Iran sebelumnya menghabiskan dana besar untuk membeli apa yang disebut sebagai sistem pencegat rudal pertahanan udara canggih dan sistem peringatan radar dari Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan Rusia. Namun, ketika berhadapan dengan kekuatan militer Amerika Serikat dan Israel, sistem-sistem tersebut nyaris sepenuhnya “bisu” dan tidak berfungsi, ibarat hiasan semata. Kalangan pengamat menilai PKT salah menilai situasi sebelum perang, dan banyak tokoh yang disebut sebagai “penasihat strategis” PKT pun menjadi bahan olok-olok.
EtIndonesia. Pada 1 Maret 2026, pemerintah Iran mengkonfirmasi bahwa pemimpin tertinggi Iran berusia 86 tahun, Ali Khamenei, telah tewas dalam operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Dalam beberapa hari terakhir, selain gelombang warga Iran yang turun ke jalan merayakan peristiwa tersebut, komunitas diaspora Iran di Amerika Serikat, Jerman, Prancis, Inggris, dan negara-negara lain juga menggelar unjuk rasa besar-besaran. Mereka menyampaikan terima kasih kepada pemerintah AS dan Israel atas bantuan yang diberikan untuk membantu rakyat Iran mendapatkan kembali kebebasan, sekaligus menyerukan perubahan rezim di Iran.
Seorang warga diaspora Iran di AS, Salehi, mengatakan: “Kami sangat berharap rezim ini runtuh sepenuhnya. Saya percaya rakyat Iran—baik yang di dalam negeri maupun kami yang berada di luar—pasti akan memiliki sebuah negara yang bebas.”
Salehi juga menyatakan bahwa aliansi “poros kejahatan” telah membawa bencana besar bagi dunia.
“Kami tahu Iran bersekutu dengan PKT dan Rusia. Lihatlah bencana yang ditimbulkan oleh rezim-rezim ini ketika mereka bergandengan tangan. Baik yang mengusung komunisme maupun Islamisme, semuanya adalah rezim diktator.”
Pengamat luas menilai runtuhnya rezim Khamenei akan memberikan dampak terbesar terhadap PKT.
Komentator militer senior bermarga Ma mengatakan: “Dari sisi ekonomi, sekitar 90% minyak mentah Iran dijual ke Tiongkok. Jika pasokan itu terputus, bagi ekonomi PKT yang sudah buruk, ini akan menjadi pukulan tambahan. Selain itu, jika Iran benar-benar mengalami perubahan rezim, maka seluruh investasi PKT di sana bisa lenyap begitu saja.”
Menurut laporan, Iran baru-baru ini mengeluarkan dana besar untuk mengimpor sistem pertahanan udara dan radar dari Tiongkok dan Rusia, namun sistem tersebut sama sekali tidak mampu menghadapi operasi militer AS–Israel kali ini.
Pada 1 Maret, Donald Trump mengungkapkan di platform Truth Social bahwa militer AS telah menghancurkan ratusan target militer Iran, termasuk fasilitas Garda Revolusi dan sistem pertahanan udara Iran.
Sumber yang memahami sistem diplomasi PKT mengatakan kepada The Epoch Times bahwa sebelum serangan udara terhadap Iran, internal PKT bersikap “terlalu optimistis”, meyakini konflik AS–Israel dengan Iran hanya sebatas pencegahan dan tekanan, serta tidak akan menyentuh inti kekuasaan Iran. Namun, serangan presisi AS–Israel kali ini justru menghancurkan kepercayaan diri PKT terhadap kemampuan kerja sama teknologinya sendiri.
Komentator militer Ma menambahkan: “Jelas sekali, di bawah perang elektronik dan penekanan semacam ini oleh AS dan Israel, sistem-sistem tersebut hampir tidak berfungsi. Bukan hanya memperlihatkan kelemahan persenjataannya, tetapi juga rudal pertahanan udara dan radar buatan Tiongkok tampak sama sekali tidak mampu melawan serangan AS dan Israel.”
Sebelum perang pecah, media corong PKT dan para “penasihat negara” ramai-ramai melontarkan analisis tentang situasi Iran, secara terbuka mengklaim bahwa “Amerika tidak berani menyerang Iran” dan “sistem pertahanan udara buatan Tiongkok sangat hebat”. Kini, pernyataan-pernyataan yang menyesatkan tersebut menjadi bahan tertawaan.
Beberapa pernyataan yang pernah dilontarkan antara lain:
“Poros utama Inisiatif Sabuk dan Jalan Tiongkok ada di Iran. Jika Iran kacau, maka Sabuk dan Jalan akan hancur.”
“Iran cukup dengan satu rudal saja untuk menakuti Amerika.”
“Menurutmu Amerika akan menyerang Iran? Amerika miskin dan tidak punya apa-apa—beranikah mereka menyerang?”
Media corong PKT, CCTV, dilaporkan lupa menutup kolom komentar saat memberitakan kematian Khamenei. Akibatnya, warganet Tiongkok berbondong-bondong masuk, menyatakan dukungan kepada rakyat Iran, serta mengungkapkan harapan agar hari berakhirnya kekuasaan otoriter PKT juga segera tiba.
Komentator urusan aktual Tang Jingyuan mengatakan: “Jika suatu hari nanti benar-benar giliran PKT runtuh, Anda akan melihat betapa luar biasanya kegembiraan rakyat Tiongkok. Itu mungkin akan menjadi perayaan nasional—bahkan menyalakan petasan sepanjang malam pun mungkin tidak cukup untuk menggambarkan suasananya.”
Reporter New Tang Dynasty Television, Tang Rui dan Han Bing, melaporkan





