Demi Sesuap Nasi, Pekerja Banting Tulang lewat Kerja Sampingan

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Penghasilan dari satu pekerjaan ternyata tak cukup, bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sejumlah warga terpaksa memiliki pekerjaan sampingan agar ada kocek tambahan dalam menyambung hidup.

Tim Jurnalisme Data Harian Kompas menemukan fakta ini dari survei daring pada 22 Januari-5 Februari 2026 yang melibatkan 369 responden di 29 provinsi di Indonesia.

Hasil survei, sebanyak 45 persen responden memiliki pekerjaan sampingan. Tiga besar pekerjaan utama mereka ialah pegawai swasta nasional (32 persen), aparatur sipil negara (27 persen), dan pegawai yayasan atau lembaga swadaya masyarakat (8 persen). Pekerjaan sampingan mereka paling banyak menjadi wirausaha (33 persen), tutor (11 persen), penulis (7 persen), kreator konten (6 persen), dan konsultan (4 persen).

Sebanyak 72 persen dari responden memiliki pekerjaan sampingan untuk mencari penghasilan tambahan. Penghasilan dari pekerjaan sampingan berada di rentang Rp 915.000-Rp 2,14 juta per bulan (31 persen responden), Rp 2,15 juta-Rp 6,3 juta per bulan (22 persen), Rp 611.000-Rp 914.000 per bulan (17 persen), dan kurang dari Rp 610.000 per bulan.

Mayoritas atau sebesar 66,7 persen responden yang punya pekerjaan sampingan berstatus menikah. Rata-rata dari mereka yang memiliki pekerjaan sampingan menanggung 2-3 anggota keluarga.

Pengeluaran bulanan mereka paling banyak di kelompok Rp 2,15 juta-Rp 6,3 juta per orang (35 persen responden), Rp 915.000-Rp 2,14 juta per orang (22 persen), dan Rp 6,31 juta-Rp 10,4 juta per orang (15 persen). Dengan demikian, mayoritas dari mereka tergolong warga kelas menengah dan calon kelas menengah. Secara spesifik, komponen pengeluaran tertinggi dialokasikan untuk kebutuhan makan sehari-hari (38 persen responden), membayar kredit/utang (31 persen), dan pendidikan (16 persen).

Sementara itu, berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2025, rata-rata pengeluaran warga Indonesia Rp 1,56 juta per orang per bulan. Pengeluaran untuk bahan makanan berkisar Rp 775.516 per orang per bulan. Komoditas dengan pengeluaran tertinggi ialah padi-padian Rp 89.278 per orang per bulan.

Di sisi lain, BPS mencatat, laju kenaikan Indeks Harga Konsumen atau inflasi tahunan Februari 2026 mencapai 3,55 persen. Inflasi tahunan kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau sebesar 3,51 persen. Komoditas yang dominan menyumbang inflasi tahunan terdiri dari beras, ikan segar, daging ayam ras, dan bawang merah.

Situasi ini dirasakan Damian (27), pekerja paruh waktu di Jakarta yang keberatan dengan kenaikan harga makanan di warung sebesar Rp 1.000-Rp 2.000 per porsi. Untuk menyiasatinya, ia makan siang di rumah atau membawa bekal saat ke kantor sehingga cukup membeli lauk di warung makan.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia bekerja di dua tempat. Ia kerja di perusahaan pertama, yakni di bidang komunikasi dan informasi, untuk mengumpulkan bahan riset. Setelah selesai, ia menyunting buku untuk tempat kerja kedua. Terkadang, ia dapat tawaran proyek menghimpun bahan riset kurasi di museum.

Tiap bulan, pengeluaran pribadinya tak sampai Rp 3 juta. Artinya, ia tergolong masyarakat kelas menengah.

Demi kebutuhan

Tekanan ekonomi memaksa pekerja berpenghasilan rendah menjalani lebih dari satu pekerjaan. Kondisi ini dialami Herlina (38), warga Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang membagi waktu bekerja, pengasuh anak, dan membuat jajanan pasar tiap hari.

Selama Senin-Jumat, ia bekerja sebagai pengasuh anak pada pukul 09.00-18.00 dengan upah Rp 1,6 juta per bulan. Sesampainya di rumah, ia membuat aneka kue untuk dijual hingga dini hari.

