Rupiah Melemah di Tengah Surplus Neraca Dagang dan Gejolak Timur Tengah

viva.co.id
13 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.870 per Selasa, 3 Maret 2026. Posisi rupiah itu melemah 22 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 16.848 pada perdagangan Senin, 2 Maret 2026.

Baca Juga :
IRGC Klaim 650 Tentara AS Jadi Korban dalam Serangan Balasan Iran, Kapal Induk Amerika Dipukul Mundur
200 Kapal Tanker Tertahan di Selat Hormuz Usai Serangan AS-Israel ke Iran

Sementara perdagangan di pasar spot pada Rabu, 4 Maret 2026 hingga pukul 09.16 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 16.915 per dolar AS. Posisi itu melemah 43 poin atau 0,25 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.872 per dolar AS.

Ilustrasi mata uang Rupiah.
Photo :
  • Pixabay/IqbalStock

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca dagang Indonesia pada Januari 2026 mengalami surplus sebesar US$0,95 miliar, atau selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus pada Januari 2026 ditopang oleh surplus pada komoditi non-migas sebesar US$3,22 miliar.

Komoditi penyumbang surplus pada non-migas yaitu lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Pada sisi yang sama, neraca komoditas Migas tercatat defisit sebanyak US$2,27 miliar, dengan komoditi penyumbang defisit terutama minyak mentah, hasil minyak dan gas.

Surplus ini terjadi karena nilai ekspor lebih tinggi dibandingkan impor pada Januari 2026. Teracatat, nilai ekspor Indonesia mencapai US$22,16 miliar atau naik 3,39 persen, jika dibandingkan dengan Januari 2025. Nilai ekspor migas tercatat US$0,89 miliar atau turun 15,62 persen, sementara nilai ekspor non-migas tercatat naik 4,38 persen dengan nilai US$21,26 miliar.

Sedangkan nilai impor mencapai US$21,20 miliar atau meningkat 18,21 persen jika dibandingkan Januari 2025. Nilai impor migas sebesar US$3,17 miliar atau meningkat 27,52 persen secara tahunan.

Selain itu, impor non-migas senilai US$18,04 miliar juga mengalami peningkatan secara tahunan sebesar 16,71 persen. Peningkatan nilai impor secara tahunan terutama didorong oleh peningkatan impor non-migas dengan andil sebesar 14,40 persen.

"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.870-Rp 16.910," ujarnya.

Sebagai informasi, perang udara AS dan Israel terhadap Iran meluas pada hari Senin, 2 Maret 2026, dengan Israel menyerang Lebanon dan Iran membalas dengan serangan terhadap infrastruktur energi di negara-negara Teluk dan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.

Baca Juga :
IHSG Melemah ikuti Bursa Asia dan Wall Street Imbas Ketidakpastian Perang Iran-AS
IHSG Berisiko Jatuh ke Level 7.700, Perang AS-Iran dan Penurupan Selat Hormuz Tekan Pasar
Iran Siap Perang Panjang Lawan AS dan Israel, Berapapun Harganya

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ribuan Warga Meriahkan Perayaan Cap Go Meh di Gorontalo
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Ini Strategi Iran untuk Menang Perang Lawan AS-Israel
• 18 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Kantor CIA di Riyadh Arab Saudi Hancur Kena Serangan Drone Iran
• 11 jam lalubisnis.com
thumb
Hasil All England 2026: Lewati Ganda Putra Malaysia dengan Mudah, Fajar/Fikri akan Jumpa Raymond/Joaquin di Babak Kedua
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Mojtaba Khamenei Calon Terkuat Isi Posisi Pemimpin Tertinggi Iran
• 5 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.