Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali membawa kabar membanggakan. Mereka berhasil mengidentifikasi dua spesies ngengat baru yang berstatus endemik Indonesia, tepatnya dari wilayah Papua dan Sulawesi.
Penemuan dari famili Crambidae ini merupakan hasil riset mendiang Hari Sutrisno dan Rosichon Ubaidillah (Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN). Temuan mereka telah resmi dipublikasikan dalam jurnal internasional bergengsi, Raffles Bulletin of Zoology edisi Februari 2026.
Dua spesies ngengat pemakan tumbuhan ini dinamai Glyphodella fojaensis dan Chabulina celebesensis. Kehadiran keduanya semakin mengukuhkan posisi Indonesia sebagai surga keanekaragaman hayati dunia.
Lantas, apa keistimewaan dari dua serangga nokturnal ini?
Penghuni Pegunungan Foja dan Hutan SulawesiNgengat Glyphodella fojaensis ditemukan hidup di hutan tropis primer di kawasan Pegunungan Foja, Papua. Fakta menariknya, catatan jurnal menyebut bahwa ini adalah satu-satunya spesies dari genus Glyphodella yang pernah ditemukan di Indonesia.
Sementara itu, Chabulina celebesensis merupakan spesies endemik yang bermukim di hutan sekunder tropis Sulawesi. Ngengat ini tersebar di wilayah Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, hingga Sulawesi Utara.
Penentuan sebuah spesies baru dalam dunia entomologi (ilmu serangga) membutuhkan ketelitian tinggi. Rosichon Ubaidillah menjelaskan, kedua spesies ini memiliki karakter morfologi yang sangat khas, terutama jika dilihat dari pola sayap dan struktur genitalia (organ reproduksi).
"Glyphodella fojaensis memiliki ciri berupa bercak kuning berbentuk bulat pada sayap depan. Sementara Chabulina celebesensis dapat dikenali dari pola garis pada sayap (berwarna putih) dan bentuk genitalia yang khas," ujar Rosichon dalam keterangannya, Selasa (3/3).
Pengamatan menggunakan mikroskop resolusi tinggi menunjukkan bahwa struktur genitalia jantan pada Chabulina celebesensis menyerupai huruf 'V', yang membedakannya secara mutlak dari spesies kerabatnya. Karakter ini menunjukkan adanya keunikan evolusi dan adaptasi serangga tersebut terhadap habitat aslinya.
Penemuan membanggakan ini pun bukanlah hasil kerja semalam. Tim BRIN melakukan survei lapangan panjang menggunakan perangkap cahaya (light trap) di Papua dan Sulawesi sejak 2002 hingga 2017.
Seluruh spesimen ngengat tersebut kini disimpan dan didokumentasikan di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) di Cibinong sebagai koleksi nasional.
Meski menjadi kabar baik bagi ilmu pengetahuan, BRIN turut menyuarakan peringatan terkait masa depan kedua ngengat ini. Statusnya yang sangat endemik (hanya hidup di satu wilayah tertentu) membuat mereka rentan terhadap kepunahan akibat kerusakan habitat.
"Diperlukan upaya perlindungan ekosistem hutan di Papua dan Sulawesi agar spesies-spesies endemik ini dapat terus lestari dari ancaman deforestasi dan degradasi lingkungan," pungkas Rosichon.




