Pekan kedua Ramadhan, di lorong-lorong Pasar Tanah Abang, Jakarta, ada satu tren pakaian yang terus dicari konsumen untuk merayakan Lebaran, yaitu ”gamis bini orang”. Pedagang di Metro Tanah Abang, sentra grosir di kawasan itu, bahkan menyebut setiap hari 100–500 potong gamis bini orang ludes terjual. Tren busana terkini itu digandrungi pembeli dari seluruh Nusantara, bahkan melanglang hingga Filipina dan Malaysia.
”Sekarang yang lagi booming itu gamis dan tunik dengan bahan brokat. Namanya gamis bini orang. Sehari datang 100 pieces habis. Datang 500 juga habis,” ujar Novi, penjaga toko di kios Messy Collection, Pusat Grosir Metro Tanah Abang, Selasa (3/3/2026).
Lalu, sebenarnya apa itu gamis bini orang? Busana ini adalah pakaian perempuan panjang yang menutup seluruh bagian tangan dan kaki. Bentuknya lurus seperti daster. Yang membedakan, pada gamis bini orang terdapat outer atau lapisan luar yang terbuat dari bahan brokat. Pada beberapa model ditambahkan pula manik-manik yang membuat busana semakin semarak untuk merayakan Lebaran.
Ada model yang juga ditambah ornamen bordir di bagian dada hingga perut. Ada pula yang menggunakan aksesori ikat pinggang yang dilengkapi manik-manik di bagian perut. Dibandingkan dengan gamis polos, kombinasi brokat, bahan santili, serta detail bordir yang tegas membentuk siluet yang lebih elegan. Perpaduan itu juga memberi kesan dewasa, mapan, dan berkelas.
Di kios Messy Collection, satu potong gamis bini orang dibanderol dengan harga mulai dari Rp 165.000 hingga Rp 195.000. Namun, karena berada di kawasan pusat grosir, pembeli harus mengambil minimal empat hingga enam potong pakaian. Rata-rata pembeli yang datang ke sini adalah para tengkulak yang akan menjualnya kembali.
”Penjualan sudah mulai ramai sejak bulan lalu. Kami melayani pembeli dari seluruh Indonesia. Bahkan, ada juga pelanggan dari Malaysia dan Filipina,” tambah Novi.
Toko yang sudah berdiri sejak 1998 itu pun hanya melayani penjualan secara langsung di toko. Sejumlah pelanggan juga bisa memesan melalui aplikasi pesan singkat Whatsapp. Mereka tidak membuka toko daring seperti di platform waralaba atau lokapasar (marketplace).
Hal senada diungkapkan Lisa (42). Penjaga toko Adrian Collection itu menuturkan, gamis bini orang masih paling banyak diburu pembeli. Bisa dibilang, model itu menjadi tren Lebaran tahun ini. Di tokonya, satu potong gamis dibanderol Rp 240.000 karena kualitas bahannya yang sejuk. Pembeli harus membeli gamis tersebut dalam satu seri warna. Jika ada empat atau enam warna, semuanya harus diambil.
”Selama dua bulan ini ramai dan banyak yang mencari gamis bini orang,” jelasnya.
Selain gamis bini orang, model gamis lain yang juga muncul adalah gamis mertua, rompi lepas, dan Abaya Madinah. Nama-nama model pakaian Muslimah itu menunjukkan bahwa branding di pasar tradisional semakin kreatif dan naratif. Produk tidak hanya dijual dari kualitas bahan, tetapi juga dari karakter yang melekat pada namanya.
Toko Adrian Collection sendiri melayani pelanggan dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Surabaya di Jawa Timur, Kalimantan, hingga Aceh. Mereka juga memiliki pelanggan dari luar negeri, terutama dari negara tetangga, seperti Malaysia dan Filipina.
Dibandingkan dengan penjualan pada Lebaran tahun lalu, menurut Lisa, penjualan tahun ini sedikit lebih ramai. Meskipun tidak mengetahui angka pastinya, ia memperkirakan penjualan meningkat sekitar 50 persen. Sejumlah toko di Pusat Grosir Tanah Abang pun akan tetap buka hingga 14–16 Maret mendatang.
Dari luar gedung, para kuli angkut terlihat terus mengemas dan mengirim paket ekspedisi ke berbagai daerah. Tumpukan pakaian itu dibungkus dalam karung putih, yang di bagian luarnya ditulis alamat penerima dengan spidol hitam. Para kuli panggul menata paket-paket ekspedisi itu untuk diangkut ke dalam truk dan dikirim kepada pembeli. Alamatnya pun beragam, mulai dari Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.
Fenomena gamis bini orang bukan sekadar tren fesyen menjelang Lebaran. Lebaran sebagai momen memperbarui identitas, memperlihatkan status sosial, serta membuat keluarga tampil serasi dengan pakaian kompak menunjukkan bahwa fesyen adalah bahasa sosial, bukan sekadar kebutuhan religius.
Tanah Abang pun selalu menjadi panggung fesyen Muslim tersebut. Di balik selembar brokat dan santili, ada cerita tentang harapan, tentang ekonomi yang kembali bergerak, dan tentang bagaimana sebuah istilah sederhana—gamis ”bini orang”—mampu menggerakkan perekonomian di pusat tekstil terbesar di Asia Tenggara.





