Bisnis.com, JAKARTA — PT Chandra Asri Pacific Tbk menyampaikan pemberitahuan force majeure atau keadaan kahar kepada mitra usahanya menyusul konflik militer di kawasan Selat Hormuz, Timur Tengah. Langkah ini diambil akibat terganggunya distribusi bahan baku dalam rantai pasok global.
Gangguan tersebut terjadi di tengah eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran. Situasi ini berdampak pada arus pelayaran energi dan bahan baku strategis dunia.
Direktur Sumber Daya Manusia & Urusan Korporat Chandra Asri Group Suryandi mengatakan, pihaknya telah mengumumkan terkait kondisi kahar atau keadaan darurat kepada mitra usaha
“Sehubungan dengan konflik militer di kawasan Selat Hormuz, Timur Tengah, yang berdampak pada kelancaran distribusi bahan baku dalam rantai pasok, Perusahaan telah menyampaikan pemberitahuan force majeure kepada mitra usaha sesuai ketentuan kontraktual yang berlaku,” kata Suryandi dalam keterangan yang diterima Bisnis, Rabu (4/3/2026).
Pemberitahuan force majeure, lanjutnya, merupakan langkah administratif yang dilakukan secara terukur. Keputusan itu diambil setelah perusahaan melakukan kajian menyeluruh atas potensi implikasi terhadap pemenuhan kewajiban kepada pelanggan, sekaligus bentuk transparansi perusahaan.
Konflik di kawasan tersebut dilaporkan telah mengganggu arus kapal tanker. Sejumlah pengiriman bahan baku petrokimia, termasuk nafta, terdampak akibat meningkatnya risiko keamanan.
Baca Juga
- Danantara & INA Tanam Investasi Rp3,37 Triliun ke Proyek CA-EDC Chandra Asri (TPIA)
- Susul BRPT & TPIA, Chandra Daya (CDIA) Siapkan Rp1 Triliun untuk Buyback Saham
- RUPSLB Chandra Asri (TPIA) Angkat Direktur dan Komisaris Baru
Terlebih, Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global melintasi perairan sempit tersebut.
Sebagai produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia, Chandra Asri mengandalkan pasokan feedstock impor untuk mendukung operasionalnya. Gangguan distribusi global berpotensi memengaruhi stabilitas produksi dalam negeri.
“Kami secara aktif memantau perkembangan situasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus berkembang dan mengambil langkah antisipatif untuk memastikan ketahanan operasional di seluruh unit bisnis kami,” tuturnya.
Sebagai bagian dari mitigasi, perusahaan akan menyesuaikan tingkat operasional atau run rates di sejumlah pabriknya. Penyesuaian ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara pasokan bahan baku dan kebutuhan produksi.
Selain itu, koordinasi dengan pelanggan terus dilakukan guna meminimalkan dampak terhadap pengiriman produk. Perusahaan berupaya menjaga kelancaran distribusi di tengah dinamika pasar global.
“Dalam kondisi global yang dinamis ini, kami berkomitmen menjaga kesinambungan operasional, ketahanan bisnis serta terus mengevaluasi potensi dampak terhadap kegiatan usaha kami,” ujar Suryandi.
Chandra Asri mengoperasikan kompleks petrokimia terintegrasi yang memproduksi olefin dan poliolefin, bahan baku penting bagi industri manufaktur dan plastik. Perusahaan juga memiliki aset kilang serta fasilitas kimia hilir di Singapura melalui skema joint venture.
Asetnya mencakup kilang berkapasitas sekitar 237.000 barel per hari dan fasilitas naphtha cracker 0,9 juta metrik ton per tahun. Skala operasi ini membuat perusahaan sensitif terhadap gangguan rantai pasok global.
Seiring pengumuman tersebut, saham perseroan dilaporkan mengalami tekanan dan sempat turun sekitar 2,5%, menyentuh level terendah dalam hampir 1 tahun. Pelemahan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap dampak konflik terhadap industri petrokimia nasional.





