Mengikis stigma untuk eliminasi penyakit terabaikan bernama kusta

antaranews.com
3 jam lalu
Cover Berita
Cirebon (ANTARA) - Sepiring nasi pernah menjadi batas yang tak terlihat di rumah Rusdin. Sejak kusta dinyatakan ada di tubuhnya, ia tak lagi makan bersama keluarga. Piring dan gelasnya dipisahkan.

Pria asal Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, ini masih remaja kala itu dan belum benar-benar paham apa yang sedang terjadi, kecuali satu hal yakni orang-orang di sekitarnya mulai menjaga jarak.

Gejala itu sebenarnya sudah muncul sejak ia duduk di bangku sekolah dasar (SD). Bercak putih terlihat di punggungnya.

Suatu hari, petugas kesehatan datang ke sekolah untuk memberikan penyuluhan tentang kusta. Penjelasan mengenai gejala penyakit itu terasa begitu dekat dengan apa yang dialaminya.

Takut ketahuan dan dijauhi, Rusdin kecil memilih kabur ketika pemeriksaan hendak dilakukan. Saat itu, dia beralasan ingin pergi ke kamar mandi.

“Waktu itu saya sempat kabur, karena ada pemeriksaan kusta di sekolah,” kenangnya saat berbincang dengan ANTARA, Selasa.

Saat menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP), kondisinya memburuk. Kulitnya menghitam dan tubuhnya kerap terasa panas.

Kondisi tersebut, memaksanya untuk memeriksakan diri ke puskesmas. Hasilnya memastikan tubuhnya didiagnosis mengidap kusta basah.

“Setelah diperiksa ke puskesmas, ternyata saya dinyatakan memiliki penyakit kusta,” katanya.

Setahun penuh ia menjalani pengobatan. Obat-obatan membuat tubuhnya lemas dan kakinya sulit digerakkan. Ia bahkan sempat berhenti sekolah.

Karena telat penanganan, beberapa anggota tubuhnya mulai berubah, terlihat pada bagian jemari serta kaki kanannya. Kondisi tersebut kini menjadikannya sebagai difabel.

Ketika kembali bersekolah, ia berjalan dengan berpegangan pada dinding. Pelajaran olahraga tak lagi bisa diikutinya.

Namun untuk pelajaran lain, ia tetap berusaha dan bertahan di peringkat sepuluh besar hingga lulus SMP.

Stigma tak ikut sembuh bersama selesainya terapi. Di SMP ia dijauhi. Di SMA, penolakan berubah menjadi protes terbuka agar ia dikeluarkan dari sekolah.

Di rumah, jarak itu tetap terasa. Sejak akhir 1990-an hingga sekitar satu dekade berikutnya, Rusdin lebih banyak mengurung diri. Ia kehilangan harga diri. Depresi sempat membuatnya ingin menyerah pada hidup.

Baca juga: Kemenkes: Scabies, kusta, dan frambusia kini masuk pemeriksaan CKG

*Bangkit*

Perlahan, ia belajar menerima kenyataan kalau dirinya adalah penyintas kusta dan bukan korban yang harus terus bersembunyi.

Ia kemudian mendatangi Forum Komunikasi Difabel Cirebon (FKDC) setelah mendengar ada pelatihan menjahit bagi difabel, pada awal 2014.

Ia bertemu banyak orang dengan kondisi fisik yang lebih berat, tetapi tetap tegak menjalani hidup. “Melihat mereka, saya jadi percaya diri. Kalau mereka bisa, saya pun harus bisa,” ujarnya.

Pertemuan itu menjadi pintu untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Ia mulai melihat kusta bukan akhir, dan bahwa dirinya tetap punya nilai.

Luka batin memang tak hilang seketika, tetapi ia memilih untuk tidak lagi memusuhi tubuhnya.

Sebagai penyintas, ia memahami betul tantangan terbesar seringkali bukan penyakitnya, melainkan stigma yang mengikutinya.

Pengobatan kusta tersedia dan dapat menyembuhkan, tetapi ketakutan dan salah paham di masyarakat kerap membuat penderita terlambat berobat atau dikucilkan.

Edukasi, menurutnya, masih perlu diperkuat agar keluarga dan lingkungan tidak lagi memandang kusta sebagai aib.

Rusdin (kiri) saat berada di salah satu SLB di Cirebon, Jawa Barat. ANTARA/Dokumentasi pribadi.

Rusdin kini bertumpu pada satu kaki. Keterbatasan fisik itu adalah jejak dari perjalanan panjangnya.

Namun ia tak lagi menyembunyikannya, justru menjadikannya bagian dari cerita yang ingin dibagikannya.

Ia memilih menjadi guru di sebuah SLB swasta di Cirebon, mengajar anak-anak dengan berbagai kebutuhan khusus.

