Jakarta, ERANASIONAL.COM – Produsen otomotif asal Jepang, PT Honda Prospect Motor (HPM), menegaskan komitmennya dalam memperluas lini kendaraan elektrifikasi di Indonesia. Perusahaan tersebut memastikan akan meluncurkan satu mobil listrik murni atau battery electric vehicle (BEV) serta melakukan penyegaran terhadap dua model hybrid pada 2026. Langkah ini menjadi bagian dari peta jalan jangka panjang Honda menuju target net zero emission secara global.
Sales & Marketing and After Sales Director HPM, Yusak Billy, menyampaikan bahwa strategi elektrifikasi Honda dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan pasar domestik. Menurutnya, fokus jangka pendek masih berada pada penguatan model hybrid, sembari mempersiapkan infrastruktur dan ekosistem kendaraan listrik murni di Tanah Air. Ia menjelaskan bahwa dua model hybrid yang sudah dipasarkan akan mendapatkan penyegaran, sementara satu model BEV benar-benar baru akan diperkenalkan pada 2026.
Komitmen tersebut selaras dengan target global Honda untuk mencapai net zero emission pada seluruh lini produk pada 2040 dan keseluruhan operasional perusahaan pada 2050. Target ambisius itu bukan sekadar slogan, melainkan arah transformasi industri otomotif yang kini tengah bergerak menuju elektrifikasi dan efisiensi energi. Dalam konteks Indonesia, strategi ini juga menyesuaikan kebijakan pemerintah yang mendorong percepatan adopsi kendaraan listrik melalui berbagai insentif fiskal.
Sinyal paling kuat datang dari kemunculan model listrik kompak yang diduga merupakan Honda Super One. Model tersebut sebelumnya diperkenalkan secara global dalam ajang Japan Mobility Show pada Oktober 2025, lalu kembali dipamerkan di Tokyo Auto Salon dan Singapore Motor Show pada awal 2026. Kehadiran mobil ini di berbagai pameran internasional menunjukkan keseriusan Honda dalam memasarkan kendaraan listrik berukuran ringkas yang menyasar konsumen urban.
Di Indonesia, indikasi kehadirannya semakin kuat setelah kode kendaraan listrik baru terdaftar dalam laman Informasi Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB) Provinsi DKI Jakarta. Kode JG6 A EV ZZE disebut-sebut mengarah pada Super One. Nilai jual yang tercantum sekitar Rp257 juta, meski angka tersebut bukan harga on the road karena belum termasuk pajak seperti PPn, PKB, PPnBM, dan BBNKB.
Meski belum ada konfirmasi resmi mengenai nama modelnya, Yusak Billy membenarkan bahwa unit tersebut telah menjalani uji jalan di Indonesia. Ia menegaskan bahwa pengujian menjadi bagian dari rencana konkret sebelum peluncuran resmi dilakukan.
Secara teknis, Super One dibekali motor listrik bertenaga 95 PS atau setara 70 kW dengan torsi puncak 162 Nm. Untuk ukuran kendaraan kompak, angka tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan mobilitas harian di perkotaan. Meski Honda belum merilis jarak tempuh resmi untuk pasar Indonesia, estimasi global menunjukkan daya jelajah mendekati 295 kilometer berdasarkan standar WLTP.
Mobil ini juga mendukung pengisian cepat DC yang mampu mengisi daya dari 20% hingga 80% dalam waktu sekitar 30 menit, dengan kapasitas baterai diperkirakan di kisaran 29,6 kWh.
Pengamat otomotif dari lembaga riset independen menyebut bahwa segmen mobil listrik kompak memiliki potensi besar di Indonesia, terutama di kota-kota besar yang menghadapi persoalan kemacetan dan polusi udara. Kendaraan listrik berukuran kecil dinilai lebih adaptif terhadap kebutuhan mobilitas jarak pendek hingga menengah, serta lebih terjangkau dibandingkan SUV listrik berukuran besar. Jika benar Super One diposisikan sebagai “Brio versi listrik”, maka Honda berpeluang memperluas basis konsumennya ke kalangan muda dan keluarga kecil.
Sementara itu, lini elektrifikasi Honda saat ini masih didominasi model hybrid seperti Step WGN Hybrid, HR-V Hybrid, Civic RS Hybrid, CR-V Hybrid, hingga Accord Hybrid. Strategi mempertahankan hybrid sebagai tulang punggung dianggap realistis, mengingat infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik di Indonesia belum merata. Hybrid menawarkan solusi transisi karena tetap mengandalkan mesin bensin dengan dukungan motor listrik untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar dan menekan emisi.
Di tengah kondisi pasar otomotif yang belum sepenuhnya pulih akibat tekanan daya beli dan dinamika geopolitik global, Honda melihat inovasi produk sebagai kunci menjaga daya tarik konsumen. Data dari Gaikindo menunjukkan bahwa pada Januari 2026, penjualan wholesales Honda tercatat 4.016 unit, sementara penjualan ritel mencapai 4.233 unit. Angka tersebut mencerminkan tantangan sekaligus peluang bagi produsen otomotif untuk menghadirkan produk yang relevan dengan kebutuhan pasar.
Dari sisi jaringan distribusi, HPM memastikan 93% wilayah Indonesia telah terjangkau oleh dealer resmi Honda. Sepanjang 2025 hingga awal 2026, perusahaan menambah 13 cabang baru guna memperkuat layanan purna jual dan meningkatkan kepercayaan konsumen. Ekspansi jaringan ini dinilai penting untuk mendukung adopsi kendaraan elektrifikasi, karena konsumen membutuhkan kepastian layanan servis, ketersediaan suku cadang, serta dukungan teknis yang memadai.
Analis industri otomotif menilai langkah Honda memperkenalkan BEV kompak dan menyegarkan model hybrid merupakan strategi adaptif menghadapi perubahan perilaku konsumen. Selain mempertimbangkan harga, konsumen kini semakin peduli terhadap efisiensi energi dan dampak lingkungan. Dengan kombinasi model hybrid dan listrik murni, Honda mencoba menjembatani kebutuhan konsumen yang masih ragu beralih sepenuhnya ke kendaraan listrik.
Ke depan, keberhasilan peluncuran mobil listrik Honda di Indonesia akan sangat ditentukan oleh strategi harga, insentif pemerintah, serta kesiapan infrastruktur pengisian daya. Jika semua faktor tersebut berjalan selaras, 2026 bisa menjadi momentum penting bagi Honda untuk memperkuat posisinya dalam peta persaingan kendaraan elektrifikasi nasional.





