JAKARTA, KOMPAS.TV - Dosen sekaligus Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM) Ririn Tri Nurhayati menyebut Iran telah menjadi korban baru unilateralisme brutal Amerika Serikat.
Diketahui, Amerika Serikat bersama Israel menyerang Iran pada Sabtu (28/2/2026) pagi, yang mengakibatkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas.
“Yang saya lihat Iran ini menjadi korban baru, unilateralisme brutal dari negara super power dan pelanggaran hukum internasional,” ucap Ririn dalam dialog Sapa Indonesia Pagi Kompas TV, Rabu (4/3/2026).
Ririn menilai serangan militer AS-Israel ke Iran tidak pantas sebagai negara penggagas Board of Peace atau Dewan Perdamaian. Apalagi, serangan militer AS-Israel masuk dalam kategori kejahatan berat.
Baca Juga: Purbaya soal Ketahanan Anggaran di Tengah Potensi Krisis Global: Enggak Ada Masalah
“Apa yang dipertontonkan dengan serangan militer AS kepada Iran kemarin, ini merupakan crime of aggression, yang dalam hukum internasional ini merupakan salah satu kejahatan berat,” ucap Ririn.
“Sehingga tindakan ini kemudian menjadi berkebalikan dan tidak konsisten dengan tujuan utama Dewan Perdamaian atau Board of Peace.”
Atas dasar itu, Ririn pun mempertanyakan apakah Board of Peace yang diikuti Indonesia bisa menjadi sarana memperoleh perdamaian untuk Palestina. Mengingat, serangan AS terhadap Iran merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan.
Baca Juga: Sugiono Telepon Menlu Iran, Tawarkan Indonesia Bersedia Fasilitasi Dialog
“Ini (serangan AS dan Israel ke Iran) justru jelas-jelas bertentangan dengan hukum internasional, bertentangan dengan prinsip-prinsip perdamaian dan penghormatan kedaulatan dan sebagainya,” kata Ririn.
Penulis : Ninuk Cucu Suwanti Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- iran
- iran korban unilateralisme as
- unilateralisme brutal as
- as lakukan unilateralisme brutal
- as-israel serang iran