Di ruang kelas itu, ia sering melihat bayangan dirinya di masa lalu, anak yang takut dijauhi dan merasa sendirian.

Pengalaman sebagai penyintas membuatnya lebih peka, lebih sabar, dan lebih mengerti arti penerimaan.

Kini, di usia 41 tahun, Rusdin mengatakan ia sudah berdamai dengan dirinya. Ia tak lagi marah pada keadaan.

Ia percaya, penyintas kusta berhak hidup setara, yang dibutuhkan pun bukan hanya obat, tetapi juga pemahaman.

Lewat langkahnya yang tertatih tapi mantap, ia menunjukkan hidup setelah kusta tetap bisa dijalani dengan kepala tegak.

Baca juga: Kemenkes beri hadiah Rp50 juta bagi puskesmas penemu kusta terbanyak

Bukan kutukan

Cerita Rusdin bukan kisah lama yang sudah selesai bersama masa remajanya. Di Kabupaten Cirebon, kusta masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon mencatat terdapat 177 kasus kusta pada 2025. Kecamatan Talun dan Pangenan menjadi wilayah dengan temuan terbanyak, masing-masing 11 kasus.

Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (Dinkes) Kabupaten Cirebon, Subhan, menjelaskan kusta merupakan infeksi kronis akibat bakteri Mycobacterium leprae.

Penyakit ini menyerang kulit dan saraf tepi, bisa pula mengenai mata dan saluran pernapasan bagian atas.

Gejala awalnya kerap tak disadari. Biasanya muncul bercak putih atau kemerahan di kulit yang mati rasa, tidak gatal, dan tidak berkeringat.

Dalam kondisi tertentu, saraf bisa menebal dan menimbulkan kelemahan otot. Jika terlambat ditangani, dampaknya bisa berujung pada kecacatan permanen.

Hal yang sering luput dipahami, penularan kusta tidak terjadi lewat sentuhan singkat. Bersalaman, duduk berdekatan, atau berbincang sehari-hari bukan cara penularannya.

Penyakit ini umumnya menular melalui kontak erat dan berlangsung lama, dengan penderita yang belum diobati.

Kabar baiknya, kusta dapat disembuhkan. Pengobatan Multi-Drug Therapy (MDT) tersedia gratis di puskesmas.

Penderita yang rutin menjalani terapi tidak lagi menularkan penyakitnya. Artinya, semakin cepat seseorang memeriksakan diri, semakin besar peluang sembuh tanpa komplikasi.

Subhan menekankan persoalan terbesar bukan semata pada medis, melainkan pada stigma. Banyak orang masih menganggap kusta sebagai kutukan atau penyakit turunan.

Padahal, itu keliru. Stigma inilah yang sering membuat penderita memilih diam dan bersembunyi.

Baca juga: Menkes: Mulai 2026, CKG sertakan skrining kusta percepat eliminasi

Upaya dari Desaku

Berbeda dengan Cirebon, di sejumlah desa, bahkan di kawasan pelosok di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, penanganan kusta berjalan tanpa banyak sorotan maupun pemberitaan mencolok.

Hal ini karena penyakit tersebut belum benar-benar hilang. Di seluruh wilayah Kuningan kasus baru hampir selalu muncul saban tahun.

“Kabupaten Kuningan ini masih endemis kusta. Meskipun tidak melonjak, kasusnya selalu ada setiap tahun,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kuningan Denny Mustafa saat dikonfirmasi ANTARA.

Kondisi tersebut menjadi dasar Dinkes Kuningan mencari pendekatan berbeda. Lalu pada 2023, dengan menggandeng lembaga NLR Indonesia, yang melahirkan program bernama Desa Sahabat Kusta (Desaku).

Alih-alih hanya mengandalkan petugas medis, program Desaku di Kuningan menempatkan warga sebagai ujung tombak.

Setiap desa memilih dua fasilitator lokal. Mereka diberi pelatihan, lalu bertugas mengedukasi warga, menggugah perangkat desa, hingga mendampingi pasien agar mau berobat tuntas.

Pada tahap awal, 10 puskesmas dilibatkan. Masing-masing membina dua desa sehingga total ada 20 desa menjadi lokasi intervensi.

Pendekatan program ini adalah mengubah perilaku dan menurunkan stigma. Fasilitator lokal menjelaskan bahwa pasien yang sudah minum obat tidak berbahaya dan tak perlu dijauhi.

Mereka pun melakukan pencarian kasus aktif atau active case finding, menyisir warga yang memiliki gejala. Program ini sempat membuat angka kasus kusta terdeteksi melonjak.

Pada 2022 tercatat sekitar 50 kasus. Setahun kemudian naik menjadi 72. Bukan karena penularan meningkat, melainkan karena desa-desa aktif mencari dan menemukan pasien yang sebelumnya tersembunyi.

