Harga minyak dunia ditutup melonjak pada Selasa (3/3/2026), mencapai level tertinggi sejak Januari 2025.
IDXChannel - Harga minyak dunia ditutup melonjak pada Selasa (3/3/2026), mencapai level tertinggi sejak Januari 2025.
Kenaikan ini terjadi seiring memanasnya pertempuran Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran yang mengganggu pengiriman energi dari Timur Tengah serta memicu kekhawatiran konflik berkepanjangan.
Kontrak berjangka (futures) Brent naik melesat 4,7 persen ke USD81,40 per barel, menjadi penutupan tertinggi sejak Januari 2025.
Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS menguat USD3,33 atau 4,7 persen ke USD74,56 per barel, level tertinggi sejak Juni.
Sejak konflik pecah pada Sabtu, Brent telah melonjak 12 persen.
Melansir dari Reuters, pasukan Israel dan AS menggempur sejumlah target di Iran pada Selasa, memicu serangan balasan Iran di kawasan Teluk dan meluas hingga Lebanon.
Irak, produsen minyak terbesar kedua di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) setelah Arab Saudi, memangkas produksi hampir 1,5 juta barel per hari.
Pemangkasan ini bisa meningkat lebih dari dua kali lipat dalam beberapa hari ke depan karena negara tersebut kehabisan kapasitas penyimpanan untuk minyak yang tak dapat diekspor akibat krisis.
Iran merespons dengan menyerang infrastruktur energi regional dan kapal tanker di Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Kapal tanker dan kapal kontainer kini menghindari selat tersebut setelah perusahaan asuransi membatalkan perlindungan kapal dan tarif pengiriman minyak serta gas global melonjak tajam.
Kekhawatiran meningkat setelah media Iran pada Senin melaporkan bahwa Iran akan menembaki kapal mana pun yang mencoba melintas.
“Pembalasan Iran lebih luas dibandingkan langkah-langkah sebelumnya yang sebagian besar bersifat simbolis, dan pendekatan ini memunculkan sejumlah titik panas regional yang berisiko nyata terhadap pasokan,” tulis analis Standard Chartered dalam catatan riset.
Presiden AS Donald Trump mengatakan serangan udara AS dan Israel diperkirakan berlangsung empat hingga lima pekan, namun bisa berjalan lebih lama.
Trump juga menyebut AS tengah mempertimbangkan dukungan asuransi bagi kapal tanker minyak.
Brent sempat menyentuh USD85,12 per barel pada sesi tersebut, tertinggi sejak Juli 2024, sebelum memangkas kenaikan setelah Trump menyatakan banyak target angkatan laut dan udara Iran telah dilumpuhkan.
“Hampir semuanya telah dihancurkan,” ujarnya, seraya memperkirakan Teheran pada akhirnya akan kehilangan kemampuan meluncurkan rudal.
“Trump mengatakan Iran tidak akan mampu mempertahankan pertempuran ini lebih lama, sehingga pasar menilai penyelesaiannya mungkin lebih cepat dari yang dikhawatirkan sebelumnya,” kata analis senior Price Futures Group, Phil Flynn.
India dan Indonesia menyatakan tengah mencari pasokan energi alternatif. Di China, sejumlah kilang menghentikan operasi atau memajukan jadwal pemeliharaan.
Sejak serangan dimulai, Qatar menghentikan produksi gas alam cair, Israel menutup sebagian ladang gasnya, dan Arab Saudi menutup kilang terbesarnya.
Raksasa minyak Arab Saudi, Aramco, berupaya mengalihkan sebagian ekspor minyak mentahnya ke Laut Merah untuk menghindari Selat Hormuz, di mana risiko serangan membuat aktivitas pelayaran nyaris terhenti, menurut sejumlah sumber Reuters.
Di pasar bahan bakar, futures solar AS melonjak sekitar 10 persen ke level tertinggi sejak Oktober 2023.
Kontrak bensin AS naik hampir 4 persen ke USD2,46 per galon, tertinggi sejak Juli 2024. Margin pengilangan (crack spread) juga melesat ke posisi tertinggi sejak 2023.
Di pasar gas global, kontrak acuan Belanda, harga gas Inggris, serta harga LNG Eropa dan Asia sama-sama melonjak.
Selisih harga Brent terhadap WTI melebar hingga hampir USD8 per barel, tertinggi sejak November 2022.
Analis menyebut ketika premi ini melampaui USD4, kondisi tersebut dapat mendukung ekspor minyak mentah AS.
Persediaan minyak mentah dan produk sulingan AS naik, sementara stok bensin turun pada pekan lalu, menurut sumber pasar yang mengutip data American Petroleum Institute (API).
Stok minyak mentah naik 5,6 juta barel pada pekan yang berakhir 27 Februari, lebih tinggi dari proyeksi analis sebesar 2,3 juta barel.
Laporan resmi persediaan minyak AS dari Energy Information Administration (EIA) dijadwalkan dirilis pada Rabu. (Aldo Fernando)





