Bisnis.com, JAKARTA - Bursa saham di Kawasan Asia Pasifik dibuka menguat pada perdagangan hari ini, Kamis (5/3/2026), termasuk bursa Korea Selatan.
Rebound tersebut terjadi seiring dengan sentimen perbaikan di Wall Street dan kekhawatiran atas kenaikan harga minyak di tengah konflik Timur Tengah mereda.
Dilansir CNBC, indeks Kospi Korea Selatan lompat sekitar 11% hari ini usai anjlok 12% pada perdagangan kemarin, yang menjadi penurunan terburuk dalam satu hari. Sementara, indeks untuk saham berkapitalisasi kecil, Kosdaq, juga menguat lebih dari 11%.
Di Australia, indeks S&P/ASX 200 dibuka dengan penguatan 0,38%, lalu indeks Nikkei 225 di Jepang naik 4% usai melemah 3% pada sesi sebelumnya. Kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada pada level 25.534, lebih tinggi dari penutupan terakhir sebesar 25.249,48.
Sementara itu, Bloomberg menyebutkan penguatan sejumlah bursa di Asia tersebut mengikuti kenaikan Wall Street, di mana indeks S&P 500 Index menguat 0,8% dan Nasdaq 100 naik 1,5%. Kenaikan indeks ini didukung oleh reli saham-saham teknologi jumbo.
Dukungan dari pasar saham AS memberikan sedikit kelegaan bagi para pedagang Asia usai penurunan regional yang luas pada perdagangan kemarin, karena investor terus menilai dampak perang terhadap pertumbuhan dan inflasi.
Baca Juga
- Tak Ambisius, China Bidik Ekonomi Tumbuh 4,5%-5% Tahun Ini
- Harga Emas Dunia Naik Tipis pada Hari Keenam Perang Iran vs AS-Israel
- Biaya Pengiriman Minyak AS ke Asia Melonjak Tajam
Samsung Electronics Co. dan SK Hynix Inc., perusahaan raksasa chip memimpin kenaikan pasar saham Korea Selatan, keduanya melonjak lebih dari 13%.
Otoritas Korea Selatan sempat menghentikan perdagangan program di pasar Kospi dan Kosdaq setelah harga berjangka melonjak pada pembukaan pasar.
“Mengingat kuatnya kenaikan pasar saham di Korea pada awal 2026, dan ketergantungan negara tersebut pada impor energi, tidak mengherankan jika Kospi menjadi pasar yang memimpin penurunan saham di Asia,” kata Mark Preskett, manajer portofolio senior di Morningstar Wealth.
Dia menambahkan, dukungan untuk Kospi akan terus berlanjut berkat valuasi yang menarik untuk SK Hynix dan Samsung, penerima manfaat utama dari booming kecerdasan buatan global.
Agar pemulihan dapat berkelanjutan, investor kemungkinan akan membutuhkan kejelasan yang lebih besar tentang durasi konflik dan sejauh mana konflik tersebut akan memicu inflasi.
“Kemungkinan besar, masalah geopolitik akan terselesaikan dan ekonomi terus berakselerasi,” kata Charles Lemonides, pendiri dan kepala investasi ValueWorks LLC, sebuah hedge fund yang berbasis di New York.
Presiden AS Donald Trump menyatakan keyakinannya pada kampanye militer melawan Iran meskipun jadwal operasi masih belum jelas.
Teheran menargetkan Israel dan negara-negara Teluk sementara pasukan Israel dan Amerika menindaklanjuti janji untuk mengebom target di Republik Islam tersebut. AS juga diberitakan menenggelamkan kapal perang Iran di perairan internasional.
Sementara itu, Teheran menolak laporan bahwa mereka telah menghubungi AS untuk menegosiasikan pengakhiran konflik sebagai kebohongan belaka. Sementara itu, China akan mengirimkan utusan khusus untuk urusan Timur Tengah ke wilayah tersebut untuk melakukan upaya mediasi.
Meskipun aset berisiko menghadapi "rintangan signifikan" akibat perang dan kecemasan terhadap kecerdasan buatan, kekuatan ekonomi dan pendapatan yang kuat berarti penurunan yang terjadi akan terbatas, menurut Peter Oppenheimer dari Goldman Sachs Group Inc.





