Jakarta, CNBC Indonesia - Maraknya platform over the top (OTT) atau layanan video on demand tak dipungkiri menjadi tantangan tersendiri bagi industri bioskop. Namun pelaku usaha menilai keduanya tidak sepenuhnya saling mematikan.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) Suprayitno menegaskan, kehadiran OTT adalah realitas yang tak bisa dihindari, tetapi pasar keduanya berbeda.
"Kita tidak bisa menghindari persaingan itu. Tapi sebenarnya market-nya berbeda, experience-nya juga berbeda antara nonton di bioskop dan di OTT," ujarnya kepada CNBC Indonesia, Rabu (4/3/2026)
Menurutnya, menonton di bioskop menawarkan pengalaman kolektif dan kualitas audio visual yang tidak sepenuhnya tergantikan oleh layar gawai di rumah. Di sisi lain, OTT menjadi alternatif distribusi yang melengkapi keterbatasan jumlah layar bioskop di Indonesia.
"OTT itu alternatif, karena layar bioskop juga terbatas. Jadi sama-sama jalan saja," katanya.
Ia menjelaskan, umumnya film yang tayang di OTT terlebih dahulu diputar di bioskop. Skema ini sudah menjadi praktik umum di industri perfilman.
Logo Paramount, Netflix, dan Warner Bros terlihat pada ilustrasi yang diambil pada 8 Desember 2025. (REUTERS/Dado Ruvic/Illustration)
"Biasanya film tayang di bioskop dulu baru ke OTT. Itu pola yang umum," jelasnya.
Meski begitu, ada pula produksi tertentu yang memang sejak awal dirancang untuk dua platform sekaligus, tergantung strategi produser dan segmentasi pasar. Dari sisi durasi, Suprayitno menyebut format film layar lebar juga memiliki karakteristik berbeda dibanding konten OTT yang lebih fleksibel.
"Kalau di bioskop rata-rata durasinya 90 menit ke atas. Jarang yang di bawah satu jam," ujarnya.
Lebih jauh, ia menilai kondisi ekonomi makro yang tengah menekan daya beli belum sepenuhnya menggerus minat masyarakat untuk datang ke bioskop. Bahkan sepanjang 2025, film nasional mencatatkan capaian signifikan.
"Penonton film nasional tahun 2025 itu sudah tembus 80,27 juta. Market share-nya juga sudah sekitar 60% dibanding film impor," ungkapnya.
Capaian tersebut menunjukkan film nasional semakin menjadi tuan rumah di negeri sendiri, sekaligus menandakan bahwa bioskop masih relevan di tengah gempuran digitalisasi.
"OTT dan bioskop itu bukan saling meniadakan. Yang jelas, kalau filmnya bagus, penonton tetap datang ke bioskop," ujar Suprayitno.
(fys/wur) Add as a preferred
source on Google




