REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tanggal 4 Maret diperingati sebagai Hari Obesitas Sedunia. Di Indonesia, obesitas menjadi salah satu masalah kesehatan yang serius termasuk pada anak-anak.
Menurut Riset Kesehatan Dasar, 1 dari 5 anak-anak di Indonesia mengalami kelebihan berat badan. Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan obesitas pada anak salah satunya disebabkan oleh pola makan yang keliru. Tak sedikit anak menjadi obesitas karena sedari kecil selalu diberikan asupan makanan dan minuman tinggi gula.
Baca Juga
Dampak Buruk Mendisiplinkan Anak dengan Kekerasan
Tips Atur Emosi Buat Orang Tua Saat Puasa Ketika Anak Rewel
Jimmy Fallon Ejek Donald Trump Terkait Serangan ke Iran
"Konsumsi gula itu kan kayak adiksi ya, jadi kalau dari kecil anak udah dikasih makanan atau minuman yang manis, maka dia sampai dewasa pun kemungkin besar akan suka manis. Konsumsi gula itu sangat berpengaruh, paling cepet bikin obesitas," kata Nadia dalam diskusi media dalam rangka memperingati Hari Obesitas Sedunia di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Dia menjelaskan, menyantap makanan atau minuman manis sebetulnya tidak menjadi soal, jika dibarengi dengan olahraga rutin. Sayangnya, menurut data Cek Kesehatan Gratis (CKG) tahun 2025 sebanyak 96 persen masyarakat Indonesia kurang aktivitas fisik.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
"Sebetulnya makan atau minum manis itu nggak apa-apa, kalau dibarengi dengan olahraga. Masalahnya dari data, 96 persen masyarakat kita kurang gerak alias mager ya, ini yang menjadi masalah," kata dia.
Berat badan bayi. (ilustrasi) - (www.freepik.com)
Menurut Nadia, anak-anak dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik atau olahraga minimal satu jam dalam sehari. Namun menurut catatannya, banyak anak-anak Indonesia tidak menjalankan aktivitas fisik atau olahraga cukup.
"Gawai itu sangat berpengaruh, anak-anak sekarang banyak yang main game online, jadi nggak banyak gerak. Dan kalau kebiasaan ini dibarengi asupan gula tinggi, maka anak Indonesia bisa obesitas," kata dia.