Kegiatan deteksi dini penyakit kusta di Kuningan, Jawa Barat. ANTARA/Dokumentasi pribadi.

Setelah itu, angka temuan kasus kusta di Kabupaten Kuningan perlahan turun menjadi 68 pada 2024 dan 52 pada 2025.

Meski begitu, Denny menuturkan sebenarnya temuan yang mengkhawatirkan justru ada pada kondisi pasien saat pertama kali terdiagnosis.

Hampir 20 persen di Kuningan ditemukan dalam keadaan sudah cacat. Artinya dua dari 10 pasien terlambat untuk diobati.

Stigma menjadi tembok paling sulit diruntuhkan. Tak hanya di masyarakat, sebagian tenaga kesehatan pun, dahulu masih menyimpan rasa jijik atau enggan bersentuhan dengan para penyintas.

Padahal, pasien yang sudah menjalani pengobatan tidak lagi menularkan penyakitnya.

Baca juga: Deteksi dini jadi kunci menekan penularan TBC di Cirebon

Contoh nyata

Hingga kini, sebanyak 33 desa di Kabupaten Kuningan telah menjalankan program Desaku. Beberapa bahkan mengalokasikan dana desa sekitar Rp2 juta-Rp5 juta.

Meski nilainya tak seberapa, dana tersebut mulai dipakai untuk penyuluhan, pelatihan kader, dan pencarian kasus aktif.

Dampaknya program Desaku mulai terasa. Warga perlahan tak lagi takut bersalaman atau duduk berdekatan dengan penyintas. Ada yang membantu secara finansial hingga memberi pekerjaan ringan.

“Minimal tidak menjauh saja, itu sudah kemajuan,” katanya.

Keberhasilan Kabupaten Kuningan dalam program Desaku mendapat pengakuan internasional. Denny telah mempresentasikan program ini di pertemuan kusta tingkat dunia di Bali, menarik minat delegasi global. Program ini dianggap contoh nyata dampak kebijakan lokal.

Beberapa kabupaten lain, seperti Bekasi, telah studi banding untuk menyaksikan penerapan program Desaku di Kuningan.

Namun pekerjaan belum usai. Sebab kusta, sebagai penyakit tropis kerap terabaikan, sering kalah perhatian dibanding TBC, demam berdarah, atau penyakit lainnya.

Menurut dia, penyakit ini pun sangat penting untuk ditangani. Apalagi kusta memiliki masa inkubasi 3-10 tahun, sehingga sulit diberantas dan sering terlambat terdeteksi.

Kepada ANTARA, Denny ingin menyampaikan satu pesan krusial untuk masyarakat. Jika ada bercak putih atau kemerahan yang mati rasa, jangan dianggap panu biasa.

Datanglah ke puskesmas. Lebih cepat diperiksa dan lebih besar pula peluang sembuh tanpa cacat. Pengobatan kusta tersedia gratis dan harus diminum rutin selama setahun.

Obatnya memang tidak dijual di apotek atau rumah sakit umum, karena merupakan program khusus dari pemerintah. Tanpa biaya maupun syarat rumit. Tantangannya hanya satu, yakni disiplin.

Bagi masyarakat, kata dia, satu hal yang perlu diingat yang berbahaya bukan orangnya, melainkan ketidaktahuan terhadap kusta.

Ia menegaskan deteksi dini sangat krusial untuk mewujudkan daerah bebas kusta, mengembalikan martabat penderita, dan menghapus stigma.

Dengan rencana penambahan cakupan program Desaku pada 2026, harapan Kuningan bebas kusta semakin nyata.

Pada intinya, penanganan kusta saat ini mungkin tidak lagi menjadi berita besar. Namun justru dalam kesenyapan itulah konsistensi diuji.

Di Cirebon dan Kuningan, pekerjaan tersebut masih berlangsung walaupun seringkali luput dari perhatian banyak orang.

Baca juga: Pemkab Cirebon: Program CKG bantu perluas layanan kesehatan

Baca juga: Wamenkes: Indonesia menduduki peringkat tiga kasus kusta di dunia


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kunjungi IKN, Menkopolkam Sebut Fasilitas Siap Dukung Pemindahan Kementerian
• 13 jam lalutvrinews.com
thumb
Pramono: JPO Sarinah Harus Ramah Disabilitas dan Jaga Warisan Sejarah
• 17 jam lalutvrinews.com
thumb
Ini Hasil Pertemuan Empat Jam Prabowo dengan Mantan Presiden-Wapres
• 7 menit laluidxchannel.com
thumb
Qatar Hentikan Seluruh Pertandingan Sepak Bola
• 22 jam lalutvrinews.com
thumb
Intip Kemeriahan Cap Go Meh Jakarta di Pancoran Chinatown Point
• 11 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.