menghadapi tekanan pandemi dan gejolak global secara berurutan, yakni 0,02 persen, 0,58 persen, 0,34 persen, 0,35 persen, dan 0,41 persen.
- VIVA/Ayesha Puri
Direktur Operasional dan Keuangan PT SMI, Aradita Priyanti atau Poppy, menuturkan keberhasilan menjaga tingkat kredit bermasalah karena manajemen menerapkan kerangka manajemen risiko yang komprehensif. Mulai dari pengawasan terhadap risiko kredit, operasional, pasar, likuiditas, hukum, strategis, kepatuhan, reputasi, hingga risiko penyertaan modal.
Pendekatan ini membuat setiap proyek yang dibiayai melalui proses seleksi, analisis kelayakan, serta pengawasan berlapis. Sehingga kualitas kredit SMI mendapat peringkat AAA dari Pefindo hingga peringat Baa2 dari Moody's Ratings.
"Kerangkan manajemen risio yang komprehensif menghasilkan NPL net di bawah 1 persen dalam lima tahun terakhir," kata Poppy.
Selain itu, PT SMI juga menjaga pencadangan yang kuat. Pada periode tersebut, rasio Loan Loss Coverage (LLC) perseroan tercatat mencapai 399,56 persen atau cadangan kerugian pembiayaan yang dimiliki hampir empat kali lipat dari total kredit bermasalah sehingga memberikan bantalan yang solid terhadap potensi risiko gagal bayar.
Di sisi fundamental, kinerja keuangan PT SMI juga menunjukkan pertumbuhan stabil selama lima tahun. Outstanding pembiayaan mencapai Rp94,46 triliun pada tahun 2025 dengan nilai tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (Compound Annual Growth Rate/CAGR) selama lima tahun sebesar 6,1 persen.





