Sejumlah raksasa teknologi AS, seperti Nvidia dan Amazon, memutuskan untuk menutup kantor cabang di Timur Tengah, imbas eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memanas belakangan ini.
Saling balas serangan ini tidak hanya mengganggu rute penerbangan komersial dan jaringan internet di Timur Tengah, tetapi juga memaksa perusahaan teknologi asal AS dan China merombak sistem kerja demi keselamatan karyawan.
Berikut sejumlah perusahaan teknologi dunia yang operasionalnya terdampak akibat konflik AS-Iran:
NvidiaRaksasa cip kecerdasan buatan (AI) asal AS, Nvidia, memutuskan untuk menutup sementara kantor cabangnya di Dubai. Seluruh karyawan kini diinstruksikan untuk bekerja dari rumah (remote).
CEO Nvidia, Jensen Huang, menyebut tim manajemen krisis bekerja 24 jam untuk memantau keselamatan karyawan.
"Bekerja siang-malam dan terus memberikan dukungan kepada karyawan yang terdampak beserta keluarga mereka," bunyi memo internal, mengutip CNBC.
Tak hanya karyawan yang di Iran, instruksi Huang itu juga termasuk untuk sekitar 6.000 karyawan Nvidia yang berada di Israel, pusat riset terbesar Nvidia di luar AS.
Huang pun memastikan per Selasa (3/3) pagi waktu setempat, seluruh karyawan dan keluarga mereka yang terdampak akibat konflik telah aman.
GoogleKondisi menegangkan juga dialami oleh staf Google. Puluhan karyawan unit layanan komputasi awan (cloud) mereka dilaporkan telantar dan tak bisa pulang usai menggelar konferensi "Accelerate" di Dubai pekan lalu.
Mereka terjebak akibat pembatalan massal lebih dari 11.000 penerbangan di Timur Tengah pada akhir pekan lalu.
Merespons hal ini, Google telah mengaktifkan protokol keamanan tingkat tinggi dan menginstruksikan staf untuk mematuhi arahan evakuasi maupun berlindung dari otoritas lokal.
"Situasi di Timur Tengah berubah begitu cepat dan kami terus memantaunya dengan cermat," ungkap Google dalam pernyataannya kepada Business Insider. "Fokus utama kami saat ini adalah memastikan keselamatan dan kesejahteraan para karyawan kami di wilayah tersebut."
Amazon (Amazon Web Services/AWS)Dampak fisik paling parah menimpa Amazon, terutama unit bisnis cloud-nya, Amazon Web Services (AWS). Dua fasilitas pusat data (data center) AWS di Uni Emirat Arab terkena serangan drone secara langsung, sementara satu fasilitas AWS di Bahrain juga rusak akibat serangan di dekat wilayahnya.
Serangan tersebut memicu kebakaran, pemadaman listrik, dan kerusakan struktural yang membuat layanan server virtual AWS offline.
Amazon kini menginstruksikan seluruh staf korporatnya di UEA, Arab Saudi, hingga Israel untuk WFH.
"Bahkan saat kami tengah berupaya memulihkan fasilitas-fasilitas ini, konflik yang masih berlangsung di kawasan tersebut membuat lingkungan operasional secara keseluruhan di Timur Tengah tetap sulit diprediksi," ungkap AWS.
SnapchatSerupa dengan Amazon, kantor media sosial Snapchat di Timur Tengah juga menerapkan kebijakan working from home (WFH) untuk karyawannya.
Mereka memiliki 4 kantor wilayah yang ada di kawasan Timur Tengah. Kebijakan WFH ini diterapkan sampai adanya pemberitahuan lebih lanjut.
BaiduKrisis ini rupanya turut menyasar layanan raksasa teknologi China di kawasan Teluk. Baidu, yang baru memulai layanan taksi tanpa awak (robotaxi) Apollo di Abu Dhabi dan Dubai pada Januari lalu, harus menyetop seluruh operasional dan pengujian mobilnya di jalanan akibat risiko keamanan.
Kepada South China Morning Post (SCMP) pada Senin (2/3) waktu setempat, perusahaan mengaku "terus memantau dengan cermat perkembangan situasi di wilayah tersebut." Mereka juga menegaskan keselamatan karyawan dan masyarakat luas tetap menjadi prioritas utama.
WeRideHal senada juga menimpa startup kendaraan otonom asal Guangzhou, WeRide. Armada robotaxi mereka di Dubai resmi ditangguhkan sejak akhir pekan lalu menunggu arahan lebih lanjut dari pihak berwenang.