Selama Senin-Jumat, ia bekerja sebagai pengasuh anak pada pukul 09.00- 18.00 dengan upah Rp 1,6 juta per bulan. Sesampainya di rumah, ia membuat aneka kue untuk dijual hingga dini hari, terutama saat pesanan meningkat. ”Mengasuh saja sudah capai. Dulu sempat kepikiran berhenti, tetapi kalau tidak begitu, uangnya tidak akan cukup,” ungkapnya.

Dari pekerjaan sampingan itu, Herlina dapat tambahan penghasilan Rp 500.000 hingga Rp 1 juta per bulan. Artinya, dalam sebulan penghasilannya berkisar Rp 2,1 juta-Rp 2,6 juta.

”Kalau bulan puasa begini, pendapatan dari jualan bisa sampai Rp 2,5 juta. Akan tetapi, pengeluaran di bulan Ramadhan juga lebih besar,” tambahnya.

Herlina mengaku terbebani secara ekonomi, terlebih setelah suaminya kehilangan pekerjaan dua bulan lalu. Sebelumnya, suaminya bekerja sebagai petugas satpam proyek selama empat tahun dengan penghasilan sekitar Rp 1 juta per bulan. Padahal, upah itu selalu menjadi andalan untuk kebutuhan belanja.

”Dulu biasanya saya utang sayuran ke warung. Pas suami gajian baru dibayar. Sekarang, beli sayur sudah harus pakai gaji saya,” katanya.

Sebagai lulusan SD, tak mudah bagi suami Herlina mencari pekerjaan baru. Kondisi ini memaksa Herlina menjadi tulang punggung keluarga. Selain memenuhi kebutuhan harian, Herlina masih harus menanggung cicilan sepeda motor sebesar Rp 800.000 per bulan selama hampir dua tahun.

Baca JugaGaji Tak Cukup untuk Kebutuhan Hidup, Warga  Kerja Sampingan 
Maksimal 5 jam

Survei daring Kompas juga menyoroti, sebanyak 49 persen responden yang memiliki pekerjaan sampingan mengalokasikan waktu untuk diri sendiri, keluarga, dan teman-teman selama 3-5 jam per hari. Di posisi kedua, sebanyak 36 persen mengalokasikan waktu kurang dari 3 jam per hari.

Selama melakoni kerja sampingan, para pekerja cenderung memprioritaskan waktu untuk tidur. Sebanyak 72 persen responden yang punya kerja sampingan menyebut, waktu tidurnya di rentang 5-8 jam per hari.

Lutfi (34), dosen calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Purwokerto, merasakan kerja sampingan itu cukup berat. Sebelum menjadi CPNS, ia menjadi dosen luar biasa di dua kampus swasta di Purwokerto.

Kerja ganda itu membuat waktunya untuk keluarga berkurang dalam sehari. ”Pulang dari kampus sekitar pukul 18.00. Main sama anak sampai pukul 20.00, setelah mereka tidur. Akhirnya Sabtu-Minggu digunakan untuk bersama keluarga,” ujarnya.

Sementara itu, psikolog dan konsultan sumber daya manusia Viera Adella menggarisbawahi pentingnya waktu untuk diri sendiri bagi pekerja yang punya pekerjaan sampingan. Meski terbatas, waktu untuk diri sendiri mesti berkualitas. ”Waktu tersebut mesti dimanfaatkan untuk menyeimbangkan kembali mentalnya setelah menghadapi situasi yang penuh tekanan. Jika tidak, akan menjadi masalah,” katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Terhalang Mendung dan Hujan, Warga di TIM Saksikan Gerhana Bulan via Streaming
• 2 jam lalusuara.com
thumb
Kepergian Try Sutrisno, Jokowi: Dedikasi Beliau Akan Terus Menginspirasi
• 4 jam laluokezone.com
thumb
Kemensos Pastikan 42 Ribu Penerima Manfaat Tetap Terdaftar sebagai Peserta PBI JKN
• 21 jam lalumatamata.com
thumb
Pasca Laka Maut Moge di Kulon Progo, Bos Rokok HS Tanggung Biaya Perawatan Pengendara Jupiter dan Pendidikan Anak Korban
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Zakat, Infaq dan Sedekah sebagai Instrumen Mewujudkan Jaminan Pendapatan Dasar
• 16 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.