Rencana Impor 1.000 Ton Beras, Mentan: Buat Turis dan Tak Ganggu Swasembada

metrotvnews.com
10 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan rencana impor 1.000 ton beras dari Amerika Serikat (AS) tidak bertentangan dengan klaim swasembada, karena jumlahnya sangat kecil dan bersifat khusus buat turis-turis asing yang berkunjung ke Indonesia.

"Itu baru akan (diimpor). Itu pun kalau (jadi) diimpor itu adalah beras khusus karena (beras jenis) basmati sesuai dengan (selera) turis-turis yang datang, investor (yang) datang," kata Amran dikonfirmasi di sela-sela kegiatan Pelepasan Ekspor Unggas dan Produk Turunannya di Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu, 4 Maret 2026.

Ia menjelaskan beras yang direncanakan diimpor merupakan beras khusus jenis basmati untuk memenuhi kebutuhan pasar tertentu, bukan beras konsumsi umum masyarakat Indonesia.

Beras khusus tersebut diperuntukkan bagi segmen restoran, hotel, serta kebutuhan wisatawan dan investor asing yang memiliki preferensi rasa berbeda dari beras lokal. "Karena 'taste'-nya ini untuk turis kita yang datang," ujar Amran.

Amran pun mencontohkan calon jemaah haji Indonesia di Tanah Suci cenderung memilih beras lokal dibandingkan beras Arab Saudi karena cita rasa lebih sesuai selera masyarakat Indonesia. "Jadi, sama kita ke mana nih berangkat (haji), senangnya beras yang pulen, yang beras inpari, Cianjur," jelas dia.
  Baca juga: Impor Beras AS, Menko Pangan: Itu Beras Khusus, Bukan Dikonsumsi Sehari-hari   Indonesia ekspor beras 2.280 ke Arab Saudi
Amran juga menyoroti rencana ekspor beras sebanyak 2.280 ton dalam waktu dekat ke Arab Saudi sebagai indikator kepercayaan diri pemerintah terhadap produksi domestik. Beras itu akan diekspor untuk memenuhi kebutuhan konsumsi calon jamaah haji Indonesia di Tanah Suci.

Menurut dia, volume ekspor tersebut justru lebih besar dibandingkan rencana impor, sehingga publik diminta melihat neraca perdagangan beras secara utuh dan proporsional.

Beras yang akan diekspor merupakan beras premium produksi dalam negeri dengan kualitas tinggi dan memiliki daya saing di pasar internasional. Beras itu akan dilakukan Perum Bulog.

Oleh karena itu, ia berharap penting bagi publik memahami perbedaan antara beras khusus impor dan beras premium ekspor agar tidak menimbulkan persepsi keliru mengenai kebijakan pangan nasional.


(Ilustrasi. Foto: dok MI)
  Tak ganggu ketahanan pangan nasional
Menurut Amran, stok beras nasional yang dikelola Perum Bulog saat ini melimpah dan mencapai hampir empat juta ton. Jika dibandingkan dengan total cadangan tersebut, rencana impor 1.000 ton itu kecil sehingga tidak signifikan terhadap ketahanan pangan nasional.

Mentan menyebut kondisi stok yang melimpah menjadi bukti Indonesia telah mencapai swasembada beras dan mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri secara mandiri. "Kita harus rasional. Jangan pakai rasa. Yang baru akan (impor beras 1.000 ton itu) seakan hantu, tetapi yang kita ekspor itu yang kita bahas sekarang," kata Amran.

Impor beras ini merupakan bagian dari kesepakatan dagang tarif imbal balik dengan AS. Dalam dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART) disebutkan Indonesia akan mengimpor komoditas pertanian senilai USD4,5 miliar.

Salah satu komoditas tersebut adalah beras dengan total 1.000 ton beras per tahun. Beras ini meliputi gabah, beras lepas kulit, beras putih, dan beras pecah (menir).


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Fokus Perkuat Ekosistem UMKM, Kemenko PM Lakukan Ini Buka Luas Akses Pasar
• 12 jam laluviva.co.id
thumb
Dampak Konflik Timur Tengah, 35 Penerbangan Internasional di Bali Dibatalkan
• 46 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Konflik Iran-Israel Memanas: Prabowo Subianto Telepon Pemimpin Teluk dan Tunggu Jadwal MBS
• 10 jam lalumatamata.com
thumb
Tim Patroli Koops TNI Papua Amankan Senjata Api dan 7 Orang OPM
• 16 jam lalujpnn.com
thumb
Jelang Arus Mudik, Kelayakan Armada Bus di Arjosari Dicek Ketat
• 16 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.