Sepiring Perjumpaan dalam Lontong Cap Go Meh

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Aroma nikmat dari irisan lontong yang disiram kuah opor kekuningan tercium hangat. Di atasnya, taburan bubuk kedelai, sambal goreng labu siam, telur pindang, dan kerupuk saling melengkapi. Sepiring lontong cap go meh bukan sekadar penutup rangkaian Imlek, melainkan jejak panjang pertautan budaya Jawa dan Tionghoa yang terajut dalam rasa.

Sore itu, Selasa (3/3/2026), suasana di Gedung Rasa Dharma, kawasan Pecinan, Kota Semarang, terasa istimewa. Perayaan Cap Go Meh beriringan dengan buka puasa Ramadhan. Ketua Perkumpulan Boen Hian Tong, Harjanto Halim, menyambut hangat tamu dari beragam komunitas lintas agama.

Di antara mereka hadir mantan narapidana terorisme, kiai, biarawati, hingga pegiat komunitas keagamaan. Mereka duduk semeja, berbincang santai tentang keberagaman dan kesetaraan. Salah satunya yang hadir I Nengah Tirta Darmayana dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) berpendapat di tengah situasi global saat ini kebersamaan menjadi kunci kerukunan.

Cap Go Meh diperingati pada hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek. Di Semarang, tradisi itu menemukan bentuknya sendiri. Warga Tionghoa tak menyajikan yuanxiao atau tangyuan sebagaimana di daratan China, melainkan lontong dengan opor dan lauk khas Jawa.

Dari dapur keluarga hingga meja perjamuan komunitas seperti Boen Hian Tong, hidangan ini terus dihadirkan sebagai bagian dari perayaan. Sejarawan kuliner kerap menyebut lontong cap go meh sebagai bentuk negosiasi kultural. 

Lontong dan opor merepresentasikan tradisi Jawa-Islam, sementara momentum Cap Go Meh berakar dari kalender Kongzili. Ketika keduanya dipadukan, lahirlah hidangan yang tidak sepenuhnya Jawa, juga tidak sepenuhnya Tionghoa. Dari situlah identitas menemukan ruang komprominya.

Sejak abad ke-19, Kota Semarang menjadi simpul perdagangan dan migrasi. Akulturasi tumbuh secara organik di ruang-ruang perjumpaan, termasuk meja makan. Catatan tentang Perkumpulan Boen Hian Tong yang dipublikasikan pada Februari 1876 menunjukkan bagaimana komunitas Tionghoa membangun relasi sosialnya melalui kegiatan budaya dan sosial.

Bagi Harjanto, menghormati keyakinan orang lain adalah prinsip yang sederhana sekaligus mendasar. Ia mengibaratkannya seperti memilih pasangan hidup. “Saya memilih istri saya karena cocok, sama seperti keyakinan,” ujarnya.

Seperti sore itu, meja makan menjadi ruang perjumpaan yang paling cair. Lontong cap go meh hadir sebagai bahasa bersama yang mudah diterima lidah lokal. Sekaligus memuat pesan metafora sederhana melalui simbol beras yang dipadatkan, kuah santan yang merangkul, serta aneka lauk yang berbeda, tetapi saling menguatkan rasa.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Telkom Siapkan Empat Pilar AI untuk Ekosistem Nasional
• 16 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Harga Emas Naik 1 Persen Seiring Eskalasi Konflik Timur Tengah
• 21 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Daniel Radcliffe Ungkap Alasan Larang Anak Ikuti Jejaknya di Dunia Hiburan
• 1 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Jasa Marga (JSMR) Bakal Gratiskan 4 Ruas Tol saat Lebaran, Ini Daftarnya
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
SBY Disambut Prabowo saat Tiba di Istana Jelang Pertemuan
• 19 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.