Puluhan kostum bayi berbalut plastik dengan beragam desain tergantung rapi di ruang kerja Rizkita Effendi (36). Dari deretan itu, Ita, sapaan akrab Rizkita mengambil dua kostum yang akan digunakan untuk sesi pemotretan bayi baru lahir (newborn) di kawasan Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (21/2/2025).
Setelah memilih busana, Ita beralih menyiapkan sejumlah properti pendukung seperti mainan, kain hingga alas untuk si bayi. Seluruh perlengkapan tersebut sebelumnya disterilkan untuk menghindari risiko kontaminasi pada si bayi.
Sesampainya di rumah klien, Ita harus menunggu momen yang tepat untuk memotret si bayi yang usianya baru hitungan hari. Mereka harus menunggu si bayi tertidur untuk memudahkan pemotretan. Menunggu selama 2-3 jam di rumah klien adalah sebuah kelumrahan.
"Total waktu yang dibutuhkan untuk memotret bayi sekitar satu hingga empat jam," ujarnya Kamis (19/2/2026).
Profesi yang digeluti Ita tersebut, dulunya adalah pekerjaan sampingan. Enam tahun lalu saat dia masih menjadi akuntan di perusahaan swasta, pekerjaan fotografer bayi hanyalah pekerjaan sampingan. Setelah bertahan selama enam bulan, Ita akhirnya melepaskan pekerjaan utamanya untuk fokus sebagai fotografer.
Dalam menjalankan usahanya, Ita dibantu oleh tiga karyawan. Satu karyawan bertugas untuk mengedit foto, dua lainnya sebagai admin Whatsapp, media sosial dan mengurus properti dan kostum bayi. Adapun suaminya sekarang bertugas sebagai editor foto dan ikut mengelola media sosial.
Kerja sampingan sebagai wirausaha sebenarnya telah menjadi cita-cita Ita dan suami di awal pernikahan. Mereka tak ingin pensiun sebagai karyawan, melainkan berwirausaha. Mereka ingin usaha ini nantinya bisa diwariskan ke anak-cucu.
Tidak seperti sang suami yang punya pengalaman sebagai fotografer pernikahan, Ita sebelumnya tidak memiliki keahlian sebagai fotografer. Keahliannya itu baru didapatkan saat pandemi Covid-19 melalui kursus daring.
"Awalnya saya tawarkan pada beberapa teman yang baru melahirkan. Tapi saya belum ahli, dalam tahap mencoba hasil kursus. Beberapa teman mengizinkan dan dari situ saya merasa 'klik', kayaknya seru nih jika usaha ini diteruskan," kata pemilik akun instagram @potret_fagam354 ini.
Upaya Ita yang sempat menjalani dua pekerjaan ini selaras dengan hasil olahan data mikro Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS) dari Tim Jurnalisme Data Harian Kompas. Selama 15 tahun terakhir, terjadi lonjakan jumlah pekerja yang memiliki pekerjaan sampingan hingga 69 persen. Lonjakan di kalangan pekerja profesional bahkan mencapai 11,5 kali lipat.
Selain Ita, Arnold (50), bukan nama sebenarnya, juga memilih meninggalkan pekerjaan utamanya sebagai sekuriti untuk menekuni pekerjaan sampingan sebagai agen asuransi. Peralihan ini terjadi sekitar 20 tahun yang lalu. Saat itu, Arnold yang menjadi sekuriti di salah satu bank di kawasan Jakarta Barat tertarik dengan penghasilan teman-temannya sebagai agen asuransi yang seolah tak terbatas.
Arnold yang kala itu penasaran pun turut mencoba peruntungan menjadi agen asuransi. Dia memanfaatkan hari libur dan jam istirahat untuk mendekati nasabah. Bayangan untuk memperbaiki hidup membuatnya giat menekuni dua pekerjaan sekaligus.
“Saat menjadi sekuriti, saya kerja 24 jam, setelah itu libur 24 jam. Waktu libur itu saya manfaatkan untuk kuliah sekaligus memprospek nasabah. Sangat struggle karena harus belajar produk asuransi,” ungkap Arnold.
Di awal-awal menjalani karir sebagai agen asuransi, Arnold pernah mendapatkan komisi sekitar Rp 14.000 dalam sebulan. Dia juga beberapa kali diremehkan saat tengah menawarkan produk asuransi ke sejumlah orang.
Pesan dari salah satu agen senior lah yang membuatnya tetap bertahan. Menjadi agen asuransi harus kuat mental supaya tidak gampang tumbang.
Selain dilanda kelelahan fisik, Arnold juga merasa stres menjalani dua pekerjaan utama dan kuliah. Efeknya, pekerjaan utama dia pun menjadi terganggu. Beberapa kali dia mengaku tidak fokus menjalani pekerjaan utama. Di sisi lain, waktu bersama keluarga pun menjadi terbatas. Meski tidak mudah, Arnold tak pernah menyerah.
