Jakarta (ANTARA) - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji mengatakan permasalahan ekonomi masih menjadi penyebab utama keluarga berisiko stunting.
Wihaji mengemukakan hal tersebut saat mengunjungi keluarga berisiko stunting yang memiliki lima anak, dengan anak pertama berusia 14 tahun yang terpaksa putus sekolah di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Rabu.
"Misalnya yang anaknya lima, mengapa yang nomor satu tidak sekolah? Saya melihat faktor ekonomi. Membiayai lima anak itu berat, gara-gara tadi kebobolan, sehingga bermasalah," ujar dia.
Oleh karena itu, menurutnya, salah satu solusi yang diperlukan yakni melalui edukasi, apalagi keluarga berisiko stunting tersebut masih menggunakan kontrasepsi jangka pendek berupa pil.
"Karena tadi tiga kali kebobolan, metode kontrasepsinya pakai pil, sehingga ini perlu edukasi tentang Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP), dan kasus seperti ini mungkin tidak hanya satu, maka kita sebut keluarga berkualitas. Harapannya, dengan ini ada keluarga berencana, karena KB itu tidak hanya identik dengan kontrasepsi, tetapi bagaimana keluarga itu direncanakan," katanya.
Baca juga: Mendukbangga tekankan aksi lapangan untuk turunkan stunting
Untuk memastikan agar anak-anak bisa menjadi keluarga berkualitas ke depan, maka perlu edukasi mengenai perencanaan keluarga yang tidak sekadar mengatur jumlah kelahiran, tetapi bagaimana memastikan hak-hak setiap ana yang dilahirkan, termasuk salah satunya edukasi, dapat terpenuhi.
"Itu perlu perhatian. Oleh karena itu, nanti kita bersama-sama edukasi bareng-bareng," ucap Wihaji.
Ia juga menjelaskan, salah satu intervensi berupa pemberian asupan gizi melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga terus dilakukan, sambil memperhatikan penyebab stunting lainnya yakni asupan gizi, sanitasi, air bersih, dan pernikahan dini.
"Air bersih di Cianjur ini oke, pernikahan dini tadi saya cek, hampir 20 tahun. Undang-Undang memang 19 tahun, saran kita sih 21 tahun, tetapi itu oke, kemudian, kemungkinan (penyebab stunting) yang lain yakni karena mandi, cuci, kakus (MCK) yang jadi satu dengan dapur, rumah terbuka, itu bagian yang kita bantu," ujarnya.
Baca juga: Program Genting hadirkan harapan baru bagi keluarga berisiko stunting
Oleh karena itu, Wihaji mengemukakan Kemendukbangga/BKKBN bekerja sama dengan berbagai pihak memberikan bantuan bedah rumah senilai Rp25 dan Rp50 juta untuk dua keluarga berisiko stunting di Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur.
"Itu bagian dari pemerintah hadir untuk memastikan keluarga berisiko stunting kita bantu, walaupun tentu tidak semuanya bisa langsung, karena saya melihat ada prioritas dan super-prioritas. Saya meyakini, menyelamatkan satu orang sama dengan menyelamatkan satu generasi karena nasib mereka ke depan tidak ada yang tahu. Sekarang, mungkin belum beruntung, tapi suatu saat mereka (anak-anak berisiko stunting) bisa menggantikan kita-kita ini," demikian Wihaji.
Wihaji mengemukakan hal tersebut saat mengunjungi keluarga berisiko stunting yang memiliki lima anak, dengan anak pertama berusia 14 tahun yang terpaksa putus sekolah di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Rabu.
"Misalnya yang anaknya lima, mengapa yang nomor satu tidak sekolah? Saya melihat faktor ekonomi. Membiayai lima anak itu berat, gara-gara tadi kebobolan, sehingga bermasalah," ujar dia.
Oleh karena itu, menurutnya, salah satu solusi yang diperlukan yakni melalui edukasi, apalagi keluarga berisiko stunting tersebut masih menggunakan kontrasepsi jangka pendek berupa pil.
"Karena tadi tiga kali kebobolan, metode kontrasepsinya pakai pil, sehingga ini perlu edukasi tentang Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP), dan kasus seperti ini mungkin tidak hanya satu, maka kita sebut keluarga berkualitas. Harapannya, dengan ini ada keluarga berencana, karena KB itu tidak hanya identik dengan kontrasepsi, tetapi bagaimana keluarga itu direncanakan," katanya.
Baca juga: Mendukbangga tekankan aksi lapangan untuk turunkan stunting
Untuk memastikan agar anak-anak bisa menjadi keluarga berkualitas ke depan, maka perlu edukasi mengenai perencanaan keluarga yang tidak sekadar mengatur jumlah kelahiran, tetapi bagaimana memastikan hak-hak setiap ana yang dilahirkan, termasuk salah satunya edukasi, dapat terpenuhi.
"Itu perlu perhatian. Oleh karena itu, nanti kita bersama-sama edukasi bareng-bareng," ucap Wihaji.
Ia juga menjelaskan, salah satu intervensi berupa pemberian asupan gizi melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga terus dilakukan, sambil memperhatikan penyebab stunting lainnya yakni asupan gizi, sanitasi, air bersih, dan pernikahan dini.
"Air bersih di Cianjur ini oke, pernikahan dini tadi saya cek, hampir 20 tahun. Undang-Undang memang 19 tahun, saran kita sih 21 tahun, tetapi itu oke, kemudian, kemungkinan (penyebab stunting) yang lain yakni karena mandi, cuci, kakus (MCK) yang jadi satu dengan dapur, rumah terbuka, itu bagian yang kita bantu," ujarnya.
Baca juga: Program Genting hadirkan harapan baru bagi keluarga berisiko stunting
Oleh karena itu, Wihaji mengemukakan Kemendukbangga/BKKBN bekerja sama dengan berbagai pihak memberikan bantuan bedah rumah senilai Rp25 dan Rp50 juta untuk dua keluarga berisiko stunting di Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur.
"Itu bagian dari pemerintah hadir untuk memastikan keluarga berisiko stunting kita bantu, walaupun tentu tidak semuanya bisa langsung, karena saya melihat ada prioritas dan super-prioritas. Saya meyakini, menyelamatkan satu orang sama dengan menyelamatkan satu generasi karena nasib mereka ke depan tidak ada yang tahu. Sekarang, mungkin belum beruntung, tapi suatu saat mereka (anak-anak berisiko stunting) bisa menggantikan kita-kita ini," demikian Wihaji.




