JAKARTA, KOMPAS.com – Di tengah stigma tawuran yang melekat kuat pada wilayah Manggarai, Jakarta Selatan, puluhan anak muda Generasi Z justru memilih jalan berbeda, yaitu mengabdikan diri untuk masjid dan membangun ruang pendidikan bagi anak-anak di lingkungannya.
Wilayah Manggarai selama ini dikenal sebagai daerah yang rawan tawuran antarwarga atau pemuda. Peristiwa bentrokan yang disebut-sebut sudah seperti budaya itu perlahan membentuk stigma negatif terhadap wilayah ini.
Manggarai kerap dicap sebagai daerah yang menyeramkan, tingkat kriminalitas tinggi, dan memberi label buruk bagi warganya.
Baca juga: Momen Gibran Salat Tarawih di Masjid Al-Falaah Manggarai
Akibatnya, hampir setiap orang yang tinggal di Manggarai kerap dicap sebagai pelaku tawuran, padahal tidak semuanya terlibat dalam tindakan kriminal yang merugikan banyak pihak tersebut.
"Kadang pas kenalan sama orang, ditanya orang mana, pas jawab orang Manggarai, dia langsung bilang 'oh sering ikut tawuran ya'. Padahal kan enggak semua orang Manggarai ikut tawuran," ucap salah satu Gen Z bernama Eki Wiratama Putra (25) ketika diwawancarai di Masjid Al-Falaah, Manggarai, Jakarta Selatan, Selasa (3/3/2026).
Menghapus stigma negatif tentu bukan perkara mudah. Hingga kini, tawuran masih kerap terjadi di kawasan terowongan Manggarai, yang selama ini dikenal sebagai titik rawan bentrokan.
Di tengah pandangan miring terhadap lingkungan tempat tinggalnya, sebagian Generasi Z (Gen Z) yang lahir sekitar 1997 hingga 2012—kini berusia 14 sampai 29 tahun—memilih mengabdikan diri di Masjid Al-Falaah.
Mereka tinggal di RW 07 yang berjarak sekitar 1,9 kilometer dari Terowongan Manggarai. Ada sekitar 30 pemuda yang tergabung dalam Ikatan Remaja Masjid Al-Falaah (IRMA) dan aktif mengabdi sejak 2016.
Kontribusi untuk lingkunganTak sekadar mengaji atau belajar ilmu agama secara rutin, para Gen Z yang tergabung dalam IRMA juga aktif menggelar berbagai kegiatan sosial dan keagamaan yang bermanfaat bagi warga sekitar.
Mereka menyelenggarakan peringatan hari besar Islam seperti Maulid Nabi, Isra Mi’raj, Tahun Baru Hijriah, Idul Adha, hingga kegiatan sepanjang bulan Ramadhan.
Baca juga: Bangunkan Warga Sahur, 2 Kelompok Pemuda di Cengkareng Tawuran Pakai Kembang Api
Di tengah kesibukan sekolah maupun bekerja, selama satu bulan penuh Ramadhan para anggota IRMA menyempatkan diri membantu persiapan buka puasa bersama di Masjid Al-Falaah.
Seusai salat Ashar, mereka berbagi tugas mendatangi rumah-rumah warga yang telah terjadwal memberikan sumbangan takjil untuk berbuka puasa di masjid.
Tak jarang mereka harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengangkut berbagai jenis makanan dan minuman—mulai dari kolak dalam panci besar, dus air mineral, hingga kardus makanan—dari rumah warga menuju masjid yang jaraknya cukup jauh.
Keringat yang mengucur dan napas terengah-engah saat membawa beban berat tak membuat mereka jera, meski menjalankannya dalam kondisi berpuasa.
Setelah seluruh takjil terkumpul, tugas berikutnya adalah menghitung dan menyesuaikan jumlahnya dengan jamaah yang hadir berbuka puasa.