Arnold juga memiliki bekal penting sebagai agen asuransi yakni adalah komunikasi. Pengalamannya menjadi sekuriti secara tidak langsung telah membuatnya mampu berkomunikasi dengan baik. Hal ini baru dia sadari saat salah satu nasabah menyebutnya lebih cocok bekerja menjadi agen asuransi ketimbang bertahan sebagai sekuriti.
“Dari gaya ngomong saya, katanya saya lebih cocok menjadi agen asuransi. Dari situ saya kemudian kepikiran untuk menekuni pekerjaan ini saja,” katanya.
Keahlian komunikasi seperti yang dimiliki Arnold memang menjadi salah satu syarat yang paling banyak dicari oleh para pencari kerja paruh waktu. Hal ini setidaknya Kompas temukan di portal pencarian kerja Jobstreet.com berdasarkan hasil ekstraksi data halaman web (webscrapping) akhir Januari 2026. Dari 1.317 lowongan kerja paruh waktu, keahlian komunikasi menjadi yang paling banyak disyaratkan, yakni sebanyak 343 lowongan.
Kini, Arnold telah menjadi leader dan membawahi sedikitnya 20 agen asuransi profesional. Bayangan untuk mengubah hidup pun tercapai berkat beralih menekuni pekerjaan sampingan. Dari penghasilan yang hanya berkisar belasan ribu rupiah, penghasilan Arnold kini bisa mencapai ratusan juta dalam sebulan. Jauh melampaui penghasilan bulanan dia sebagai sekuriti yang kala itu melibihi upah minimum provinsi (UMP) Jakarta.
Pekerjaan sampingan yang akhirnya lebih menghidupi juga dialami Banu (36) warga Yogyakarta. Saat ini Banu lebih fokus mengembangkan usahanya sebagai vendor team building baik indoor maupun outdoor. Sebelumnya tahun 2014, lulusan Sarjana (S1) Pendidikan Bahasa Inggris ini pernah bekerja formal sebagai call center perusahaan telekomunikasi milik Malaysia, namun hanya bertahan satu tahun.
Dua bulan bekerja formal, saat itu Banu belum menemukan ritme yang membuatnya semangat bekerja. Padahal ia sudah kontrak kerja selama satu tahun dan ijazahnya ditahan. Salah satu yang membuatnya tidak nyaman yaitu harus duduk delapan jam sehari dengan waktu istirahat ke toilet dibatasi hanya maksimal 15 menit.
“Kalau 2 menit ke toilet berarti tinggal 13 menit. Jadi lari ke toilet, terus ke tempat duduk lagi sisa berapa menit gitu. Jadi selama 3 bulan itu aku ada sedikit gangguan buang air kecil sebenarnya,” ujar Banu.
Setelah satu tahun selesai masa kontrak, Banu memutuskan keluar dari pekerjaan formalnya dan fokus di pekerjaan sampingannya sebagai penyedia jasa kegiatan pembangunan tim (vendor team building).
Pandemi Covid-19 memukul pekerjaan Banu. Kegiatan team building tutup total. Sementara roda kehidupan Banu dan istri yang tengah menanti putri pertama, terus berputar.
Setelah beralih menjadi admin kartu kredit selama enam bulan, Banu memberanikan diri membuat vendor team building sendiri. Setelah lima tahun berjalan, usahanya kini terus berkembang.
“Dulu sebulan paling 2-3 kegiatan. Sekarang bisa lebih dari itu, walau tidak menentu. Ada bulan tertentu jasa kami sangat dibutuhkan, meskipun ada bulan tertentu yang benar-benar kosong,” jelas Banu.
Adanya kesenjangan antara kenaikan upah dan pengeluaran biaya hidup membuat tren pekerjaan sampingan meningkat selama 15 tahun terakhir. Menurut data BPS, selama periode 2010-2025, rata-rata pengeluaran bulanan perkapita melonjak 217,3 persen. Sementara kenaikan pekerja berpendidikan tinggi yang memiliki pekerjaan sampingan hanya 87,3 persen.
Menurut Banu memiliki pekerjaan sampingan harus penuh tangung jawab, terutama dalam mengatur waktu. Selain itu penting juga adanya lingkungan keluarga, pasangan, orang-orang terdekat yang sportif dan mendukung. Banu juga berpendapat mengambil dua pekerjaan sekaligus kadang juga penuh resiko.
“Jangan mengambil dua pekerjaan sekaligus kalau memang tidak sanggup. Karena saat kita merasa bisa, tapi ternyata kemampuan atau kapabilitasnya tidak mencukupi terutama soal waktu, kita bisa kehilangan keduanya. Kita bisa dipecat dari kantor karena enggak perform misalnya,” lanjut Banu.





