JAKARTA, KOMPAS.TV- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan, harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) kini telah naik ke level 78 dolar AS per barel.
Angka itu melampaui asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sebesar 70 dolar AS per barel.
Kenaikan harga minyak ini dipicu eskalasi geopolitik di Timur Tengah, termasuk penutupan Selat Hormuz akibat konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran.
Bahlil mengatakan, lonjakan ICP tersebut membawa konsekuensi langsung terhadap postur fiskal negara.
Baca Juga: Selat Hormuz Ditutup Iran, Ini 5 Dampaknya ke Indonesia: Harga Minyak Naik hingga Rupiah Tertekan
“Di APBN kita harga ICP itu 70 dolar per barel dan sekarang sudah naik menjadi 78 dolar per barel. Ini yang harus kita hati-hati. Ini berdampak pada kenaikan subsidi yang akan ditanggung oleh negara,” kata Bahlil usai rapat Dewan Energi Nasional (DEN) di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Bahlil menyampaikan, kenaikan ICP berpotensi memperlebar beban subsidi energi, terutama jika harga minyak global bertahan di atas asumsi APBN dalam jangka waktu lama.
Namun ia menegaskan, pemerintah saat ini masih mempertahankan harga BBM subsidi. Belum ada kebijakan perubahan harga untuk BBM bersubsidi.
Baca Juga: Bahlil Bicara Dampak Konflik Timur Tengah, Alihkan Sebagian Impor Minyak Mentah dari AS
“Kalau yang subsidi, selama tidak ada kebijakan baru dari pemerintah maka harganya tetap sama,” sebutnya.
Penulis : Dina Karina Editor : Gading-Persada
Sumber : Kompas TV
- harga minyak mentah
- harga icp
- indonesian crude price
- bahlil lahadalia
- menteri esdm
- impor bbm





